Fiction
Cinta Seorang Copellia [2]

15 May 2012

<< cerita sebelumnya

Sarah adalah pengacara perceraian paling dicari di kota ini. Kliennya orang-orang terkenal, yang bersedia membayar mahal untuk mempertahankan kekayaan mereka atau untuk mendapatkan kekayaan itu. Dulu, Putri pernah bertanya, kenapa Sarah lebih suka menjadi pengacara perceraian. Bukankah menyedihkan melihat dua orang yang semula saling cinta, kemudian bertikai memperebutkan harta dan kadang-kadang anak. Menurut Sarah, perceraian itu suatu jalan untuk membuka lembar kehidupan baru yang mungkin lebih baik. Daripada bertengkar, saling menyakiti, terluka, dan tertekan, lebih baik berpisah. Kadang-kadang, ada satu pihak yang masih mencintai, tapi apakah kita boleh memaksa orang untuk menerima kita, jika orang tersebut sudah tak punya rasa apa-apa, selain keinginan untuk pergi?

“Bagaimana dengan anak-anak? tanya Putri, ketika itu. 

“Itu yang paling sulit dan menyedihkan,” jawab Sarah. “Tapi, mereka akan belajar untuk kuat, daripada setiap hari melihat orang tua mereka bertengkar. Orang-orang dewasa itu sering kali lupa, pada saat marah mereka cenderung membiarkan pertunjukan kekerasan yang tidak pantas ditonton.” Jawaban itu membuat hati Putri sedikit lebih bertoleransi pada perceraian.

“Thank you,” jawab Sarah. “Ada lagi berita baiknya. Aku mengambil cuti dan bisa pergi ke Indonesia bersamamu. Bagaimana?”

Mata Putri membesar, tidak percaya, “Benarkah?”

Sarah mengangguk mantap. Semangat Putri kini bangkit lagi. Asal bersama Sarah ke kutub utara pun akan menyenangkan.

“Berapa hari rencana liburanmu?” tanya Putri.

“Tiga minggu kukira cukup. Seminggu di rumahmu dan dua minggu lagi kita bisa ke Bali.”

Putri membayangkan Mama yang histeris, Papa yang mencabut keris pusaka, dan kakak-kakak yang mengutuknya anak durhaka karena setelah sembilan tahun tidak pulang, dia akhirnya memilih bersenang-senang di Bali, menyia-nyiakan segala persiapan Mama dan saudara-saudaranya untuk menyambut kepulangannya.

“Sangat mengasyikkan. Tapi, tidak bisa. Aku siap mengantarmu berkeliling kotaku, tapi kamu harus pergi sendiri ke Bali. Mama akan membunuhku jika aku ikut ke sana. Kamu mengerti kan bahwa ada suatu misi penting di balik kepulangan ini?”

“Ya. Bukankah kamu selalu mengeluh, mamamu sangat ingin kamu segera menikah, punya anak, dan hidup tenang seperti saudara-saudaramu yang lain?”

“Exactly.” 

“Tapi, kamu tidak punya calon, tidak berpikir tentang pernikahan dan tidak tertarik punya anak.” Sarah meneruskan dengan penuh kemenangan, sementara Putri mengangguk-angguk dengan hikmad. “Lalu, mamamu berkata, kamu sudah tua, umur mulai menggerogoti hari-harimu, dan sekarang kamu tidak punya banyak pilihan. Kamu akan memilih pria mana saja, yang penting baik, ada pekerjaan tetap, tidak merokok, mabuk-mabukan atau memakai obat-obatan, dan hormat pada orang tua.”

“Begitulah,” Putri menelungkup pura-pura sedih. “Bahkan, Mama lebih mementingkan dirinya dengan memasukkan kriteria hormat pada orang tua. Perasaanku malah tidak dibahas sama sekali. Sepertinya, aku ini hewan ternak saja. Bahkan, ukuran wajah pun tidak disebut-sebut. Seharusnya, pria itu tampan sedikit sehingga saat pertama bertemu aku akan jatuh cinta pada wajahnya, cinta pada yang lain-lain bisa menyusul. Atau, mungkin, ada kriteria harta kekayaan. Bahkan, Beauty pun lebih beruntung. Meski, Beast awalnya mengerikan, setidaknya dia kaya raya dan punya istana.”

Sarah memerhatikan dengan geli.

“Hei,” Putri berkata dengan sebal, “Kenapa kamu tidak pernah direcoki ibumu seperti ini?”

Sarah mengangkat bahu, “Mungkin, Jackie tidak peduli pada hal-hal begitu. Selama aku tidak sakit, tidak terlibat utang, tidak ketagihan narkoba, punya uang, dan tidak mengganggunya, itu sudah cukup. Mungkin juga, dia berpikir bahwa aku tipe yang tidak menikah. Entahlah. Aku tidak pernah bertanya dan tidak mau repot-repot bertanya.”

Putri berdiri berjalan ke sudut batas antara dinding dan kaca, menarik tali tirai. Di balik tirai yang sekarang terbuka, tampak pemandangan kota Manhattan yang luar biasa. Ribuan lampu bersinar kemilau sejauh mata memadang. Seperti kunang-kunang atau bintang-bintang yang turun ke bumi. Persis seperti di film-film romantis yang sering ditontonnya. Sering kali, jika Sarah tidak di rumah, harus lembur, berkencan, atau menikmati sosialisasi malam, Putri akan duduk berjam-jam, memandangi keindahan yang telah mencuri hatinya.

Pemandangan yang sungguh menakjubkan setidaknya itu menjadi salah satu alasan kenapa apartemen tempatnya sekarang berdiri begitu mahal. Sehingga, orang yang jujur, pekerja keras, namun berpenghasilan kecil seperti dia, hanya bisa memimpikannya. Putri berbisik dalam hati, seandainya tidak ada Sarah, pastilah dia masih tinggal di lubang tikus. Dia menarik napas panjang untuk mengusir rasa nyeri yang menusuk-nusuk di dada. Hidupnya ini, semua karena Sarah.

“Princess, menurutmu, apakah tidak apa-apa jika aku tidak membawakan sesuatu untuk keluargamu?”

Yah, sejak Sarah tahu arti namanya, dia pun memanggilnya Princess. Meski lain ucapan, artinya sama dan mudah diucapkan.

“Tidak perlu,” kata Putri. “Kamu sudah begitu baik saat Mama dan Papa ke sini. Tanpa apa-apa pun, mereka pasti gembira menyambutmu. Bisa membalas sedikit kebaikanmu pada anak mereka tentu sangat menggembirakan.”
Sarah mengambil tiket Putri di meja.

“Copellia Putri,” katanya, membaca nama itu, sambil nyengir jahil. “Nama yang aneh.”

“Kukira, saat hamil Mama membaca cerita itu dan memutuskan menamai bayinya Copellia bila perempuan. Sebetulnya, jika boleh memilih, aku lebih suka jadi lelaki. Nama Frans lebih enak didengar.”

“Copellia itu bukan putri. Dia boneka yang dibuat Copellius si ahli sihir.” Sarah menggerak-gerakkan tangannya, seakan-akan menyihir sesuatu. Lalu, berkata dengan suara dibuat-buat, “Frans memandangi Copellia yang duduk di depan jendela. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan lupa pada pertunangannya dengan Swanilda. Setiap hari dia melewati rumah itu, hanya untuk memandang wajah cantik Copellia dari bawah jendela.”

“Yah, sepertinya, Mama meramal masa depan dengan baik. Bukankah sekarang dia sudah mulai membuktikan bahwa aku adalah bonekanya? Taliku mulai ditarik-tarik sesuai keinginannya. Aku harus memikat Frans-Frans yang dipilihkan Mama.”

“Sepertinya, usaha Copellius harus benar-benar kuat karena kau bukan jenis boneka penurut. Setidaknya, kau harus bersyukur menjadi Copellia, yang pastilah begitu cantiknya, sehingga bisa memikat hati Frans. Pasti dia tipe perayu. Sekarang, yang menarik adalah apakah kau juga akan jadi wanita kedua di antara kisah cinta orang?”

Putri menggeleng kuat-kuat, “Kupastikan tidak.” Lalu, dia menghela napas, “Kamu tahu, di Indonesia nama itu sangat penting. Nama adalah doa dari orang tua kepada anaknya. Apa namaku juga doa untukku? Kelihatannya, Mama berharap, jika dewasa aku akan menjadi wanita cantik, yang hanya dengan wajahnya saja dapat merusak pertunangan orang. Coba kamu pikir, harapan macam apa itu?”

Sarah tertawa. Putri mendelik, “Apa yang lucu?”

“Kamu. Kenapa hal begitu saja jadi masalah? Shakespeare saja bilang, apalah arti sebuah nama. Mungkin, mamamu tidak peduli komedi percintaan Copellia. Dia hanya tertarik dan berpikir bahwa nama itu kedengaran bagus. Bukankah dia juga memberikan nama Putri bagimu. Bukankah keduanya orang-orang yang cantik?” 

Putri menopang dagunya dengan tangan. Sebetulnya, dia tidak ingin pulang. Bukan karena dia tidak kangen keluarganya, tapi dia tahu kepulangannya itu akan membawa banyak masalah. Dipandanginya lagi kegelapan malam dengan ribuan kilau bertaburan. Dia memang boneka, tapi bukan si cantik Copellia yang berdansa dengan Frans di pesta desa, tapi boneka badut dengan mulut besar merah yang tertarik ke bawah. Dia mungkin lebih mirip Frans, yang jatuh cinta pada orang yang salah. Putri berharap, seandainya saja waktu bisa dipercepat, sehingga dia tak harus melewati hari-hari yang akan datang dengan cepat.

“Kupikir, mungkin Coppelia lebih tertarik pada Swanilda yang pintar dan berani, ketimbang Frans yang bodoh,” gumamnya pelan. 


                                                                              cerita selanjutnya >>


Penulis: Lisa Andriyana
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?