Fiction
Rafiq & Sari [3]

15 May 2012


“Hmm, anak orang kaya. Ia kelihatan tidak berpengalaman, dan ketakutan ditinggal temannya. Pria itu berjalan santai menuju Rafiq, yang sedang kebingungan, lalu menegurnya ramah.


“Malam, Mas, sedang apa?”

Rafiq merasa panas dan dingin, peluhnya mulai membasahi bajunya. “Sedang menunggu teman!”

“Oh. Mau minum, Mas?”

“Boleh. Ada minuman ringan?”

“Tunggu sebentar!”

Pria itu meninggalkan Rafiq dan membuka pintu satu kamar. Ia masuk sebentar dan keluar dengan seorang gadis muda. Ia membimbing gadis itu ke arah Rafiq dan mendorongnya dengan pelan, tapi terlihat memaksa, sehingga gadis itu terduduk di samping Rafiq. Rafiq kaget dan marah. Ia merasa dipaksa, dijebak, lalu duduk dengan setengah membelakangi gadis itu.

Dengan ragu si gadis mengulurkan tangannya. “Saya Sari.”

Rafiq tidak menyambut tangan itu. Ia hanya mengangguk hormat dengan lirikan cepat ke arah Sari. “Nama saya Rafiq,” katanya, lalu diam.

Beberapa lama Rafiq dan Sari duduk dengan sikap sama, di ujung bangku dengan kepala menunduk, tanpa bergerak, tanpa berkata apa-apa. Pria yang tadi menegur Rafiq lewat, lalu berkata pelan, “Sari!”

Gadis itu tersentak dan mengangkat kepalanya, memandang pemuda di sebelahnya. Ia melihat wajah yang kurus dengan tulang pipi tinggi, tapi diperhalus ekspresi yang lembut, rambut tebal hitam dan alis tebal, di atas mata yang tunduk, memerhatikan permukaan meja kaca, seolah di sana terdapat jawaban atas semua teka-teki kehidupan. Hidung pemuda itu lurus dan melengkung. Bibirnya melengkung manis. Bibir itu bergetar, seolah pemiliknya ketakutan. Bibir atasnya mengilap karena butir-butir peluh disorot cahaya lampu disko. Badan pemuda itu atletis, tapi tampak tegang. Tangannya berbentuk indah, tapi kuat. Tangan seorang pemusik, seorang seniman, saling memegang erat-erat, seolah ia sedang sembahyang. Secara keseluruhan, ia sangat tampan.

Ragu-ragu Sari mengulurkan tangan, meletakkannya di paha Rafiq, yang tersentak seperti teraliri listrik. Sari cepat-cepat menarik tangannya kembali.

“Minum, Mas?”

Dengan pelan Rafiq mengangkat kepala dan memandang ke arah Sari. Sari melihat bahwa bola matanya besar dan jernih, tapi warna irisnya coklat kekuningan dengan lingkaran lebih gelap, sehingga pandangannya berkesan tajam, bagaikan mata elang. Tapi, ekspresi wajahnya lembut, meski gelisah.

Rafiq melihat seorang gadis remaja, yang umurnya paling baru belasan tahun. Rambut hitam gelap jatuh sekitar kepala. Bahu dan leher jenjangnya bersinar diterpa cahaya lampu. Lengannya yang telanjang juga bersinar. Bentuk badannya terlihat jelas, meski tertutup gaun panjang, yang terbuka di bagian dada dan terbelah tinggi di paha. 

Apa yang diperlihatkan belahan-belahan itu adalah karya seni, dan Rafiq mulai gemetar. Ia lalu memerhatikan wajah ayu si gadis, dan ia kaget. Wajah lonjong yang seolah diciptakan untuk membingkai sepasang mata berbentuk biji kenari, bagaikan kolam dalam bayangan hutan, gelap dan jernih. Di atasnya, sepasang alis melengkung dengan halus. Hidung gadis itu lurus. Yang ia lihat nyaris sempurna. Tapi, wajah itu sayu.

Tuhanku, pikir Rafiq, aku berhadapan dengan seorang wanita malam. Seorang yang tidak punya kehormatan dan martabat, tidak punya malu, dan menyerahkan dirinya kepada siapa saja untuk uang. Tapi, mengapa ia muda dan jelita? Mengapa ia ada di sini? Mengapa ia da­tang kepada saya dan menawarkan minum? Bukankah iblis buruk rupanya? Dan, mengapa gadis ini kelihatan seperti mau menangis dan malu-malu?

Rafiq lalu berdoa dalam hati. Ya, Allah, jauhkan saya dari marabahaya, jauhkan saya dari setan yang dirajam, selamatkan saya dari godaan. Tapi, sambil berdoa, matanya tidak lepas dari wajah yang ayu dan sayu gadis itu. Pikirannya bagaikan daun kering ditiup angin, beterbangan ke segala penjuru.

Gadis itu tertunduk bingung di bawah pandangan elang Rafiq. “Mengapa melihatku terus, Mas,” katanya, tersipu-sipu. “Mau bir?” ia melanjutkan. 

Rafiq mengangguk tanpa mendengar apa yang dikatakan. Sari dengan lega bangun untuk mengambil bir. Karena Rafiq tidak berpengalaman, ia tidak bertanya hitam atau putih, tapi langsung menerima botol bir hitam dari bar yang langsung dibuka. Sari kembali dengan membawa botol dan gelas, lalu menuangkannya untuk Rafiq.

Untuk menutupi perasaannya, Rafiq mengambil seteguk besar dari apa yang ia kira minuman ringan dan langsung batuk. Bir dan buih menyemprot dari mulut dan hidungnya. Ia batuk tiada henti, lalu ia merasa seolah semua orang di ruangan itu memerhatikannya. Ia begitu malu sampai keringatnya mengalir.

Sari menepuk punggung Rafiq, lalu tertawa sesaat, memperlihatkan dua barisan gigi yang bak mutiara. Kembali Rafiq bertanya pada dirinya, apa yang dilakukan gadis secantik itu di sini.

Untuk menutup malunya, Rafiq minum beberapa teguk lagi. Tiba-tiba ia sadar, ia sedang melanggar suatu aturan. Namun, pada saat yang sama, ia juga sadar, rasa minuman itu tidak seburuk yang ia pikirkan. Itu kembali membingungkannya.

Sari melihat sekeliling, menggigit bibir, dan kembali menghadap Rafiq.

“Ke kamar, Mas? Biar bisa ngobrol.”

Tenggorokan Rafiq kering. Ia mencoba mengatakan sesuatu, tapi lidahnya seperti menempel pada langit-langit. Sari mengangkat botol dan gelas bir, lalu berdiri. Rafiq tidak ingin berdiri, tapi sifat sopan memaksanya untuk tidak bertindak kasar. Ia menatap Sari, yang kelihatan ‘tersesat’. 

Rafiq tiba-tiba dibakar suatu dorongan untuk ingin tahu, apa rahasia Sari sehingga ia bisa terdampar di tempat ini. Mendadak ia ingat teka-teki yang dibicarakan Wahyudi. Bagaimana bila Wahyudi benar, bahwa ia memang katak di bawah tempurung? Suka bicara tentang masyarakat ideal, tapi tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Jangan-jangan, Wahyudi ada di belakang kejadian ini.

Lalu, Rafiq mengambil keputusan. Ia ingin tahu tentang Sari, ingin memecahkan teka-teki itu. Ia tidak ingin bila nanti Wahyudi bertanya, ia hanya mengatakan bahwa ia tidak melakukan apa-apa, duduk bagai patung. Ia ingin mengatakan, meskipun dikelilingi wanita cantik, ia tetap tidak terpengaruh.

Kalau sandiwara ini memang Wahyudi yang menyutradai, ia aman. Ia mengikuti Sari ke bagian belakang rumah itu, melewati pintu terali besi tebal, dengan gerendel besi tebal yang digantungi kunci besar, naik tangga, masuk gang dengan pintu-pintu di kiri kanan, dan masuk sebuah kamar.

Jelas bahwa kamar itu kamar seorang wanita. Motif seprai bu­nga-bunga, boneka beruang berjejer di atasnya, foto-foto bintang India, dan beberapa foto diri. Rafiq memandang jejeran boneka beruang dengan bingung. Sewaktu naik tangga, ia mempersiapkan diri masuk ke kamar, seperti digambarkan dalam film yang menggambarkan kamar seorang wanita malam, serba merah. 


                                                         cerita selanjutnya >>


Penulis: Iwan Cipto


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?