Fiction
Dongeng Kunang-Kunang [5]

1 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Aku mendadak berdebar. Entah mengapa. Seakan-akan berada dalam suatu situasi untuk membuka kotak pandora. Kotak yang senantiasa menyimpan hal tak terduga.

Pintu terbuka. Seorang wanita muda muncul dari belahan pintu terbuka, menyambut kami dengan santun. Sesaat petugas kepolisian mengatakan sesuatu padanya. Lalu disalaminya aku dan dipersilakannya masuk.

Kuedarkan pandangan. Tatap mataku menjelajah beberapa sudut rumah. Rumah yang menyimpan sesuatu untukku. Beberapa foto yang tergantung di dinding menghadapkan aku pada sesuatu. Beberapa foto berbingkai yang menghias meja dan lemari buku, merupakan data pelengkap yang menggiringku untuk menemukan yang tak terduga itu.

Di depan sebuah foto besar, aku terenyak. Menyimpan keterkejutan yang mencekam.

“Itu ayah dan ibuku,” sebuah suara anak-anak.

Seorang anak laki-laki tiba-tiba berdiri di sampingku. Barangkali berusia lima tahun. Rambut bergelombang, mata bulat. Dia pemilik suara itu. Dia juga pemilik sebuah telunjuk yang mengarah pada foto di dinding. Dia juga pemilik sebuah pernyataan tentang sosok di foto itu. Salah satu sosok di sana itu adalah ayahku.

Aku tercekam. Gemetar tubuhku, berdebar keras hati dan berkecamuk perasaanku. Kami mengklaim memiliki hak milik yang sama atas sosok seseorang. Hak milik yang seharusnya kumiliki secara tunggal.

“Siapa dia?” tanyaku, entah pada siapa.

Pertanyaan yang naif, atau bodoh? Tepatnya pertanyaan yang tidak perlu diajukan. Foto besar di dinding itu sejak awal telah menyatakan jawaban. Di dalam foto itu figur ayahku tercetak dengan jelas, bersanding dengan seorang wanita, dan seorang anak laki-laki duduk di antara keduanya.

“Namanya Tenggara, murid yang cerdas dan jenaka di kelas saya,” kata wanita muda, yang rupanya seorang guru, menjawab.

Kutatap anak laki-laki itu dengan seksama. Tidak bisa kuingkari, dia memiliki garis wajah ayahku. Mata, alis, hidung dan lekuk rahangnya bukanlah sesuatu yang asing. Aku merasa mati langkah.

“Apakah engkau Kak Seroja?” Anak itu ganti mengamatiku. Aku terkejut. Dia menyebutkan namaku.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku, tajam.

Diraihnya tanganku, digandengnya aku menuju pada sebuah ruangan. Pada salah satu dinding ada sebuah bingkai. Ada diriku di dalam bingkai itu, sedang bersandar pada bahu Ayah. Di sana kami sedang tertawa bersama.

“Kata Ayah, aku harus memanggilmu Kak Seroja, karena kau adalah kakakku,” kata anak kecil itu.

Aku tercenung.

Tidak kutahu apa yang sedang terjadi di dalam diriku kini. Aku tidak kehilangan kesadaran, aku hanya tidak paham apa yang sedang kuhadapi sekarang ini. Serupa menemukan rangkaian puzzle yang berserak. Pada mulanya kukira telah kurangkai dengan sempurna susunan puzzle hidupku. Tetapi ternyata, susunan puzzle itu kini berserak porak-poranda.

”Kami tidak menemukan kerabat lain di kota ini,” petugas kepolisian itu berkata perlahan.

“Para tetangga juga tidak bisa memberikan informasi yang mendukung. Jadi, Nona adalah satu-satunya kerabat Tenggara.”

“Tetapi, saya tidak mungkin membawanya pulang,” tolakku, bertahan.

“Meskipun telah menemukan semua dokumen pendukung bahwa anak itu adalah benar-benar putra Pak Lesmana?”

Aku berpaling. Aku tidak menduga keadaan ini, apalagi menginginkannya. Bila kemudian kutemukan seorang ’adik tiri’, maka itu adalah keterkejutan lain yang sesungguhnya tidak kuperlukan. Aku telah cukup terpukul dengan musibah yang merenggut Ayah, sehingga tidak kuperlukan ‘tambahan’ musibah lainnya.

“Tetapi, siapa yang akan memelihara dan menjaganya?” Ibu guru Tenggara menatapku dengan cemas. “Dia baru menjelang 5 tahun, belum cukup mandiri untuk melakukan banyak hal.”

“Panti asuhan barangkali?” kataku, mengajukan alternatif.

“Nona sampai hati melakukannya?”

Mengapa tidak? jawabku dalam hati. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tidak kumiliki keterkaitan perasaan apa pun dengan anak itu. Jadi, mengapa aku harus tidak sampai hati?

“Tidak masalah dengan biaya, saya akan melunasi segala ongkos yang diperlukan,” kataku, lugas.

Ibu guru itu menatapku dengan terkejut.

“Tetapi...,” gumamnya, mengambang. Tampak bimbang dan khawatir. Petugas kepolisian menghela napas sesaat.

“Ini kota kecil, segala fasilitas yang ada cenderung terbatas, bahkan barangkali tidak memadai untuk kebutuhan tertentu. Ada panti asuhan, tetapi akan terasa sangat tidak layak untuk Tenggara.”

“Dia anak yang baik, dia layak mendapatkan pengasuhan yang terbaik,” kata guru muda itu, tanpa menyamarkan nada memohon dalam kalimatnya. “Bawalah dia bersamamu, Nona. Hanya dirimu yang dimilikinya sekarang.”

Aku menggeleng.

“Setidaknya bersamamu akan diperolehnya kesempatan untuk meraih masa depan yang selayaknya menjadi haknya.”

“Selain itu, secara hukum, Andalah yang harus menerima tanggung jawab itu. Kita tidak mungkin memaksa para tetangga untuk sudi menampungnya, juga pihak sekolah. Atau, Anda akan dituduh tidak bertanggung jawab atas kewajib¬an pengasuhan ini?” lanjut petugas polisi itu bernada tegas.

Fait accomply. Itu yang kurasakan dari ketegasan kalimat itu. Alangkah tidak nyaman berada dalam situasi ini.

Sering kulakukan beragam negosiasi dalam menjalankan perusahaan. Kadangkala demi tujuan tertentu kulakukan strategi menyudutkan pihak lawan. Kadangkala pula aku berada dalam situasi yang tersudut. Tetapi, selama ini tidak pernah kualami situasi dengan tekanan serupa ini. Ini situasi yang tidak bisa kunegosiasikan. Seharusnya aku tidak berada dalam situasi ini.

Seorang Kakak dan Adiknya

“Saya sungguh tidak tahu,” kata Pak Danu, sopir kami, menunduk dengan sedih di hadapanku. “Setiap mengantar ke kota itu, yang pertama kali dilakukan juragan adalah mengajak saya makan, lalu mengantar ke stasiun hingga saya bisa segera pulang. Sepuluh hari kemudian, juragan menelepon saya untuk menjemputnya. Kami bertemu di stasiun, makan bersama, lalu ganti saya yang mengendarai mobil pulang.”

“Sekian tahun mengantar dan menjemput Bapak ke kota itu, tidak pernah satu kali pun saya ikut menginap. Saya juga tidak pernah melihat Bapak bersama wanita lain, hanya sesekali kami berjumpa dengan pelanggan atau relasi sesama pedagang lainnya.”

Aku mengangguk, tidak lagi memaksakan pertanyaan selanjutnya. Begitulah, keping kehidupan Ayah tetap menyimpan sesuatu yang samar.

”Tidak terlalu berguna juga membongkar masa lalu, apalagi bila mereka yang terlibat sudah meninggal,” kata Jade, sahabatku.

Kalimatnya tersusun hati-hati, meski tetap menampakkan kelugasan yang menjadi tipikal khasnya.

”Hanya menuntaskan rasa ingin tahu, sebuah penasaran belaka.”

”Lebih dari itu. Ini adalah sebuah pertanyaan besar, bagaimana mungkin Ayah melakukan hal semacam ini padaku dan menyembunyikannya sedemikian rapi?”

”Bukan klise kalau kukatakan tidak ada hal yang sempurna. Apalagi manusia adalah sumber segala kesalahan. Ayahmu adalah seorang manusia belaka, laki-laki normal. Kalau selama ini beliau tampak sempurna bagimu, itu adalah karena kau melihatnya dengan kacamata kanak-kanakmu, dengan kerangka pikir kepolosanmu, dan begitulah dia menempatkan diri di dalam duniamu. Tetapi, di luar semua itu, beliau adalah laki-laki normal yang kesepian, yang secara biologis memiliki libido yang memerlukan penyaluran.”

“Ayah sudah lebih dari lima puluh tahun, pasti bukan karena itu,” bantahku, sengit.

“Ya, sekarang, tetapi beliau masih muda ketika bundamu meninggal. Bahwa kemudian pernikahan keduanya ini baru dilakukannya sekitar 6 tahun terakhir ini, pastilah diperlukan ketabahan yang luar biasa untuk membendung hasrat-hasrat semacam itu.”

”Mengapa harus menyembunyikannya dariku? Ini tidak adil.”

Jade menatapku dalam-dalam.


Penulis: Sanie B. Kuncoro



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?