Fiction
Cerpen: Sehelai Ilalang Buat Ibu

20 Jan 2018


“Bagaimana, Yah?” Ayah mendongakkan kepala ke barisan usuk-usuk rumah yang tak berplafon.

“Tak semudah itu, Lukman. Untuk sampai di lereng Bukit Kina, haruslah melintasi  ngarai dan hutan, lalu menyeberangi Sungai Awi dengan rakit sederhana yang tersedia di sana. Tentu sungai itu adalah sarang buaya.” Suara Ayah seperti tersedak. Ia menunduk lagi. Isak tangis kembali terdengar menubruk sunyi.

“Mungkin kamu tidak tahu, Lukman. Selama kamu berada di rumah mertuamu, sebenarnya ada beberapa wanita baru menikah bahkan ada yang didatangkan dari desa lain yang mencoba mengambil ilalang ke tempat itu. Tapi…,” suara Ayah terputus, ia terpejam, sedang rembesan air mata seperti butiran embun yang berjatuhan dari sudut matanya.

“Tapi kenapa, Yah?”

“Hanya wanita yang mengambil ilalang untuk Bi Suhra yang selamat. Sedang yang lain mati diterkam buaya.” Suara Ayah agak tertekan ke tenggorokan. Seolah tersedot. Seperti ada di puncak penghabisan suara.

Kami semua terdiam. Membiarkan segala isi hati tenggelam dalam kesunyian. Sarah menoleh ke arahku.
Sepasang matanya yang dingin seakan memberi isyarat untuk menjadi pahlawan bagi Ibu.

“Jangan, Sarah. Sekali lagi jangan.”
“Kenapa, Mas? Siapa tahu takdir saya tidak mati di sungai itu. Apa salahnya jika saya mencoba untuk mengambil ilalang itu untuk Ibu.”

“Tiga hari yang lalu aku sudah membicarakan hal itu kepada Ayah. Tapi, Ayah dan semua keluarga melarang. Kamu tidak boleh mengambil ilalang di tempat berbahaya itu.”

“Apakah Mas Lukman dan semua keluarga di sini lebih peduli kepada nyawaku ketimbang nyawa Ibu?”

“Biarlah Ibu bertemu takdirnya sendiri, seperti apa nanti ia pada akhirnya, itu sudah ketentuan-Nya.”

“Saya juga hidup dengan takdir saya sendiri, Mas. Hidup dan mati saya tak ada sangkut pautnya dengan keadaan bahaya di sekitar Bukit Kina. Jadi, izinkan saya mengambil ilalang itu buat Ibu, Mas.”

Aku bingung dan pusing. Serasa ada drum besar melesak masuk ke dalam dada. Sakit. Nyawa Ibu dan nyawa Sarah sama berartinya bagiku. Tak ada salah satu dari keduanya yang harus dikorbankan. Dada terasa sesak. Ditambah lagi dengan kenyataan tiap hari tetangga yang sakit dengan tanda lingkaran lebam hitam pada lengan kirinya satu demi satu meninggal dunia.
 


Topic

#FiksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?