
Foto: Pixabay
Berdasarkan data Survei Ekonomi dan Nasional Badan Pusat Statistik 2018 menunjukkan bahwa masih ada 27% rumah tangga di pedesaan yang tidak memiliki jamban sendiri. Sekitar 30% rumah tangga di pedesaan tidak memiliki tangki septik sebagai tempat akhir pembuangan tinja. Bahkan 22% rumah tangga di pedesaan terbiasa mengubur tinja di dalam lubang tanah.
Padahal, kualitas sanitasi yang buruk memberikan dampak bagi kesehatan keluarga, utamanya pada bayi dan anak. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab stunting atau keadaan di mana anak tidak dapat tumbuh dengan normal karena faktor kekurangan gizi atau lingkungan. Data Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan bahwa satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting, dengan jumlah mencapai tujuh juta jiwa.
Dokter Twinda Rarasati mengantakan bahwa selain karena gangguan nutrisi di awal seribu hari kehidupan anak, sanitasi buruk di sekitar lingkungan tumbuh anak juga bisa menjadi faktor terjadinya stunting.
“Anak bisa rentan terkena infeksi atau diare yang dapat membuat energi untuk tumbuh kembang menjadi teralihkan," kata dr. Twinda Rarasati dalam acara Amartha Impact Talk di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kualitas sanitasi yang berdampak kepada stunting secara tidak langsung mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa anak penderita stunting, ketika tumbuh dewasa akan berpenghasilan 20% lebih rendah daripada anak yang tumbuh optimal. Masalah stunting di Indonesia juga menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp300 Triliun.
Untuk turut serta mengatasi masalah sanitasi, maka PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha, perusahaan fintech peer-to-peer lending berkolaborasi dengan Rumah Zakat meluncurkan program “Desa Sejahtera Amartha”. Kolaborasi ini merupakan upaya untuk memperbaiki masalah sanitasi dengan membangun sumber air bersih dan sarana sanitasi untuk masyarakat di pedesaan.
Aria Widyanto, Chief Risk and Sustainability Officer Amartha mengatakan bahwa masih banyak masyarakat di desa belum memiliki pengetahuan dan fasilitas yang menunjang untuk sanitasi. Tanpa disadari hal ini kerap menyebabkan mereka rentan terhadap penyakit.
“Melalui kolaborasi Amartha dan Rumah Zakat, kami akan membantu memenuhi persediaan sumber sumber air bersih dan sarana sanitasi umum dengan membangun water well komunal, serta mengedukasi tentang pentingnya sanitasi. Harapannya dengan sanitasi yang baik, masyarakat dapat hidup lebih sehat dan produktif,” kata Aria.
Pada tahap pertama, program Desa Sejahtera Amartha akan dijalankan di tiga desa binaan Amartha di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Sumber air bersih dan sanitasi yang dibangun akan memenuhi kebutuhan sanitasi 400 jiwa dari 100 keluarga.
Toilet bersama ini tidak hanya dirancang agar penduduk desa bisa mandi dan buang air dengan bersih, tapi juga menyediakan tempat khusus untuk mencuci pakaian dan perabot rumah. Sebab selama ini penduduk desa cenderung mandi, buang air, mencuci baju hingga perabotan rumah di tempat yang sama. Membuat anak dari perempuan yang sedang mengandung berpotensi menderita stunting.
Nur Effendi, CEO Rumah Zakat dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa dalam program Desa Sejahtera Amartha, tim Rumah Zakat tidak hanya memperbaiki fasilitas sanitasi, tapi juga melakukan pendampingan dengan melakukan sosialisasi agar masyarakat mau menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS). (f)
Baca Juga:
Gerakan Cegah Stunting Di Jawa Barat, Jangan Lagi Ada Anak Kerdil
Meski Masih Alami Defisit Anggaran, JKN dan BPJS Kesehatan Merupakan Sistem Asuransi Terbesar di Dunia
Topic
#sanitasi, #stunting



