Status jomblo bisa bikin si cuek jadi sensitif dan si mellow jadi super sensi. Kalau nggak mau dicap nyinyir, sok tahu, reseh dan cap jelek lainnya, saring kalimat Anda saat bicara dengan si jomblo, teman…. Kita: “Jodoh akan datang saat kamu nggak menyadarinya, kok!”
Si jomblo: “Nggak masuk akal, deh. Justru saya, kan, berusaha membuka mata, mencari cowok yang mungkin bisa bikin saya tertarik. Lagi pula, mana mungkin cuek soal jodoh, sih, jika usia sudah mendekati 30.
Kita: “Tenang saja. Masih banyak ikan di laut.
Si jomblo: “Saya juga tahu masih banyak cowok keren di luar sana, nggak perlu sok bijak mengingatkan, deh…”
Kita: “Kok, kamu masih jomblo, sih?”
Si jomblo: “Pertanyaan aneh. Saya jomblo tentu karena belum bertemu cowok yang tepat atau mau mengajak pacaran. Kalimat seperti ini secara nggak langsung mengatakan bahwa status jomblo, tuh, ibarat penyakit langka yang hanya menimpa orang paling malang di dunia.”
Kita: “Kamu terlalu pemilih, sih.”
Si jomblo: “Hello… namanya juga milih teman sehidup-semati, ya, harus dipilih dengan benar, dong. Kalimat ini seolah membuat saya terkesan nggak realistis dan terlalu mengada-ngada dalam membuat kriteria pasangan.
Kita: “Suatu saat pasti akan datang seseorang yang paling tepat untukmu.”
Si jomblo: “Ah… basi!”
Kita: “Sudahlah, nikmati saja kesendirianmu.”
Si jomblo: “Kamu, sih, enak. Tiap malam minggu bisa nonton dan ke mal bareng pacar. Sedangkan saya, kalau nggak bareng sahabat, ya, dengan keluarga. Bosan, nih.” CC


