<< cerita sebelumnyaDulu, aku tidak mengeluh jika anak-anakku rewel atau menangis. Sekarang, saat aku hanya minta diperhatikan, mereka bilang aku cerewet.
Ngatinah, Maret 2004, Desa Lipursari
Aku lupa besok hari apa.
Karena, tidak ada bedanya buatku. Setiap hari aku merasa hari-hari yang kulalui sama saja. Bangun pagi, mandi dengan siraman air dingin yang terasa menggigit kulit, memasak air panas untuk mandi adikku yang masih berusia tiga tahun, memakan nasi kemarin untuk sekadar mengisi perut. Lalu, pergi berjalan kaki, melewati jalan setapak yang masih berupa tanah merah menuju rumah Pak Min, yang berjarak kurang lebih lima puluh langkah dari rumahku.
Di rumah Pak Min, yang berdinding kayu dan beratap bambu, hawa hangat menyeruak dari bagian belakang rumahnya. Di sanalah aku bekerja, berdiri di depan pemangganganan kue kering, menaruh loyang-loyang di dalam oven batu, dan menjaga bara api dari arang yang disebarkan di dalam oven itu.
Aku suka berdiri di depan oven itu. Bukan saja karena hawa hangatnya yang menyeruak, tetapi juga suka melihat gemeretak bara api. Oven itu terbuat dari batu besar dengan bilik pintu kecil di depannya. Di sebelahnya, aku meletakkan kayu-kayu yang dibakar sampai menjadi bara. Setelah menjadi bara, baru kumasukkan ke dalam oven. Bara-bara itu menyebarkan panas yang merata ke seluruh dalam bilik. Kemudian, bara-bara kayu itu menjadi serpihan-serpihan merah yang bergemeretak bunyinya.
Lalu, aku mulai mengambil loyang-loyang yang sudah ditumpuk. Di atas loyang aluminium itu berjejer adonan kue yang siap dipanggang. Aku meletakkannya di atas sebilah kayu pipih, lalu menyorongnya, memasukkannya ke dalam oven itu, menyusun dari yang paling ujung dalam sampai paling luar. Setelah seluruh bilik oven penuh, kututup pintu kecil di depan bilik oven itu.
Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Ketika kurasakan panasnya sudah merata, kubuka pintu kecil bilik oven. Kulihat, kue-kue kering di atas loyang sudah berwarna kecokelatan dan menyemburkan aroma yang menggiurkan. Kue-kue kering itu sudah matang. Dengan sebilah kayu pipih tadi, aku kembali mengangkat loyang-loyang aluminium itu keluar dari dalam bilik oven.
Selain aku, ada beberapa tiga orang gadis lain yang bekerja di rumah Pak Min. Mereka memasukkan kue yang sudah matang ke dalam bungkus-bungkus plastik. Resep adonan kue kering dilakukan oleh Bu Min sendiri. Hanya resep sederhana, berupa tepung terigu, gula pasir, dan mentega murahan, yang diadon, lalu dipanggang. Hanya kue kering khas desa.
Jika kue-kue kering itu sudah selesai dimasukkan ke dalam plastik dengan rapi, Pak Min akan membawanya dengan sepeda motor sampai ke Purwokerto, bahkan kadang-kadang sampai ke Semarang. Pak Min menempuh jarak yang cukup jauh dari Desa Lipursari di Wonosobo, membawa sekitar dua ratus bungkus kue kering setiap hari. Sebungkus plastik kue kering dijual seharga dua ribu lima ratus rupiah. Otakku yang sederhana, tidak terlalu pusing untuk menghitung berapa keuntungan yang dia dapat dalam sebulan. Asalkan, aku menerima uang gajiku, yang cukup untuk membayar uang sekolah adik-adikku, karena ibuku hanya memiliki sepetak kecil sawah warisan dari Bapak.
Aku melakukan tugasku sepanjang hari sampai sore. Ketika magrib, aku pulang ke rumahku yang beratap rumbia. Di rumah, hawa dingin kembali menggigit. Setelah mandi, aku makan bersama dengan Ibu dan tujuh orang adikku yang masih kecil-kecil. Setelah kenyang, kami membaringkan diri di dipan dan menyulam mimpi tentang hari esok.
Hari esok yang selalu sama dengan hari-hari kemarin.
Bobo Ng, September 2004, di rumah
Aku tidak mau tahu besok hari apa.
Sudah tiga bulan lebih aku menderita stroke. Aku menderita sekali dengan keadaanku. Sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku jadi tergantung pada orang lain. Aku tidak bisa memasak, membersihkan rumah, dan membersihkan sangkar-sangkar burung Yau Man, makan, berjalan-jalan, sembahyang ke kelenteng, bahkan juga untuk keperluanku yang sangat pribadi.
Coba bayangkan! Sangat mengesalkan jika merepotkan banyak orang.
Aku tahu, kedua anak perempuanku tidak mungkin tinggal bersamaku. Sedangkan Wenny Yeung, tidak mungkin terus-menerus menjaga dan merawat nenek jompo yang menderita stroke. Aku sendiri juga tidak mau membebani gadis semuda dan secantik dia dengan segala kesulitanku.
Lalu, mereka memutuskan mencari orang untuk menjaga dan merawatku. Itu mungkin lebih baik kalau mereka mendapatkan orang yang tepat. Atau, sebetulnya, mereka sudah mencari orang yang tepat, tetapi aku terlalu rewel, karena terlalu kesal pada diriku sendiri.
Gadis Cina yang pertama, menurutku, sangat malas dan jorok. Sehabis memasak ia tidak pernah merapikan dapur. Ia selalu tergesa-gesa hendak menonton televisi. Bila aku menyuruhnya ‘uh… uh…’, sambil menggerak-gerakkan tangan kiriku, ia tidak memedulikan aku. Ia juga tidak mau membersihkan sangkar-sangkar burung sehingga berbau pesing. Bahkan, ada seekor burung mati kelaparan, karena ia tidak memberikan biji-biji jagung selama seminggu. Kalau aku menyuruhnya ‘uh… uh…’, ia cuma menoleh, lalu memasang walkman di telinganya.
Menjengkelkan, bukan? Tetapi, aku tidak bisa bercerita pada Yau Man atau anak-anak perempuanku. Akhirnya, gadis itu dikembalikan ke agennya, setelah Yau Man melihat dapur berantakan dan burungnya mati kelaparan.
Gadis kedua sangat menyebalkan. Dia sok tahu. Dia berbicara dengan Yau Man dalam bahasa Inggris. Yau Man pastilah menyuruhnya merawat dan menjagaku dengan baik. Tetapi, kenapa ia tidak menanyakan kepadaku, apa yang kuinginkan? Bukankah ia merawatku, bukan merawat Yau Man?
Pagi-pagi, ia membangunkanku dan membersihkan badanku. Ia membuka pakaianku, lalu menyekanya dengan air, yang kadang-kadang terlalu dingin, kadang-kadang terlalu panas. Kalau aku merasa tidak nyaman dan berkata ‘uh… uh…’ kepadanya, ia tidak peduli. Ia tetap menyekaku seperti anak bayi.
Lalu, ia akan membawaku ke kamar mandi, mendudukkan aku di toilet, dan menyuruhku mengejan. Padahal, aku belum ingin buang air. Kalau aku mengatakan ‘uh… uh…’, kepadanya, ia akan tetap mendudukkanku berjam-jam di toilet, sampai aku berhasil buang air. Jika malam hari aku terjaga hendak buang air, aku berulang kali memanggilnya ‘uh… uh…’. Tapi, ia tetap lelap atau hanya pura-pura terlelap supaya tidurnya tidak terganggu. Sehingga, aku harus menahan kandung kemihku menggembung sampai esok pagi.
Belum lagi jika aku ingin berjalan-jalan ke taman. Jika aku menunjuk arah kanan, ia mendorong kursi rodaku ke kiri. Di situ banyak teman sebayaku duduk bercengkerama di taman, sambil minum teh. Padahal, aku tidak ingin berkumpul dengan mereka. Aku lebih suka menikmati udara pagi yang segar dan matahari pagi yang hangat sendirian. Aku tidak suka mendengar teman-temanku bertanya-tanya tentang keadaanku yang sangat tidak menyenangkan.
Aku pun makin rewel karena apa yang dilakukannya tidak pernah sesuai keinginanku. Ia mengadu pada Yau Man. Aku tahu, ia pasti mengatakan aku cerewet. Padahal, aku tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali ‘uh… uh….’
“Ma, jangan terlalu rewel…,” Yau Man berkata begitu kepadaku setiap kali habis mendengarkan laporan dari gadis itu.
“Uh… uh…,” aku cuma bisa mengatakan begitu.
Aku senang sekali ketika gadis itu minta berhenti dengan alasan tidak kerasan meladeni kerewelanku.
Lalu, ketika gadis ketiga itu datang, Yau Man cuma berkata kepadaku, “Ma, kami semua sibuk bekerja. Tetapi, harus ada seorang yang menjaga, merawat, dan menemani Mama. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang kalau Mama sendirian di rumah. Tapi, Mama jangan terlalu cerewet karena nanti dia jadi tidak kerasan dan kami semua jadi repot.”
Aku diam saja mendengar kata-katanya yang menyinggung perasaanku. Aku benar-benar orang tua jompo yang menjadi beban untuk orang lain. Aku sungguh-sungguh merasa tidak berguna!
Cerewet? Bah! Kapan aku cerewet? Aku mengomel dalam hati.
Aku tidak pernah cerewet, walaupun harus memasak, membersihkan rumah, dan membersihkan sangkar-sangkar burungnya. Bukankah aku sudah melakukannya berpuluh-puluh tahun? Aku melakukannya dengan penuh sukacita karena aku menyayangi anak-anakku. Aku sendiri tidak suka menjadi orang tua cerewet, bawel, dan rewel. Lalu, kalau aku stroke dan akhirnya cuma bisa duduk di atas kursi roda ini, apakah kemudian aku menjadi cerewet? Apakah aku suka pada keadaanku ini?
Itulah anak-anak! Anak-anak yang tidak pernah kumengerti jalan pikirannya. Anak-anak yang kulahirkan, kurawat, dan kubesarkan.
Repot? Huh! Ketika kecil, bagaimanapun mereka cerewet, aku tetap merawat dan menjaga mereka dengan senang hati. Ketika mereka rewel dan menangis, aku terburu-buru memeriksa, apakah mereka sakit atau ada binatang kecil yang menggigit mereka. Ketika mereka ngompol, aku akan cepat-cepat membersihkan mereka. Ketika mereka belum bisa berbicara dan hanya bisa mengucapkan ‘uh… uh…’ sambil menunjuk-nunjuk, aku bisa mengerti mereka menginginkan biskuit. Apakah aku pernah merasa direpotkan? Tidak!
Lalu, sekarang mereka mengatakan aku cerewet?
Itu bukan kesalahanku. Itu kesalahan gadis-gadis yang tidak becus itu.
Sekarang aku tidak boleh rewel, supaya gadis ketiga ini bisa kerasan.
Gadis ketiga itu berkulit cokelat dengan sepasang mata besar yang indah. Ketika pertama kali bertemu denganku, mata indahnya langsung memikatku. Matanya lugu, polos, dan kelihatannya tulus.
Tulus? Ah, tunggu dulu. Apakah bisa tulus bila setiap hari harus menghadapi seorang perempuan tua jompo yang terkena stroke, yang hanya bisa duduk di kursi roda dan mengatakan ‘uh… uh…’?
Aku ingin melihat ketulusannya sampai besok, besok, dan besok lagi.
Penulis: Lan Fang
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005


