Saat menjalin hubungan dengan seseorang, tentunya kita berharap bisa melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun sebelumnya, ada beberapa hal, tuh, yang harus dicek, seperti yang berikut ini….
Update perkembangan
Kita dan pasangan saling menceritakan perkembangan masing-masing tiap kali bertemu—bahkan saat berkomunikasi via messanger. Intinya, sih, kita nggak canggung menceritakan kejadian-kejadian yang dialami. Mulai dari promosi di kantor—yang menyebabkan gaji kita lebih tinggi dari si dia, hingga kedatangan sepupu dari luar negeri.
Bersedia mendengarkan
Kita maupun pasangan sama-sama saling mendengarkan saat salah satu curhat. Dengan kata lain, sabar menunggu hingga dia selesai bicara sebelum memberikan masukan atau pendapat—jadi nggak asal memberi penilaian. Dia merasa lega setelah cerita, sekaligus tenang pasca mendengar masukan. Begitu juga sebaliknya.
Memahami perasaan
Maksudnya, nih, kita bisa tahu dia sedang sedih atau bete hanya dengan melihatnya pada pandangan pertama. Ini juga berlaku saat dia memandang kita. Dengan memahami perasaannya, kita maupun dia pun tahu bagaimana cara memperlakukannya satu sama lain—bersikap lembut atau heboh.
Memiliki tujuan yang sama
Kita ingin memiliki rumah yang dapat menampung banyak anak, begitu juga dia—meski kita belum membahasnya bersama-sama. Atau, dia punya keinginan untuk keliling dunia begitu pensiun, sama seperti kita. Dengan adanya misi yang serupa, kita dan si dia akan makin jarang bertengkar, tuh.
Kenal bahasa cintanya
Tiap orang menunjukan bahasa cintanya dengan cara berbeda-beda. Kita mungkin tipe orang yang mengekspresikannya dengan kata-kata, sedangkan dia melalui tindakan. Misalnya, membelikan buku incaran kita meski kita nggak memintanya, atau mengantarkan kita ke bandara di dini hari meski setelah itu dia harus pergi bekerja. Artinya, kita nggak menuntut dia berkata ‘I love you’ terlalu sering karena tahu bentuk cintanya berbeda.
Update perkembangan
Kita dan pasangan saling menceritakan perkembangan masing-masing tiap kali bertemu—bahkan saat berkomunikasi via messanger. Intinya, sih, kita nggak canggung menceritakan kejadian-kejadian yang dialami. Mulai dari promosi di kantor—yang menyebabkan gaji kita lebih tinggi dari si dia, hingga kedatangan sepupu dari luar negeri.
Bersedia mendengarkan
Kita maupun pasangan sama-sama saling mendengarkan saat salah satu curhat. Dengan kata lain, sabar menunggu hingga dia selesai bicara sebelum memberikan masukan atau pendapat—jadi nggak asal memberi penilaian. Dia merasa lega setelah cerita, sekaligus tenang pasca mendengar masukan. Begitu juga sebaliknya.
Memahami perasaan
Maksudnya, nih, kita bisa tahu dia sedang sedih atau bete hanya dengan melihatnya pada pandangan pertama. Ini juga berlaku saat dia memandang kita. Dengan memahami perasaannya, kita maupun dia pun tahu bagaimana cara memperlakukannya satu sama lain—bersikap lembut atau heboh.
Memiliki tujuan yang sama
Kita ingin memiliki rumah yang dapat menampung banyak anak, begitu juga dia—meski kita belum membahasnya bersama-sama. Atau, dia punya keinginan untuk keliling dunia begitu pensiun, sama seperti kita. Dengan adanya misi yang serupa, kita dan si dia akan makin jarang bertengkar, tuh.
Kenal bahasa cintanya
Tiap orang menunjukan bahasa cintanya dengan cara berbeda-beda. Kita mungkin tipe orang yang mengekspresikannya dengan kata-kata, sedangkan dia melalui tindakan. Misalnya, membelikan buku incaran kita meski kita nggak memintanya, atau mengantarkan kita ke bandara di dini hari meski setelah itu dia harus pergi bekerja. Artinya, kita nggak menuntut dia berkata ‘I love you’ terlalu sering karena tahu bentuk cintanya berbeda.


