True Story
Ketegaran Ririn Ekawati Menghadapi Kanker yang Merenggut Sang Suami Ketika Belum Genap Dua Tahun Berumah Tangga

30 Oct 2017



Foto: Dok. Pribadi
 
MENYIAPKAN DIRI
Cattleya masih berusia enam bulan saat Ririn memutuskan untuk menjalankan ikhtiar mendoakan kesembuhan Ferry dengan melakukan ibadah umrah. Rencananya itu didukung Ferry. Sebenarnya Ferry sempat menyatakan ingin ikut, tapi akhirnya batal karena ia tak mau menyusahkan orang lain jika kondisinya memburuk. Ferry juga masih harus menjalani kemoterapi di hari keberangkatan umrah.
 
Alasan yang membuat Ririn sempat ingin membatalkan kepergiannya untuk berumrah. “Saat Ferry tahu saya ingin membatalkan umrah, ia marah sekali, sampai melepaskan selang oksigennya dari hidung untuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja,” papar Ririn, yang pada 5 Juni 2016 berangkat ke Tanah Suci Mekah. Selama kepergiannya, pengasuhan Cattleya ia percayakan kepada tante dan adik perempuannya, Rini Yulianti.
 
Pada hari keberangkatannya, Ferry mengantar Ririn ke bandara. Kepada Ririn, ia berpesan untuk mendoakan yang terbaik, dan agar keduanya lebih kuat menghadapi cobaan. Ririn tak merasakan ada yang janggal dari pesan-pesan sang suami.
 
“Selama umrah, komunikasi kami melalui videocall berjalan lancar dan ia kelihatan sehat. Ini membuat saya lebih fokus berdoa agar penyakitnya diangkat,” kenangnya. Namun begitu, ada yang sempat mengganjal pikiran Ririn kala itu. Tiap kali berkomunikasi lewat chat atau videocall, Ferry selalu meminta maaf kepadanya.
 
“Ia mengatakan, ‘Maaf, selama pernikahan, saya lebih sering menyusahkan kamu. Saya sudah jarang melihat tawa-tawa lepas kamu yang dulu, seperti saat pacaran. Saya minta maaf,’” tutur Ririn, menirukan perkataan sang suami. Air matanya bergulir.
 
Empat hari setelah menjalani kemoterapi, Ferry menyampaikan keinginannya lewat pesan singkat bahwa ia ingin menemui Cattleya di rumah dan mengajak ketiga anaknya berlibur ke Puncak, Bogor. “Saya izinkan. Buat dia, berlibur itu salah satu treatment yang bisa membuatnya senang dan sehat,” ujar Ririn, yang percaya bahwa bahagia adalah obat untuk segala jenis penyakit.
 
Ternyata, sehari sepulang berlibur dari Puncak, kondisi Ferry memburuk dan harus masuk rumah sakit. Ririn yang masih di Tanah Suci Mekah memantau kesehatan suaminya lewat videocall dari ponsel adiknya, Rini, yang ikut menjaga Ferry di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
 
Masih lekat dalam ingatan Ririn detik-detik videocall terakhirnya dengan Ferry. Komunikasi itu terjadi sesaat sebelum dokter memasangkan selang oksigen ke tenggorokannya karena Ferry kesulitan bernapas. “Ia mengacungkan jempolnya. Menandakan bahwa ia baik-baik saja dan masih kuat. Saya masih ingat betul senyum di wajahnya,” kisah Ririn sambil terisak.
 
Dalam kondisi kritis, Ferry harus dilarikan ke RS Pertamina Indonesia, karena ruang ICU di RSCM penuh. Dalam perjalanan itulah, Ferry menyerah pada kanker darah yang makin ganas menggerogoti tubuhnya. Ferry mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 11 Juni 2017, pukul 00.15 WIB.
 
Padahal, di saat yang sama, Ririn telah menyusun berbagai rencana untuk mengupayakan kesembuhan sang suami. Mulai dari mencari donor sumsung tulang belakang ke rumah sakit di Jepang atau Belanda, sampai ingin menjalani kemoterapi di Singapura.
 
Namun, takdir Tuhan berkata lain. Meski ibadah umrahnya belum selesai, Ririn segera pulang ke tanah air dan sempat melihat wajah almarhum suaminya sebelum dimakamkan di San Diego Hill, Jawa Barat, di hari yang sama, selepas waktu magrib.
 
Sejak sang suami sakit, Ririn dan Ferry sepakat untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun, kecuali keluarga dan sahabat terdekat. Mereka enggan berkeluh kesah kepada orang lain atau curhat di media sosial. “Ferry sangat tidak suka dikasihani orang lain. Lagi pula, kami berpikir, lebih baik berbagi kebahagiaan saja di media sosial, supaya orang yang melihatnya juga senang,” imbuh Ririn, seraya tersenyum.
 
Namun, keputusan ini justru memanen berbagai komentar miring di media sosial. Misalnya, ketika ia mengunggah foto dirinya tersenyum bersama teman-temannya, ada saja yang mengatakan, “Suaminya baru meninggal, bisa-bisanya hangout sama teman-teman.” Atau, ketika Ririn berusaha menghilangkan kesedihan anak-anaknya dengan berlibur bersama, ada saja haters yang berkomentar, “Suami baru meninggal, sudah bisa ketawa-ketawa dan senang-senang di luar negeri.”
 
“Mereka tidak tahu kehidupan saya seperti apa. Mereka tidak tahu saat saya sedang terpuruk dan sedih. Masa iya saya harus menunjukkan drama itu di media sosial dan meminta belas kasihan?” tutur Ririn, yang sempat stres menghadapi hujatan di media sosial, hingga berat badannya turun 7 kg.
 
Tak pernah sekali pun Ririn mempertanyakan kepada Tuhan mengapa harus dirinya yang melewati cobaan pahit. “Siapa saya, berani tanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’ Inilah takdir hidup yang harus saya jalani. Saya percaya, Tuhan memberi cobaan ini karena saya kuat dan mampu,” ujarnya, tegar.

Ririn mengaku belajar menjadi pribadi yang tegar karena perjalanan hidupnya yang naik-turun. Orang tuanya bercerai saat ia masih sangat muda. Pernikahan pertamanya pun harus kandas. “Pengalaman adalah pelajaran hidup terbaik,” ungkapnya.
 
Walau hanya diberikan waktu kurang dari dua tahun menjalani bahtera rumah tangga bersama Ferry, baginya waktu yang diberikan Tuhan itu sudah cukup indah untuk dikenang. Kini tugasnya berjuang memberikan kehidupan yang terbaik bagi putrinya, Jasmine dan Cattleya.
 
“Saya harus tetap semangat mengusahakan masa depan bagi kedua putri saya,” tekad Ririn, yang tengah fokus memajukan bisnis floris yang sudah ia rintis sejak beberapa tahun lalu.(f)

Baca juga:


Topic

#kisahsejati

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?