<< cerita sebelumnya“Nasi gorengnya yang paling istimewa,” ucap Karen.
“Menurut televisi?”
“Yup, minuman yang paling istimewa di sini adalah wedang jahe.”
Apa?
Kuperhatikan menu lainnya, tidak ada yang menarik. Namanya saja begitu standar, tidak ada yang unik seperti tata ruangnya. Terpaksa aku ikuti menu pilihan Karen. Dan, setelah dua suap kumakan, aku menyadari bahwa nasi goreng yang dimaksud ternyata biasa saja. Jujur, masih enak nasi goreng yang dijual pedagang keliling yang sering lewat depan rumahku. Tampaknya aku harus menghubungi televisi agar mau meliput tukang nasi gorengku itu. Wedang jahe? Sama saja, rasanya persis dengan jahe pabrikan.
Kami keluar dari tempat makan dengan dua ekspresi yang berbeda. Karen terlihat bahagia dan aku merasa hampir gila. Kenapa aku lupa, Karen itu penggila nasi goreng. Jadi, apa pun bentuknya, selama itu nasi goreng, bisa dinikmatinya dengan sukacita. Kena aku kali ini.
Sampai di mobil, dalam perjalanan, kuingatkan diriku untuk suatu misi yang hampir terlupa. Alamat sudah di tangan. Jay, bersiaplah bertemu dengan tiga bidadarimu sekaligus. Banggakah kau?
“Kita ke tempat temanku sebentar, yuk.”
“Siapa?”
“Teman baru, ya, rekan kerja di kantor.”
“Siapa?”
“Namanya Siska, lucu juga anaknya. Kau pasti suka.”
“Jangan terlalu lama, ya, kasihan Jay sendirian di rumah.”
Aku tersenyum, untungnya Karen sedang menyetir, jadi dia tidak bisa melihat senyumku yang aneh ini.
“Makanya, buat anaklah, biar ramai rumah.”
“Maunya, tapi belum berhasil juga.”
Aku tersenyum. Sudah tujuh tahun Jay dan Karen menikah, tapi belum juga memiliki anak. Alasan yang pintar bagi Jay untuk mencari wanita lain, ‘kan? Kenapa Karen tidak mencari pria lain? Bukankah itu alasan yang pintar juga?
Kami tiba di alamat yang dituju. Rumah itu terlihat sepi. Benarkah ini rumahnya? Mungkinkah Siska memberikan alamat fiktif? Sepertinya tidak mungkin, pasti ada yang tidak beres.
Kubunyikan bel. Tak ada tanda-tanda orang di dalam, kami pun kembali. Kami masuk mobil dengan dua ekspresi yang berbeda, Karen terlihat bingung dan aku hampir gila karena marah.
“Ke mana lagi?” tanya Karen.
“Pulang sajalah.”
Awas kau Siska. Kau harus menerima kemarahanku!
Dan, besoknya Siska memakai baju biru dengan rok berwarna biru. Lipstik tipis berwarna bibir. Lumayan. Biar begitu, aku tetap marah. Kudatangi saja dia.
“Wah, maaf, Mbak. Aku tunggu hingga pukul delapan, tapi Mbak tidak datang juga. Jadi, kami makan di luar. Padahal, aku sudah masak. Nggak tahu kenapa, Mas Jay, maunya makan di luar.”
Oh, begitu. Setelah basa-basi sebentar, aku pun kembali ke meja. Aku jadi curiga. Jay, kalau benar pikiranku, aku salut. Kau memang buaya.
Kuangkat telepon dan menelepon Karen.
“Ya, Jay yang menyuruhku jalan dengan kamu. Katanya, kasihan kamu yang tidak pernah keluar. Ya, kupikir benar juga, sudah lama kita tidak keluar, ‘kan?” balas Karen.
Kututup telepon dan kutelepon Jay.
“Ada apa, Nad?”
“Nanti malam ke rumahku, ya.”
“Tumben?”
“Ada yang harus kita selesaikan.”
“Ayolah, Nad, kita sudah dewasa. Jangan sampai aku samakan kamu dengan Karen.”
“Santai Jay, aku tidak peduli dengan Siska atau siapa lagi yang berada di kantor ini.”
“Hanya kalian berdua, santai saja.”
“Datang tidak?”
“Ngapain?”
“Kamu tidak rindu makan di pinggir kolam?”
“Baiklah. Tapi, aku tidak menginap.”
Kututup telepon dan kutelepon Karen.
“Apa?”
“Nanti malam ke rumahku sebelum pukul setengah delapan, tidak bisa tidak.”
Kututup telepon dan kudatangi Siska.
“Nanti malam aku masak yang enak, kamu datang, ya. Tapi, sendirian saja.”
“Benar? Asyik. Tapi, bagaimana kalau pulang kerja kita pulang bersama saja?”
“Itu lebih baik. Kamu tidak harus permisi dengan Jay, ‘kan?”
“Ah, tidak perlu. Santai saja.”
Beres.
Tapi, tunggu dulu, bagaimana nasibku jika semua ini terbongkar? Apakah hubunganku dengan Karen akan berubah? Kalau hubunganku dengan Siska, aku tidak peduli. Dengan Jay? Bagaimana dengan pekerjaanku? Dia kan masih punya kuasa di kantor ini.
Apa yang kucari? Aku menikmati hubunganku dengan Jay, begitu juga dengan Karen. Semua ini gara-gara wanita itu muncul. Kenapa Siska harus muncul ketika kemapananku telah tercipta dengan susah payah?
Kalau tidak gara-gara Jay, mungkin saat ini aku kerja di kantor kecil di Medan sana. Bah, aku tidak mau kehilangan semua ini. Tapi, aku juga tidak mau terus-menerus begini. Aku tidak bisa membayangkan hidupku ke depan yang harus berhubungan terus dengan kekasihnya kekasihku.
Kusandarkan kepala di meja. Bersandar, mencoba berpikir tentang masa di depan sana. Makin melihat ke depan, aku merasa makin kecil saja. Posisiku tidak kuat dan aku pasti akan menjadi korban dari apa yang telah kulakukan.
Jika kubandingkan diriku dengan Karen, tentunya dia memiliki posisi yang lebih kuat. Pernikahan adalah hukum dan dia telah mendapatkannya. Mungkin, dalam urusan ranjang aku lebih unggul, setidaknya menurut pengakuan Jay. Tapi, di mata hukum, akulah penjahatnya. Kalah. Mungkin, jika aku menikah dengan Jay, keadaan akan berkata lain. Tapi, bagaimana dengan Karen? Tentunya dia tidak mau dimadu, dia akan menuntut cerai.
Lalu, apa yang kulakukan sekarang? Memacari suami orang! Adakah yang kagum pada orang seperti aku?
Tapi, Siska lebih parah, ‘kan? Dia memacari suami dan kekasih orang lain. Kalau dalam sepak bola dia telah membuat dua gol dalam satu pertandingan. Hebat. Hebatnya lagi, dia telah mengalahkan aku. Aku hanya bisa membuat satu gol dan gol itu pun dari titik penalti.
Dibandingkan Karen, aku kalah, dibandingkan Siska, kalah juga. Apakah aku tidak pernah unggul dalam hidup ini? Kenapa aku tidak pernah terpilih menjadi utusan sekolah dalam perlombaan bidang studi antarsekolah? Kenapa ketika sekolah dasar aku tidak pernah menang di setiap lomba baca puisi? Apa yang salah padaku hingga dunia ini memberikan aku posisi yang mendekati puncak, bukan puncak.
“Nad, besok kami siap ke lapangan, ideku diterima Pak Don.”
Kulihat Beno sudah berada di samping mejaku. Kuberikan senyumku yang paling manis. “Selamat, Ben. Jadinya seperti apa?”
“Aku tidak pakai idemu dan membuang ide olahraga itu. Ini tentang pria yang sedang pilek, dia selalu membawa saputangan di sakunya. Suatu hari, ia merogoh saku, tapi tidak menemukan saputangannya. Kau tahu apa yang ditemukannya? Produk kita.”
“Wah, berarti kamu temukan ide yang baru, yang orisinal.”
“Bukan ideku, tapi ide Siska.”
Oh, begitu. Lalu, apa maksudmu, Beno, menceritakan hal ini padaku? Kau ingin melihat kekalahan di wajahku?
Aku tak tahu, tiba-tiba saja Beno sudah tak ada di depanku, mungkin dia melihat mimikku yang mengerikan ini dan takut hingga terbirit.
Gantinya, Siska sudah di depanku. Tidak perlu kukatakan bahwa darahku mendidih. “Sore nanti jadi kan, Mbak?” tanyanya.
Penulis: Muram Batu


