True Story
Teror Saraf Itu Bernama Fibromyalgia

15 May 2018


Ketika Ia Mulai Menggerogoti Saraf

Seminggu kemudian saya kembali bekerja, satu hal yang saya baru sadari kalau selama ini saya selalu memakai baju atau jaket lebih tebal daripada rekan kerja di kantor, bahkan terkadang kalau tak tahan terkena air, saya salat dengan tayamum.

Tak ada perubahan gaya hidup yang berarti, saya tetap mengurus anak dan keluarga hingga sore hari dan bekerja dari sore hingga tengah malam. Tak butuh waktu lama, dua bulan kemudian dada saya kembali seperti ditusuk-tusuk saat tidur.

Saya membangunkan suami yang kemudian memberikan oksigen kaleng yang memang tersedia di samping tempat tidur. Tak banyak membantu, saya meminta kompres air hangat dalam botol. Perlahan-lahan nyerinya berkurang lalu menghilang. Hal itu terjadi tiga kali dalam satu minggu dan anehnya justru saat saya tidak sedang beraktivitas.

Suami membawa saya ke UGD rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa tekanan darah saya ternyata rendah, hanya 80/60. Sementara test EKG mengonfirmasi tidak ada yang salah dengan jantung saya. Saya hanya mendapat terapi infus dan beberapa vitamin, enam jam kemudian saya diperbolehkan pulang, karena tidak memenuhi syarat untuk rawat inap. Saya tidak demam, tidak diare, dalam kondisi sadar dan tidak pingsan.

Di rumah, kondisi saya hanya sedikit membaik, lelah berlebihan yang saya rasakan tak kunjung membaik. Saat saya kembali ke kantor saya pun menyadari bahwa ada beberapa kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan dalam dua bulan berturut-turut. Kesalahan sepele yang seharusnya tidak dan belum pernah terjadi selama saya bertugas karena saya merupakan perencana yang baik, perfeksionis. Tidak fatal memang, tapi mengecewakan saya.

Lambat laun saya menyadari bahwa saya sering lupa menaruh barang. Ada kalanya saya menaruh remote TV di dalam kulkas, selalu lupa menaruh ponsel, mencuci muka dengan sampo, bahkan masakan saya sering gosong.

Tiga minggu beristirahat pascaopname membuat saya juga kehilangan banyak kata-kata. Saya membutuhkan waktu lebih lama untuk menulis berita. Saya bahkan sempat lupa password dan username komputer saya.

Belakangan saya mengetahui kalau itu dinamakan brain fog, atau dalam hal ini: fibro fog. Seorang teman lama memberikan tautan artikel yang menyatakan bahwa fibromyalgia adalah penyakit autoimun yang tak ada obatnya. Mendapati ini, saya seolah tersambar petir. Sebagai mantan reporter kesehatan, saya cukup paham risiko autoimun. Saya menyayangkan kenapa dokter tidak menceritakan risiko itu sebelumnya.

Selanjutnya: Haruskah Berhenti Bekerja?
 


Topic

#fibromyalgia, #penyakitsaraf, #truestory

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?