<< cerita sebelumnyaKetika Abel menutup pintu di belakangnya, matanya bersirobok dengan mata Darmian, yang ia tahu telah melihat novel Hariman di tangannya. Kedua mata di balik kacamata itu menatapnya lekat.
“Apakah itu novel Hariman?”
“Ya,” Abel menjawab. “Sang Penulis.”
“Mariana bilang kau ingin membacanya tadi, sehingga dia tidak membawanya pulang. Apakah novelnya menarik?”
Satu demi satu langkah, Abel mempersempit jarak di antara dirinya dan Darmian. “Cukup berat, tapi kata-katanya indah. Tentang seorang laki-laki yang tersesat di hutan Kalimantan, kemudian bertemu dengan seorang wanita dari suku Dayak. Laki-laki itu mempelajari kehidupan tradisional mereka, dan tentu saja filosofi mereka juga.”
Raut Darmian berubah pias dan kaku, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Abel menghentikan langkahnya. Ekspresi yang ditunjukkannya pada Darmian memancarkan kepedihan dan kebencian akan fakta yang terpampang begitu nyata.
“Begitu mirip dengan setting di Tujuh Kilau Permata. Bahkan ceritanya juga hampir sama. Apa penjelasanmu?”
“Menurutmu?” Suara Darmian sedingin es. Abel seperti tertohok ketika ia balik ditanya. Tidak terbayangkan olehnya Darmian bisa berkata sedingin itu.
“Aku tidak tahu! Aku tidak ingin berpikir bahwa kau, Darmian Trisjoyo, melakukan hal serendah itu! Baik menjiplak ataupun meminta Hariman menulis novel itu sama-sama tidak masuk akal!” teriak Abel, frustrasi.
“Kalau kau berpikir itu tidak masuk akal, maka lupakanlah. Anggap tidak pernah ada,” kata Darmian. Suaranya sangat tenang. Abel membelalakkan matanya, mulutnya ternganga.
“Anggap apa yang telah kautemukan itu cuma sampah. Dengan begitu, semuanya akan kembali seperti semula.” Darmian menggerakkan kursi rodanya mendekati Abel dan segera mengambil novel Hariman dari tangannya.
Darmian membolak-balik novel itu. Ekspresinya tak terbaca. Setelah terlihat menimbang-nimbang sejenak, Darmian langsung merobek-robek setiap helainya. Helai-helai kertas pun berguguran.
“A.. apa yang kau lakukan....?”
Abel merangsek maju untuk menghentikan Darmian. Tapi, Darmian, dengan kekuatan yang tidak pernah terbayangkan oleh Abel, mendorongnya jauh. Abel kehilangan keseimbangan dan segera terjatuh.
“Aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan semua yang sudah kumiliki!” desis Darmian, mengancam. Abel merinding mendengar kekejaman yang terpatri jelas di sana. Sepasang matanya hanya mampu mengikuti gerakan tangan Darmian yang tanpa ampun mengoyak habis novel Hariman.
“Tapi, kenapa?! Bukankah novel-novelmu sangat sukses?!” teriak Abel.
“Kau benar-benar ingin tahu?” Darmian membuang novel Hariman ke lantai. Ia mendekati Abel yang mematung.
“Aku tidak tahu apakah kau pernah merasakan kegelisahan yang kualami, ketakutan yang kualami! Annabel Kesturi, penulis paling produktif abad ini! Kau harus bersyukur karena kau tidak pernah kehilangan ide untuk menulis. Tapi aku…? Mereka bilang aku berbakat! Hariman bilang aku berbakat! Tapi, sejak novel pertamaku terbit dan menjadi bestseller, aku tidak bisa menulis apa pun! Aku mandek! Aku kehilangan kemampuanku!”
Abel terperangah. Darmian tidak bisa menulis lagi setelah novel pertamanya? Abel pernah mendengar ada beberapa penulis yang mempunya kondisi kejiwaan yang sama. Setelah menerbitkan satu karya spektakuler, mereka biasanya tidak mampu lagi menulis sebagus yang pertama, dan lambat laun nama mereka hilang.
“Kau tidak tahu betapa takutnya aku waktu itu! Aku tidak ingin kehilangan ketenaran itu, tepuk tangan dan tatapan kagum orang-orang! Aku tidak mau menjadi penulis yang dilupakan begitu saja!” sergah Darmian, ketus.
“Pihak penerbit menghubungiku, terus bertanya tentang perkembangan novelku yang kedua. Aku tidak mungkin memberi tahu mereka bahwa aku cuma bisa bengong memandangi layar komputerku, bahwa aku tidak bisa membuat satu pun plot yang sempurna di kepalaku! Lalu, aku tahu Hariman dan Mariana berpacaran. Aku tidak bisa terima itu,” Darmian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Karena Hariman miskin?” Abel menjadi marah. “Kau sendiri tidak menyukai kakek nenekmu yang merendahkan ibumu hanya karena statusnya berbeda! Kenapa kau juga melakukan hal yang sama?!”
“Karena aku mencintai Mariana!” teriak Darmian. Kata-kata itu seperti gelegar petir yang menulikan telinga. Abel langsung merasa kepalanya berputar-putar dan perutnya mual.
“Mariana adikmu!”
“Adik tiri,” kata Darmian, mengoreksi.
“Selama bertahun-tahun aku mencintai Mariana tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin kehilangan dia! Tiba-tiba saja Hariman muncul dan membawanya dariku! Aku tidak bisa terima itu!”
“Lalu, apa hubungannya antara semua itu dengan novel-novelmu?” tanya Abel bingung. Semua rahasia yang terungkap terlalu mengejutkan.
“Hubungannya sangat besar,” Darmian menarik napas panjang. “Aku memberi syarat kepada Hariman. Kalau dia tetap ingin bersama Mariana, dia harus membantuku. Aku memberitahunya bahwa aku tidak bisa menulis lagi. Aku memintanya menulis untukku.”
“Ghost writer…?” tanya Abel, tak percaya. “Kau meminta Hariman menjadi ghost writer-mu?” Ini fakta yang jauh dari bayangannya.
“Ya. Hanya saja, semua ide dan plot adalah miliknya.”
Abel makin tercengang. Berarti semuanya murni hasil tulisan Hariman!
“Dia menolak mentah-mentah pada awalnya. Seperti yang kukatakan padamu, dia itu orang bodoh yang sok idealis! Aku membujuknya dengan nama Mariana. Jika dia menolak tawaranku, dia tidak akan mendapat restuku. Hariman tahu pasti Mariana tidak akan menentangku. Selain itu, aku, toh, bersikap adil dengan tetap memberinya sedikit uang dari royalti”
“Kau kejam!” pekik Abel. Ingin rasanya ia bisa memukul Darmian saat itu.
“Kejam?” Darmian menggertakkan giginya. “Itu setimpal dengan apa yang kurasakan setiap kali melihat mereka berdua bersama-sama. Dan, rasanya menjadi berkali-kali lipat lebih nikmat ketika novel-novel yang dia tulis, atas nama Darmian Trisjoyo, menjadi bestseller! Aku tetap mendapatkan apa yang kuinginkan, sedangkan dia harus puas dengan uang yang kuberikan padanya.”
“Apakah Hariman tidak pernah mengancammu untuk membeberkan semuanya?” tanya Abel, sambil memicingkan matanya. Rasa jijik memenuhi dadanya.
Darmian yang ada di hadapannya bukanlah pujaannya. Walaupun novel pertama Darmian memberinya keberanian, novel-novel yang selanjutnyalah yang telah memberinya kekuatan untuk tetap maju. Dan Hariman-lah sang penulis sebenarnya.
Darmian tertawa sinis, nyaris geli.
“Kau tidak kenal Hariman, Annabel. Kau pernah bilang dia itu murah hati, dan itu memang benar. Hariman tidak akan melakukannya; semuanya selalu demi Mariana. Tapi, kupikir dia akhirnya tidak tahan lagi. Dia meneleponku, mengajak untuk bertemu. Kami bicara panjang lebar, tapi sepertinya kata-kata ‘demi Mariana’ tidak mempan untuknya lagi. Dia bilang dia akan menikahi Mariana dan menulis novel atas namanya sendiri! Dia janji tidak akan membeberkan rahasia kami, tapi bagiku itu tidak cukup! Aku sudah mempertaruhkan semuanya! Kaupikir aku akan tinggal diam?”
“Kau berniat melenyapkan Hariman, seperti yang kaulakukan terhadap novelnya tadi?” Abel menatap Darmian lurus-lurus. Tatapannya sarat dengan kebencian.
“Aku berpikir keras sewaktu kami dalam perjalanan pulang. Tapi, lalu terjadilah kecelakaan itu. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah kecelakaan itu adalah malapetaka atau anugerah. Yang penting, Hariman lenyap, rahasiaku aman, dan aku bisa memiliki Mariana selamanya. Lalu, tawaran menulis biografi itu datang. Aku mulai berpikir mungkin Tuhan memang sayang padaku. Dan aku sangat gembira ketika mereka bilang kau yang akan menulis biografiku. Annabel Kesturi, penulis paling produktif abad ini. Ini sempurna!”
Abel benar-benar serasa ingin muntah mendengar setiap kata yang diucapkan Darmian. Darmian sudah melakukan kejahatan, dan ia harus membayar kesalahannya.
“Tapi, akulah yang telah mengetahui semua kebusukanmu! Dan aku bukan Hariman yang akan tetap diam! Aku akan melaporkanmu!” sembur Abel, berapi-api.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Vivi


