Profile
Sakdiyah Maruf : Komika Wanita yang Berlelucon dengan Misi Penting

20 Dec 2020



Dok. Femina Media




BERLELUCON DENGAN MISI PENTING
Kepiawaiannya dalam menyampaikan kritik sosial tentang keadilan, kesetaraan, dan Islam ekstrem yang dikemas dengan lelucon jenaka di atas panggung hingga mengemas pesan-pesan itu, mengantarkannya menyabet penghargaan bergengsi dari Amnesty International, Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent di Oslo, Norwegia tahun 2015. Bagi wanita yang akrab dipanggil Diyah ini, stand-up comedy adalah panggungnya untuk berekspresi. 

Dengan mendapatkan reaksi negatif, apa yang memotivasi untuk tetap berkarya?
Ada beberapa hal. Pertama, perempuan itu haknya seperti dalam film-film Hollywood ketika ada orang ditangkap polisi, yaitu ‘you have the right to remain silent’. Jika saya yakini apa yang akan saya katakan adalah benar - berdasarkan riset dan pengalaman pribadi - maka saya harus bicara.

Kedua, ini adalah dedikasi untuk ibu saya yang tidak bisa menuntaskan mimpinya untuk menjadi seorang pelakon teater setelah menikah. Setidaknya apa yang tidak diselesaikan beliau, bisa saya lanjutkan.

Lainnya, mungkin dengan saya terus berkarya, siapa tahu ada seorang anak perempuan dari lingkungan yang membuatnya tertekan, melihat apa yang saya sampaikan bisa terinspirasi. Saya rasa jika itu terjadi, misi saya tercapai. Kita tidak pernah tahu.


Momen paling berkesan?
Ketika membahas lelucon tentang islamofobia di sebuah acara The Chaser Lecture di Australia, saya dihujani tepuk tangan saat turun panggung. Tapi di sela-sela tepuk tangan saya didatangi oleh seorang pelayan perempuan. Saya rasa, dia adalah seorang muslim karena wajahnya yang seperti orang Timur Tengah. Dia mengucapkan terima kasih kepada saya karena telah membahas tentang islamofobia, yang memberikan perspektif yang berbeda pada dunia terhadap orang-orang muslim.

Semua riuh tepuk tangan dari penonton tidak lagi seberharga apa yang disampaikan oleh pelayan tersebut, yang mungkin juga menghadapi perjuangan yang berat ketika hidup sebagai muslim di negara yang mayoritas non-muslim. Ketika ternyata apa yang saya sampaikan bisa begitu berharga bagi satu orang saja, itu sebuah kebahagiaan untuk saya.


Apakah ada ritual khusus sebelum manggung?
Doa saja. Saya juga berdoa semoga apa yang saya sampaikan di panggung - baik yang sudah direncanakan atau tiba-tiba muncul - adalah memang yang ingin Tuhan sampaikan, sehingga baik itu responnya positif atau negatif, dampaknya baik. 

Apa sih yang membedakan Anda dengan komika lainnya?
Mungkin orang berpikirnya saya tipikal komika yang suka menyentil isu-isu yang kontroversial. Tapi sebenarnya saya hanya menyampaikan pengalaman-pengalaman yang pernah saya rasakan saja. 

Kalau saya bisa mengidentifikasi tentang diri saya sendiri, mungkin saya apa adanya, tajam dan
with a mission. Ada beberapa momen yang mungkin saya kelihatan culun di panggung, tapi apa yang tersampaikan ke audiens adalah sesuatu yang tulus. Sedangkan misinya, semoga di luar sana ada satu orang saja anak perempuan yang terinspirasi dengan apa yang saya katakan dan dia bisa menginspirasi anak perempuan lainnya.

Nama ‘Sakdiyah’ jadi tidak penting lagi. Tapi ketika ada orang yang melakukan sesuatu karena melihat saya dan ia berusaha menginspirasi orang lain, itu jauh lebih penting. (f)



BACA JUGA :

Mengenal Kamala Harris, Wakil Presiden Wanita dan Kulit Hitam Pertama Amerika Serikat
Kyoko Shimada, Desainer Mobil Wanita Pendobrak Stereotip
Gina S. Noer : Menjadi Sutradara yang Baik Adalah dengan Menjadi Ibu yang Baik



 


Topic

#SakdiyahMaruf, #HariIbu

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?