Ketika suami sakit, selain terbebani memberi tahu orang tua saya dan orang tua suami, saya pun harus menyampaikan kepada anak-anak. Ini hal paling berat. Sulit sekali menahan tangis di depan mereka, tapi harus saya tahan.
Kepada si bungsu yang masih TK, saya berujar, “Bella, Daddy sedang sakit. Bella selalu berdoa, ya, kepada Tuhan agar Daddy sehat dan bisa selamanya bersama kita sampai Daddy tua. Walaupun Daddy sakit, jangan khawatir, Mommy dan Daddy akan menjaga Bella dan kakak-kakak.” Kepada si sulung, Brandon, saya dan ayahnya berbicara terbuka. Sebagai gifted child, ia bisa merasakan terjadi sesuatu pada ayahnya. Bahkan, ia meminta ikut dan turut bertanya kepada dokter. Padahal, saat itu ia baru berusia 10 tahun.
RS Mt Elizabeth, Singapura, kembali menjadi tujuan kami. Belakangan saya menjadi dikenal di rumah sakit ini karena nyaris lebih dari 7 tahun saya bolak-balik di sini untuk mengurusi masalah kanker. Namun, berbeda dengan adik yang cukup sabar menanti di Singapura untuk jarak terapi yang berdekatan, suami saya tidak. Hari Senin pagi berobat, Senin malam minta pulang. Suami hanya mau menginap, jika esok hari ada terapi.
Suami harus menjalani kemoterapi dan radioterapi. Kemoterapi memberi efek mual bagi suami. Ketika mual itu datang, suami layaknya ibu hamil yang mengalami efek morning sick. Paling berat adalah melihat efek radioterapi. Suami terkena seriawan hebat dari bagian bibir hingga ke tenggorokan. Bibirnya sampai memutih karena seriawan yang meluas. Ia tak mampu makan kecuali makanan yang sangat cair. Itu pun harus ditelan dengan susah payah.
Selama ini saya sulit tidur nyenyak. Mimpi buruk sering kali hadir. Saya kerap kali tidak bisa membendung tangis. Saya berhenti bersosialisasi. Padahal, kegiatan bersosialisasi seperti ini penting diikuti karena core bisnis saya adalah perhiasan premium yang menyasar pasar kelas ekonomi tertentu. Saya seperti tidak peduli lagi terhadap bisnis perhiasan ini.
Berbeda dengan saya, suami justru lebih bisa menguasai perasaannya. Seperti adik, ia tidak banyak mengeluhkan penyakitnya. Ia berusaha untuk tetap aktif bekerja. Ketika rasa mualnya hilang, maka ia mengecek toko perhiasan kami yang kebetulan berlokasi di sebuah mal yang berada di satu area dengan apartemen kami.
Akibat kanker, dalam waktu singkat bobot suami menurun drastis. Dari baju berukuran L, ‘menciut’ menjadi ukuran XS. Lama-kelamaan keluhannya pun muncul. Untuk membesarkan hatinya, saya selalu berujar, “Kita mesti bersyukur, karena masih bisa berobat, bahkan di tempat berobat yang termasuk terbaik.”
Kesadaran bahwa kami lebih beruntung ini makin jelas ketika saya diminta menemani sepupu Mama dari Bali untuk berobat kanker di Jakarta. Ia datang ketika suami baru menyelesaikan paket pengobatan kankernya. Lagi-lagi saya yang diminta bantuan untuk mengurusnya. Mungkin, karena saya dianggap pengalaman dalam membantu adik dan suami melewati masa-masa terberat dalam pengobatan kanker.
Tante saya berobat di RS Dharmais. Ia pun tinggal di rumah saya selama pengobatan. Saya tidak keberatan, karena saya merasakan bahwa bantuan sekecil apa pun yang bisa saya berikan, akan sangat berarti bagi mereka. Di RS Dharmais ini saya bisa menyaksikan betapa penyakit ini sudah meluas ke segala kalangan, dan segala usia. Hati saya paling tak tahan melihat anak-anak penderita kanker. Terbayang betapa beratnya beban orang tua mereka.



