
Foto: Rani Rachmani Moediarta
Cacat mata bawaan rabun dekat dan juling yang saya derita sejak bayi sungguh berat untuk saya, Melinda Tanan (21), jalani. Masa kecil penuh penolakan dari lingkungan membuat rasa percaya diri saya hancur. Trauma dari penampilan buruk rupa telah membuat saya terjerat anorexia nervosa yang nyaris merenggut nyawa saya.
Trauma Tertolak
Kelainan mata sejak lahir (sebelah kanan +6 dan kiri +8 serta silindris 4 pada mata kanan dan silindris 6 untuk mata kiri) membuat saya berkacamata sejak usia satu setengah tahun. Bayangkan, ada bayi berkacamata! Saat bersekolah, saya nyaris tak punya teman dekat. Tak ada orang yang benar-benar mau berteman dengan saya yang berpenampilan aneh.
Dengan batang hidung yang belum tumbuh sempurna, kacamata dengan lensa yang berat itu sering kali melorot ke bawah. Saya merasa jadi anak paling buruk rupa sedunia. Saya sungguh-sungguh kesepian di antara teman-teman yang memiliki penglihatan normal. Tanpa mereka jauhi saja saya sudah merasa sangat rendah diri karena merasa cacat dan berbeda.
Pernah seorang guru di sekolah membuat saya jadi contoh: “Jika kalian tidak suka makan sayur, nanti mata kalian jadi seperti mata Melinda ini!” Itu terdengar seperti tonjokan ngilu di atas luka batin saya. Saya makin menarik diri dari pergaulan dan tiap hari harus bergulat melawan berbagai rasa ketidakadilan.
Pada suatu hari, saat duduk di kelas tiga SMP, saya merasa penglihatan kabur, kendati sudah mengenakan kacamata. Tuhan ternyata menunjukkan kuasanya. Penglihatan yang kabur itu justru menandakan bahwa separuh gangguan penglihatan saya berkurang. Kabar baik ini terus berlanjut.
Pada pemeriksaan berikutnya, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa mata saya sudah tak perlu mengenakan kacamata! Sungguh tak dapat dipercaya! Padahal, saat itu saya sudah menepis jauh-jauh harapan akan memperoleh kesembuhan karena dokter pernah memvonis cacat mata saya tak akan bisa sembuh lewat operasi sekalipun.
Dengan sepasang mata yang secara ajaib pulih sendiri melawan perhitungan medis, saya akhirnya merasa mulai mampu hidup lebih tenang. Pada usia 16 tahun, saya berhasil lulus dari SMA swasta di Bali dan diterima kuliah jurusan gizi di Deaken University, Melbourne, Australia.
Namun, siapa yang bisa menduga bahwa semua pengalaman buruk tertolak dalam pergaulan sejak kecil begitu menghantui. Saya ingin diterima sebagaimana anak dan remaja perempuan lainnya. Saya begitu takut gemuk dan kelihatan buruk. Lepas dari masalah gangguan mata, saya malah jatuh ke masalah yang lebih berat. Tekanan psikologis membuat saya terseret pada anorexia nervosa atau gangguan pola makan berat akibat takut gemuk.
Terobsesi Kurus
Sewaktu mulai kuliah di Melbourne, tinggi tubuh saya 162 cm dan berat 52 kilogram. Sudah ideal sebenarnya. Namun, tiap kali bercermin, ada bisikan dari dalam diri saya yang selalu mengatakan bahwa saya terlalu gemuk. Perasaan tak percaya diri itu makin menjadi setelah saya putus cinta dan mengalami depresi berat.
Terlebih bila berkaca pada tampilan wanita muda di layar kaca dan halaman media: wanita-wanita bertubuh ‘tipis’ yang seakan sempurna. Saya terobsesi memiliki tubuh yang diidealkan itu, tubuh yang sempurna tanpa lemak sama sekali. Perlahan-lahan, makanan menjadi musuh yang harus saya hindari.
Kegiatan rutin sehari-hari saya adalah latihan jogging secara gila-gilaan tiap pagi untuk menguruskan badan dan makan sangat sedikit. Jika merasa lapar, saya mengganjalnya hanya dengan minum air putih sebanyak-banyaknya agar perut terasa penuh. Sementara, malam harinya saya belajar mati-matian untuk mendapatkan high distinction (nilai A+). Selain menjaga bentuk tubuh, saya juga berusaha keras meraih prestasi karena perasaan ingin diterima dan dicintai oleh orang lain.
Ada saat-saat saya merasa begitu down karena frustrasi merasa tubuh masih terlalu gemuk. Padahal, tubuh saya sudah makin kurus dan penampilan saya terlihat kuyu. Rambut saya rontok, kulit kering, dan wajah saya terlihat tua karena kurang nutrisi. Hal itu membuat saya makin terpuruk.
Tak hanya sekali saya mengambil cutter untuk menyayat lengan dan membiarkan darah mengalir. Ada rasa puas seolah melampiaskan dendam pada tubuh yang saya anggap tak berguna ini.
Di saat-saat seperti itu, roh jahat anorexia nervosa seolah menjadi sahabat yang paling memahami diri saya. Dia selalu menasihati agar saya terus menjaga tubuh saya dan menjauhi makanan. Berhasil tidak makan sama dengan mencetak prestasi. Sedikit saja kelebihan kalori, ia sudah berbisik bahwa saya pantas dihukum dan esoknya saya harus menggandakan diet.
Dalam setahun, berat badan saya turun drastis, hanya tinggal 36 kg dan saya berkali-kali hampir mati. Saya sudah sering merasakan jantung ini berhenti sewaktu latihan lari. Meski sudah sangat kurus, saya masih terus latihan jogging agar bisa lebih kurus lagi!
Salah satu kebiasaan buruk roh jahat itu adalah menyuruh saya ngemut pil pencahar yang dengan mudahnya saya dapatkan di minimarket. Pencahar itu membantu saya mengeluarkan apa pun yang saya makan.
Sebetulnya, selama kuliah di sana, ada seorang pria yang setia memperhatikan saya. Namanya Adolf. Ia kakak kelas saya dari Jakarta yang kuliah di jurusan bisnis di universitas yang sama. Nyaris tiap hari ia memperingati saya untuk berhenti diet ketat dan mulai makan secara normal. Nyaris tiap hari juga dia mengucapkan mantranya: “You are beautiful, you are precious!” Namun, saya tak pernah mengindahkannya. Begitu dalam luka batin yang saya rasakan sehingga ketika itu saya tak lagi percaya ada ketulusan dalam cinta.
Padahal, Adolf harus menempuh perjalanan jauh dari tempat kos ke kampus naik bus selama 2 jam sekali jalan hanya untuk menemui saya. Untuk memastikan bahwa saya makan dan membawakan saya makanan. Ia melakukannya nyaris tiap hari selama dua tahun!
Saya benar-benar tak sudi makanan yang masuk ke dalam perut saya berubah jadi kalori. Saya sudah tidak punya rasa lapar. Saya merasa lebih baik dibunuh daripada harus makan. Tubuh mana yang bakal tahan bila dianiaya terus-menerus seperti itu? Akhirnya, pada puncaknya saya harus dilarikan ke rumah sakit karena terkapar dan tak bisa bangun. Itu terjadi di tahun kedua kuliah. Berat badan saya ketika itu 35 kilogram saja!
Cinta Sejati Menyelamatkan
Di saat-saat kritis itu saya sudah merasakan roh saya meninggalkan tubuh dan saya bisa melihat tubuh saya sendiri. Ayah saya sampai harus meninggalkan semua pekerjaannya di Bali demi merawat saya selama masa pengobatan di Australia. Pelan-pelan saya berjuang bangkit dan berani melawan roh jahat anorexia nervosa yang bersemayam dalam diri saya selama dua tahun ini. Itu sama sekali tidak mudah. Saya harus belajar menerima diri sendiri dulu dan membangun kepercayaan diri. Kehadiran Adolf dan Ayah yang mencintai saya begitu tulus akhirnya membangkitkan semangat hidup saya kembali.
Penampilan saya sangat buruk saat itu. Saya sudah mirip tengkorak. Kulit penuh bercak kehitam-hitaman dan ditumbuhi bulu. Karena tak punya lemak, baru terbentur sedikit saja seluruh kulit langsung memar menghitam. Tetapi, Adolf terus saja membisikkan mantra cintanya kepadaku: “You are beautiful, you are precious!”
Perlahan-lahan, saya mulai memercayai apa yang dikatakan Adolf. Ada satu pernyataan Adolf yang begitu kuat melekat di batin saya: “Kamu boleh membenciku karena aku menyuruhmu makan. Tak apa. Asal kamu bisa terus hidup!” Saat saya mulai melunakkan hati, barulah saya tersadar bahwa saya ketika itu sudah berhenti menstruasi selama setahun!
Usia saya baru dua puluh satu tahun. Saya mau hidup! Saya melihat ada jalan panjang terbentang di depan dan dengan siapa saya akan menitinya: Adolf dan cintanya serta keyakinannya bahwa saya sangat berharga. Perlahan-lahan roh jahat anorexia kehilangan kuasanya atas diri saya berkat dukungan cinta.
Meski nilai-nilai selama kuliah sangat bagus, kini saya memutuskan untuk meninggalkan kuliah saya karena tak ingin lagi mempelajari tentang gizi. Saya kembali ke Bali dan melakukan kegiatan yang saya sukai, yaitu melukis dan menjalankan bisnis resor kecil di pinggir pantai di Desa Tianyar, Tulamben, yang terkenal dengan bawah lautnya yang teramat indah.
Dari kegiatan melukis saya belajar menjaga konsentrasi dan juga kesabaran. Itulah bekal untuk selalu kembali ke jati diri dan eling. Kesadaran itu sekaligus menjauhkan saya dari perasaan depresi dan dikuasai emosi-emosi buruk di masa lalu. Biarlah saya menikmati kehidupan yang sangat saya cintai saat ini sambil menunggu Adolf merampungkan kuliahnya. Saya bersyukur Tuhan telah mengirimkan malaikat penjaga yang menyembuhkan luka saya dengan cinta tulusnya.(f)
Trauma Tertolak
Kelainan mata sejak lahir (sebelah kanan +6 dan kiri +8 serta silindris 4 pada mata kanan dan silindris 6 untuk mata kiri) membuat saya berkacamata sejak usia satu setengah tahun. Bayangkan, ada bayi berkacamata! Saat bersekolah, saya nyaris tak punya teman dekat. Tak ada orang yang benar-benar mau berteman dengan saya yang berpenampilan aneh.
Dengan batang hidung yang belum tumbuh sempurna, kacamata dengan lensa yang berat itu sering kali melorot ke bawah. Saya merasa jadi anak paling buruk rupa sedunia. Saya sungguh-sungguh kesepian di antara teman-teman yang memiliki penglihatan normal. Tanpa mereka jauhi saja saya sudah merasa sangat rendah diri karena merasa cacat dan berbeda.
Pernah seorang guru di sekolah membuat saya jadi contoh: “Jika kalian tidak suka makan sayur, nanti mata kalian jadi seperti mata Melinda ini!” Itu terdengar seperti tonjokan ngilu di atas luka batin saya. Saya makin menarik diri dari pergaulan dan tiap hari harus bergulat melawan berbagai rasa ketidakadilan.
Pada suatu hari, saat duduk di kelas tiga SMP, saya merasa penglihatan kabur, kendati sudah mengenakan kacamata. Tuhan ternyata menunjukkan kuasanya. Penglihatan yang kabur itu justru menandakan bahwa separuh gangguan penglihatan saya berkurang. Kabar baik ini terus berlanjut.
Pada pemeriksaan berikutnya, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa mata saya sudah tak perlu mengenakan kacamata! Sungguh tak dapat dipercaya! Padahal, saat itu saya sudah menepis jauh-jauh harapan akan memperoleh kesembuhan karena dokter pernah memvonis cacat mata saya tak akan bisa sembuh lewat operasi sekalipun.
Dengan sepasang mata yang secara ajaib pulih sendiri melawan perhitungan medis, saya akhirnya merasa mulai mampu hidup lebih tenang. Pada usia 16 tahun, saya berhasil lulus dari SMA swasta di Bali dan diterima kuliah jurusan gizi di Deaken University, Melbourne, Australia.
Namun, siapa yang bisa menduga bahwa semua pengalaman buruk tertolak dalam pergaulan sejak kecil begitu menghantui. Saya ingin diterima sebagaimana anak dan remaja perempuan lainnya. Saya begitu takut gemuk dan kelihatan buruk. Lepas dari masalah gangguan mata, saya malah jatuh ke masalah yang lebih berat. Tekanan psikologis membuat saya terseret pada anorexia nervosa atau gangguan pola makan berat akibat takut gemuk.
Terobsesi Kurus
Sewaktu mulai kuliah di Melbourne, tinggi tubuh saya 162 cm dan berat 52 kilogram. Sudah ideal sebenarnya. Namun, tiap kali bercermin, ada bisikan dari dalam diri saya yang selalu mengatakan bahwa saya terlalu gemuk. Perasaan tak percaya diri itu makin menjadi setelah saya putus cinta dan mengalami depresi berat.
Terlebih bila berkaca pada tampilan wanita muda di layar kaca dan halaman media: wanita-wanita bertubuh ‘tipis’ yang seakan sempurna. Saya terobsesi memiliki tubuh yang diidealkan itu, tubuh yang sempurna tanpa lemak sama sekali. Perlahan-lahan, makanan menjadi musuh yang harus saya hindari.
Kegiatan rutin sehari-hari saya adalah latihan jogging secara gila-gilaan tiap pagi untuk menguruskan badan dan makan sangat sedikit. Jika merasa lapar, saya mengganjalnya hanya dengan minum air putih sebanyak-banyaknya agar perut terasa penuh. Sementara, malam harinya saya belajar mati-matian untuk mendapatkan high distinction (nilai A+). Selain menjaga bentuk tubuh, saya juga berusaha keras meraih prestasi karena perasaan ingin diterima dan dicintai oleh orang lain.
Ada saat-saat saya merasa begitu down karena frustrasi merasa tubuh masih terlalu gemuk. Padahal, tubuh saya sudah makin kurus dan penampilan saya terlihat kuyu. Rambut saya rontok, kulit kering, dan wajah saya terlihat tua karena kurang nutrisi. Hal itu membuat saya makin terpuruk.
Tak hanya sekali saya mengambil cutter untuk menyayat lengan dan membiarkan darah mengalir. Ada rasa puas seolah melampiaskan dendam pada tubuh yang saya anggap tak berguna ini.
Di saat-saat seperti itu, roh jahat anorexia nervosa seolah menjadi sahabat yang paling memahami diri saya. Dia selalu menasihati agar saya terus menjaga tubuh saya dan menjauhi makanan. Berhasil tidak makan sama dengan mencetak prestasi. Sedikit saja kelebihan kalori, ia sudah berbisik bahwa saya pantas dihukum dan esoknya saya harus menggandakan diet.
Dalam setahun, berat badan saya turun drastis, hanya tinggal 36 kg dan saya berkali-kali hampir mati. Saya sudah sering merasakan jantung ini berhenti sewaktu latihan lari. Meski sudah sangat kurus, saya masih terus latihan jogging agar bisa lebih kurus lagi!
Salah satu kebiasaan buruk roh jahat itu adalah menyuruh saya ngemut pil pencahar yang dengan mudahnya saya dapatkan di minimarket. Pencahar itu membantu saya mengeluarkan apa pun yang saya makan.
Sebetulnya, selama kuliah di sana, ada seorang pria yang setia memperhatikan saya. Namanya Adolf. Ia kakak kelas saya dari Jakarta yang kuliah di jurusan bisnis di universitas yang sama. Nyaris tiap hari ia memperingati saya untuk berhenti diet ketat dan mulai makan secara normal. Nyaris tiap hari juga dia mengucapkan mantranya: “You are beautiful, you are precious!” Namun, saya tak pernah mengindahkannya. Begitu dalam luka batin yang saya rasakan sehingga ketika itu saya tak lagi percaya ada ketulusan dalam cinta.
Padahal, Adolf harus menempuh perjalanan jauh dari tempat kos ke kampus naik bus selama 2 jam sekali jalan hanya untuk menemui saya. Untuk memastikan bahwa saya makan dan membawakan saya makanan. Ia melakukannya nyaris tiap hari selama dua tahun!
Saya benar-benar tak sudi makanan yang masuk ke dalam perut saya berubah jadi kalori. Saya sudah tidak punya rasa lapar. Saya merasa lebih baik dibunuh daripada harus makan. Tubuh mana yang bakal tahan bila dianiaya terus-menerus seperti itu? Akhirnya, pada puncaknya saya harus dilarikan ke rumah sakit karena terkapar dan tak bisa bangun. Itu terjadi di tahun kedua kuliah. Berat badan saya ketika itu 35 kilogram saja!
Cinta Sejati Menyelamatkan
Di saat-saat kritis itu saya sudah merasakan roh saya meninggalkan tubuh dan saya bisa melihat tubuh saya sendiri. Ayah saya sampai harus meninggalkan semua pekerjaannya di Bali demi merawat saya selama masa pengobatan di Australia. Pelan-pelan saya berjuang bangkit dan berani melawan roh jahat anorexia nervosa yang bersemayam dalam diri saya selama dua tahun ini. Itu sama sekali tidak mudah. Saya harus belajar menerima diri sendiri dulu dan membangun kepercayaan diri. Kehadiran Adolf dan Ayah yang mencintai saya begitu tulus akhirnya membangkitkan semangat hidup saya kembali.
Penampilan saya sangat buruk saat itu. Saya sudah mirip tengkorak. Kulit penuh bercak kehitam-hitaman dan ditumbuhi bulu. Karena tak punya lemak, baru terbentur sedikit saja seluruh kulit langsung memar menghitam. Tetapi, Adolf terus saja membisikkan mantra cintanya kepadaku: “You are beautiful, you are precious!”
Perlahan-lahan, saya mulai memercayai apa yang dikatakan Adolf. Ada satu pernyataan Adolf yang begitu kuat melekat di batin saya: “Kamu boleh membenciku karena aku menyuruhmu makan. Tak apa. Asal kamu bisa terus hidup!” Saat saya mulai melunakkan hati, barulah saya tersadar bahwa saya ketika itu sudah berhenti menstruasi selama setahun!
Usia saya baru dua puluh satu tahun. Saya mau hidup! Saya melihat ada jalan panjang terbentang di depan dan dengan siapa saya akan menitinya: Adolf dan cintanya serta keyakinannya bahwa saya sangat berharga. Perlahan-lahan roh jahat anorexia kehilangan kuasanya atas diri saya berkat dukungan cinta.
Meski nilai-nilai selama kuliah sangat bagus, kini saya memutuskan untuk meninggalkan kuliah saya karena tak ingin lagi mempelajari tentang gizi. Saya kembali ke Bali dan melakukan kegiatan yang saya sukai, yaitu melukis dan menjalankan bisnis resor kecil di pinggir pantai di Desa Tianyar, Tulamben, yang terkenal dengan bawah lautnya yang teramat indah.
Dari kegiatan melukis saya belajar menjaga konsentrasi dan juga kesabaran. Itulah bekal untuk selalu kembali ke jati diri dan eling. Kesadaran itu sekaligus menjauhkan saya dari perasaan depresi dan dikuasai emosi-emosi buruk di masa lalu. Biarlah saya menikmati kehidupan yang sangat saya cintai saat ini sambil menunggu Adolf merampungkan kuliahnya. Saya bersyukur Tuhan telah mengirimkan malaikat penjaga yang menyembuhkan luka saya dengan cinta tulusnya.(f)
Rani Rachmani Moediarta (Kontributor - Bali)
Topic
#anoreksi



