Fiction
Novelet: Esperansa (2)

21 Jul 2018


Pertanyaan itu seperti menyengatku.

“Papa baik. Menitip salam untuk kalian.” Emilia mengusap pipinya. “Antoni mana?” “Kakak kerja. Malam biasanya baru datang. Kerja di perkebunan sawit.” “Aku membawa berkarung-karung pertanyaan sejak dulu,” kata Emilia. “Tetapi, menemukan kalian nyata di hadapanku, pertanyaan-pertanyaan itu lenyap.”

Dia memandang kami bergantian. “Rasanya lega luar biasa. Oh, Carol.”

Sekarang air mataku tak terbendung. Aku melihat gerakan tulus penuh kerinduan dari Emilia saat memeluk kami. Apakah itu artinya Faustino tidak menceritakan siapa dirinya?

Mama. Tahun-tahun tanpamu begitu berat....“ Emilia menekan ujung matanya. “Tapi aku tidak pernah menangis. Sekarang, bertemu kalian air mataku malah tumpah.”

Aku tidak menampik, kami juga melalui hari-hari berat setelah jajak pendapat itu. Membawa Carolin dalam gendonganku, dan menggandeng Antoni. Saking ketakutan, aku bahkan mengikat pergelangan tangan Antoni dengan kain yang kuikat di pinggangku.

Di barak pengungsian Atambua, aku tidak berhenti lama. Begitu ada rombongan menuju Kupang, aku mengajak anak-anak bergabung bersama mereka. Kami naik kapal menuju Jawa. Aku memang pergi tidak untuk menjadi pengungsi sementara yang kemudian kembali pulang. Aku berjalan ke barat karena harus melanjutkan kehidupan. Bagiku, cukup sudah takdir kebersamaan dengan Faustino dan Emilia. Aku tahu segala risiko yang harus kutanggung.

Membesarkan Antoni dan Carolin. Ketika orang-orang memilih integrasi karena tetap ingin bergabung di bawah NKRI, aku memilih integrasi karena ingin merdeka dari tekanan batin yang dilakukan Faustino kepadaku. Aku memutuskan berhenti di Surabaya.

Kusewa kamar kecil tak jauh dari Pasar Turi. Aku melapor kepada pemilik kos dan RT setempat siapa diriku. Bukan meminta belas kasihan, aku hanya ingin menjadi warga yang baik. Semua itu sudah kupikirkan masak-masak sebelumnya. Dengan begitu, kuharap Antoni dan Carolin bisa mendapat hak pendidikan yang sama sebagaimana anak-anak Indonesia.

Benar saja, mereka menerimaku dengan ramah. Carolin diterima di SD negeri tak jauh dari tempat kos. Tapi, Antoni tidak mau sekolah lagi. Dia bersikeras ingin membantuku. Ada masa di mana tiap hari aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kerja.

Apa saja kulakukan. Dari membantu di warung, tukang sapu, mencuci setrika dari rumah ke rumah, bahkan menjadi pemulung. Hingga akhirnya aku menetap menjadi pembantu rumah tangga dengan waktu kerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Antoni kuminta menjaga adiknya di tempat kos sekaligus mengantar jemput sekolah.
 


Topic

#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?