MASALAH MASAKAN tim daging yang diinginkan Papa akhirnya sampai juga ke telinga keluarga di Semarang. Bude Nanik, kakak Papa, langsung terdiam saat mendengarkan keluhanku tentang selera makan Papa yang menurun drastis yang berakibat pada makin memburuknya kondisi kesehatannya. Jika biasanya Papa masih bisa jalan-jalan pagi di seputaran kompleks, sudah beberapa hari ini Papa lebih banyak baring-baring di tempat tidurnya atau duduk di beranda bercengkerama dengan Nara, putriku.
Di akhir percakapan melalui sambungan telepon itu, Bude Nanik berjanji akan segera menjenguk Papa ke Jakarta. Aku lega. Setidaknya di bawah pengawasan kakaknya sendiri, Papa bisa merasa punya kawan. Sebuah posisi yang jelas tak bisa kami –putri-putrinya-- masuki, setelah meninggalnya Mama. Lebih dari itu, barangkali Bude Nanik mengetahui resep tim daging seperti yang diinginkan Papa.
DI PENGHUJUNG minggu, Bude Nanik benar-benar muncul. Aku memeluk tubuh tambun Bude, melepas kerinduan setelah satu kali Lebaran tak bertemu. Kesehatan Papa membuatku tidak bisa menyambangi kampung halaman Lebaran lalu. Setelah saling bertukar kabar, kubiarkan kakak adik itu melepas kerinduan di kamar Papa. Kepada Nara, kuberi isyarat agar jangan mengganggu pertemuan kedua eyangnya. Nara patuh dan ikut Mas Pras menjemput Kak Mitha yang tinggal tak berapa jauh dari kediamanku. Sekitar satu jam lamanya, Bude Nanik keluar dari kamar Papa.
“Masih ada stok daging giling, Nduk?” tanya Bude Nanik. Aku bisa meraba tujuannya, buru-buru kubuka freezer dan mengambil sisa daging giling. Kali ini jelas Bude Nanik yang akan turun tangan sendiri memasak tim daging untuk adiknya itu. Seperti bocah, aku antusias melihat bagaimana Bude Nanik mengolahnya. Bude Nanik memintaku menyiapkan panci tim.
“Tata kewalahan memenuhi keinginan Papa yang satu ini, Bude. Beberapa kali memasak semua sia-sia. Papa tidak suka. Ada saja yang kurang menurutnya.” Aku membantu Bude Nanik mengupas bawang merah dan bawang putih. Bude tersenyum.
“Wajar. Kalian memang tidak familiar dengan masakan Cina peranakan seperti ini. Mamamu dulu juga tidak.” Jawaban Bude Nanik menyengat ingatanku.
“Lalu Papa, mengapa kangen masakan tim daging, jika tidak familiar? Benar kan Bude, Mama memang tidak pernah masak menu ini?” Aku mengernyitkan kening. Wajah Bude Nanik murung. Sambil mengiris bawang tipis-tipis, Bude Nanik terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Sebenarnya, papamu kangen masakan seseorang…,” suara Bude Nanik menggantung. Aku menajamkan telinga. Masakan siapa? Eyangkah? Apakah Eyang dulu sering memasak tim daging untuk Papa sewaktu Papa muda?
Topic
#fiksifemina


