Sex & Relationship
Kisah Tiga Pria, Adil Berbagi Peran Domestik dengan Pasangan

14 Jul 2018



2/ Sogi Indra Duaja, Penyiar Radio: Hubungan Kasual yang Sejajar

Menjalani hubungan yang ‘setara’ bukan hal baru dalam hubungan saya dengan istri, Iestikomah Mattjik. Bahkan sejak awal kami pacaran di bangku kuliah, saya tidak pernah merasa bahwa saya harus lebih tinggi posisinya dibanding Iis atau lainnya. Hal tersebut juga kami terapkan untuk urusan domestik.

Bukan hal yang tabu bagi saya untuk mengurus berbagai hal rumah tangga. Mulai dari bersih-bersih rumah, belanja ke pasar, antar jemput anak, ajarin anak belajar hingga gantian ke acara pertemuan orang tua di sekolah anak. Tidak ada pembagian bahwa ini harus dikerjakan oleh suami, atau ini harus dikerjakan oleh istri.

Alih-alih menyebutnya sebuah hubungan yang setara, saya lebih suka jika ini disebutnya hubungan yang fleksibel. Dalam arti, apa yang bisa saya kerjakan ya saya kerjakan, begitu juga dengan istri, tanpa harus bergesekan dengan peran gender. Secara natural kami menjalani hubungan fleksibel seperti ini karena memang sudah biasa melakukannya sejak awal berpacaran.

Di sisi lain, saya juga tahu bahwa istri saya sangat tidak betah untuk diam. Bahkan dari zaman kuliah dia sudah bekerja. Maka ketika kami menikah, dia ingin bekerja, bukanlah sebuah masalah. Saya juga tak segan membantu Iis memberikan masukan untuk pekerjaannya. Malah saya sangat menanti-nanti kapan istri saya bisa naik ke jenjang berikutnya, karena ini sudah masuk tahun ke-15 sebagai communication officer di salah satu perusahaan minyak dan gas.

Saya pasti sangat senang jika bisa melihat lis meraih karier setinggi-tingginya, sesuai seperti apa yang dia impikan. Melihat kebahagiaan ketika dia achieve sesuatu di lingkungan pekerjaan, juga menjadi kebahagiaan buat saya. Karena ketika dia sukses, maka saya juga ikut bangga karena punya istri yang sukses.

Kadang, karena penghasilan saya sangat bergantung pada proyek yang sedang dikerjakan, maka dalam beberapa kondisi tertentu saya harus bergantung pada Iis. Saya tak lantas merasa malu, karena toh ketika Iis butuh dukungan finansial lebih, saya juga siap membantu. Tidak ada merasa tersaingi atau ego yang tersakiti.


 
Foto: Dok. Pribadi

Bentuk dukungan lainnya juga saya lakukan ketika istri sedang hamil, saya ikut belajar untuk mempersiapkan rencana memberikan ASI eksklusif kepada anak-anak kami. Bahkan saya sampai ikut komunitas Ayah ASI sebagai bentuk keseriusan saya mendukung langkah istri. Namun memang, langkah saya ini ternyata ditanggapi beragam, ada yang merasa aneh kenapa saya mau terlibat dalam hal-hal ‘urusan wanita’, tapi ada juga yang menganggap bahwa saya hanya sekadar pencitraan sebagai seorang selebritas.

Tapi saya tidak mengelak bahwa itu juga langkah pencitraan, karena saya ingin mencitrakan diri saya sebagai ayah dan suami yang mendukung istrinya untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak-anaknya. Karena sebenarnya menjadi Ayah ASI juga turut mempererat bonding saya dengan istri dan anak-anak. Tentu kesetaraan gender terjadi dalam kegiatan Ayah ASI. Selama ini kita pikir bahwa dengan memberikan ASI dan
memperkuat bonding dengan anak itu hanya tugas wanita, padahal ini salah besar.

Menurut saya, ketidaksetaraan gender terjadi karena budaya kita masih menganut patriarkal. Dan kami cukup beruntung tumbuh di lingkungan dengan budaya yang mengindahkan kesetaraan itu. Di dalam rumah tangga, kami berusaha sebisa mungkin menolak budaya yang menyebabkan gesekan gender. Salah satunya adalah dengan membiasakan anak-anak, Sam Ahsan Ogitomo (8) dan Mindy Fathina (6) melihat bahwa antara pria dan wanita itu sama hebatnya, sama-sama berhak mendapatkan kesempatan apa pun di luar sana.

Sebenarnya tak ada trik khusus untuk mengajarkan mereka tentang hal itu, hanya saja semoga apa yang saya dan Iis terapkan di rumah cukup baik untuk dijadikan panutan tentang bagaimana seharusnya kesetaraan
gender terjadi. Kadang, ketika saya menjalani gaya hidup yang ‘setara’ dengan istri, ada saja orang yang komentar bahwa seharusnya tidak seperti itu menjalankan sebuah relasi suami-istri.

Mereka bilang ‘suami itu harus memimpin, lebih berwibawa dibandingkan istri dan lain sebagainya’. Hal yang bisa saya lakukan hanya tersenyum dan saya tidak merasa terganggu dengan hal ini. Karena toh saya justru merasa bahagia menjalani kehidupan yang seperti ini.


Selanjutnya: 3/ Sentot Joko, Pengusaha/Komisaris 3 Perusahaan:  Jadi Saling Mengisi
 


Topic

#pernikahan, #masalahpernikahan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?