Trending Topic
Seluk Beluk Perizinan Syuting di Luar Negeri

30 Mar 2016


Beberapa tahun lalu, kritikus film Krisnadi Yuliawan Saptadi, saat menghadiri sebuah acara film di Tokyo, Jepang, ia bertemu dengan Garin Nugroho dan mereka sempat jalan-jalan keliling kota. Di salah satu sudut kota, mereka menemukan empat orang yang terdiri dari sutradara, cameramen, dan dua bintang film wanita dan pria tengah syuting. Rombongan tersebut berasal dari India.

“Saat itu Garin sempat berkomentar, ‘Lihat mereka. Kamera yang digunakan bukan kamera canggih dan hanya syuting berempat saja, tapi di negerinya sana (India-red) publikasi di koran lokal sudah besar-besaran. Syuting di Jepang,’” cerita Krisnadi, mengutip kata-kata Garin.

Menurut Krisnadi, ini menunjukkan satu hal bahwa di negara mana pun, syuting di luar negeri bisa dijadikan bahan jualan atau marketing yang menarik. Sebab, negeri lain selalu dianggap eksotis dan memang tidak banyak orang yang bisa pergi ke sana. 

Maka tak heran jika sineas Indonesia pun berbondong-bondong memindahkan layar kamera mereka untuk membidik potensi keindahan negara lain. Apalagi jika memang perizinan untuk syuting di luar negeri itu terbilang lebih mudah dan murah dibandingkan syuting di dalam negeri. Meskipun sebenarnya, potensi keindahan dalam negeri saja masih belum banyak dieksplorasi.

Salah satu sutradara Indonesia yang kerap melakukan syuting di luar negeri, Danial Rifky, menilai lokasi syuting film di luar negeri masih menarik bagi penonton Indonesia. Harus diakui, di mana-mana orang lebih senang jika bisa menyaksikan apa yang tidak pernah dilihat sehari-hari. “Pesona sebuah film ketika berada di ruang bioskop adalah jika film tersebut menyuguhkan sesuatu yang tidak pernah kita alami,” kata Danial.

Setelah sempat syuting film La Tahzan di Jepang pada tahun 2013, Danial kembali menyutradari film bergenre religi berjudul Haji Backpacker yang syutingnya berlangsung di 9 negara. Film yang rilis pada Oktober 2014 ini bercerita tentang perjalanan inspiratif Mada (Abimana Aryasatya) melintasi 9 negara melalui darat menuju Mekah. Danial melakukan syuting selama 2 bulan di Thailand, Laos, Vietnam, Nepal, India, Iran, dan Arab Saudi. 

Beberapa kali syuting di luar negeri, Danial menemukan faktor bahasa sebagai tantangan terbesar. Apalagi jika berada di negara yang film maker-nya masih belum dianggap memenuhi standar internasional dan tidak mampu berbahasa Inggris. “Komunikasi menjadi kendala. Banyak kru filmnya tidak mengerti dengan istilah film,” ungkap Danial.

Masalah lainnya, menurut Danial adalah soal perizinan. Untuk syuting di luar negeri, tentunya harus mengurus izin terlebih dahulu. Dan bisa jadi tidak mendapatkan izin. “Ketika syuting Haji Backpacker, Thailand menjadi tempat terakhir untuk syuting, sebab izinnya tidak kunjung keluar,” katanya.

Meski begitu, diakui Danial mengurus perizinan untuk syuting di luar negeri terbilang mudah karena cukup lewat satu pintu saja. Sudah ada badan yang ditunjuk, misalnya Departemen Kebudayaan atau Pariwisata. 

Hal inilah yang menurut Danial belum terjadi di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya ketika syuting di dalam negeri, dibutuhkan izin yang berlapis, mulai dari keamanan setempat, pihak kepolisian, bahkan RT atau RW. “Yang orang pikir izinnya mudah, ternyata tidak,” kata pria yang ingin tetap mengeksplorasi Indonesia ini.  

Krisnadi melihat ini sebagai problematika dalam perfilman Indonesia yang belum terselesaikan, bersama dengan masalah mendasar lainnya. Belum adanya kemudahan bagi sineas film dalam negeri untuk melakukan syuting di tempat-tempat eksotis di dalam negeri. “Bagaimana Indonesia membuka perizinan untuk film-film asing yang ingin syuting di dalam negeri, jika masalah perizinan saja masih belum jelas,” ungkapnya.  (f)


Faunda Liswijayanti


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?