Foto: pixabayCOVID-19 telah banyak mengubah kehidupan sehari-hari. Murid tak lagi bersalaman dengan guru, kekasih tak lagi bergandengan tangan, kebiasaan cipika cipiki antar teman pun ditinggalkan. Setidaknya untuk sementara waktu ini. Anjuran physical distancing dan peraturan PSBB terasa makin berat bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga, sahabat, atau orang yang dikasihi, apalagi jika itu karena korban COVID-19.
Setiap kepercayaan dan kebudayaan memiliki kebiasaan dan ritual berduka. Entah itu memandikan, mengadakan doa bersama, atau mengadakan jamuan makan. Di balik kepercayaan yang dianut, secara psikologis ritual dan kebiasaan itu memiliki manfaat dan makna lain, yaitu saling berbagi rasa.
Saat ini kebiasaan dan ritual berduka ikut disesuaikan dengan situasi. Perkumpulan dibatasi, memeluk orang lain dan mengusap air mata pun riskan. Untuk datang pun belum tentu diijinkan keluarga jika termasuk kelompok rentan COVID-19. Lebih sulit lagi jika yang meninggal dunia karena dicurigai atau positif COVID-19. Sesuai prosedur yang berlaku, keluarga dan sahabat hanya bisa mendengar berita tanpa bisa melihat dari dekat, bahkan sama sekali tidak bisa menerima tamu untuk menggelar doa bersama. Bisa dikatakan, kehilangan orang yang disayangi saat ini memberi kesedihan terasa berlipat-lipat lebih berat.
Doa, pelukan, dan tepukan di tangan yang pada kondisi normal dilakukan merupakan salah satu yang memberi penghiburan bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan. Kedekatan fisik dengan orang-orang yang sama-sama berduka akan membuat tubuh memproduksi hormon yang memberi rasa nyaman seperti oksitosin, dopamin, dan serotonin.
Dikutip dari American Psychological Association, saat kita tidak bisa hadir untuk melihat untuk kali terakhir dan melepas ke tempat peristirahatan abadi, akan muncul perasaan kehilangan yang ambigu, bahkan terkadang menimbulkan frustasi dan perasaan tak berdaya.
Apa yang bisa dilakukan?
# Jika ini terjadi pada Anda, beri Anda waktu untuk mengenang dan mengatasi rasa kehilangan akan orang yang Anda sayangi.
# Perhatikan dan rawat diri. Anda boleh berduka, tapi tetap harus makan, minum, mandi, beribadah di rumah, dan beristirahat.
# Syok, tidak percaya, menyesal, dan sedih karena kehilangan yang tiba-tiba dan tidak bisa hadir di momen terakhir orang yang Anda sayangi adalah hal yang wajar. Tidak semua orang sama menghadapi kehilangan. Jangan ragu untuk mencari dukungan moral dan penghiburan dari orang lain dengan menceritakan dan mengungkapkan apa yang Anda rasakan.
# Menulis ucapan perpisahan dan mengenang momen bahagia dengan mendiang di media sosial bisa sedikit menggantikan ucapan perpisahan yang tak bisa dilakukan.
# Jika kehilangan ini terjadi pada teman atau kerabat, beri dukungan dengan ucapan dan berdoa bersama melalui bantuan teknologi, misalnya. Beri bantuan kebutuhan sehari-hari mereka, seperti yang biasa dilakukan untuk membantu keluarga atau tetangga yang berduka pada kondisi normal. Dan, yang terpenting, jangan memberi stigma pada keluarga korban COVID-19. (f)
Baca Juga:
Infeksi COVID-19 Telah Menyebar di 34 Provinsi, Disiplin Kolektif Masyarakat Perlu Ditingkatkan
Bukan Cuma Melindungi Dari Virus, Ini Sisi Psikologis Memakai Masker
Stigma, Buntut COVID-19 Yang Bisa Merugikan
Topic
#corona, #covid19


