
Foto: Dok. Pribadi
NYARIS MENYERAH
Benar saja. Sejak awal menikah, tantangan demi tantangan datang menguji kesungguhan ikrar setianya kepada sang suami. Butuh kesabaran dan kegigihan untuk mendorong Ferry mau berobat ke dokter. Ferry sangat keras kepala. Ia selalu berdalih bahwa pada akhirnya semua orang akan berpulang. Ini yang membuatnya enggan berobat.
Sel-sel kanker itu terus menggerogoti tubuh Ferry. Ia mulai merasakan mual-mual, demam, lemas, dan tulang-tulangnya terasa ngilu. Dengan kekerasan kepalanya, Ferry hanya menganggap semua gejala itu sebagai hal yang biasa. “Katanya, itu hanya karena kecapekan. Dia tidak peduli dengan keadaannya. Padahal, sel darah putih dalam tubuhnya tinggi sekali,” jelas Ririn.
Sampai suatu ketika, Ferry mengalami demam tinggi dan muntah-muntah hebat. Ririn merasa gejala yang dialami suaminya makin tak wajar dan harus segera dibawa ke dokter. Dari yang awalnya menolak, hati Ferry luluh saat Ririn mengingatkan calon buah hati mereka dan tiga anak Ferry, membutuhkan kehadiran ayah.
“Saat itu saya sedang hamil Cattleya 4 bulan. Ini menjadi alasan yang kuat untuk mendorong dia agar mau berobat. Saya katakan kepadanya, jika ia ingin melihat Cattleya dan tiga anaknya tumbuh besar, ia juga harus sehat,” tutur Ririn.
Selama lebih dari dua tahun menderita leukemia, Ferry tak pernah tahu penyakitnya itu sudah masuk stadium berapa. Setelah Ririn memaksanya untuk menemui dokter, barulah tahu bahwa Ferry mengidap kanker jenis chronic myeloid leukemia (CML).
Menurut ahli hematologi onkologi medik Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Hilman Tadjoedin Sp.PD, KHOM, kanker CML atau leukemia granulositik kronis ini adalah jenis kanker darah yang tergolong langka. Perbandingan kasus yang terjadi di Indonesia sekitar 1,7 : 100.000 orang per tahunnya.
CML merupakan jenis kanker darah yang membuat tubuh menghasilkan sel darah putih berlebihan. Jenis kanker ini sebenarnya tumbuh relatif lambat dan butuh waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Sehingga, si penderita harusnya mengonsumsi obat khusus secara teratur selama minimal 12 bulan dan tidak boleh putus sejak awal diagnosis. Sayang, ketika Ferry didiagnosis awal menderita leukemia pada tahun 2013, ia tidak melakukan pemeriksaan lanjutan atau mengonsumsi obat apa pun. Ini membuat kankernya menjadi akut.
Walau terlambat memulai pengobatan, Ririn tak pernah putus asa mengharapkan kesembuhan suaminya. Ia pun tak pernah absen menemani Ferry berobat ke rumah sakit atau mendorongnya menjalani kemoterapi. “Apalagi Ferry tipe yang manja. Maunya apa-apa dengan saya. Ditemani
mandi, ganti baju, makan, dan lainnya harus dengan saya,” kenang Ririn.
Pernah suatu kali kondisi suaminya sangat drop. Ririn harus membopong pria bertinggi tubuh 180 cm dan berbobot 80 kg itu seorang diri. Padahal, di saat yang sama ia sedang hamil lima bulan. “Tapi, luar biasa kuasa Tuhan. meski sedang hamil besar, saya bisa mengangkat tubuh Ferry yang berat,” ucapnya, bersyukur.
Kondisi tubuh Ferry terus menurun. Tiba-tiba tubuhnya lumpuh dan menggigil hebat karena kadar sel darah putihnya terlalu tinggi. Limpanya membengkak dan membuat tubuhnya sulit bergerak, tidak bisa makan dan kerap mengaduh kesakitan jika tersentuh sedikit saja.
Ririn tengah hamil 7 bulan, ketika dokter mengatakan bahwa limpa Ferry harus dioperasi. Di satu sisi, operasi limpa akan menjadi berbahaya. Ferry akan kekurangan banyak darah dan tidak bisa menyaring darah dan racun. Sehingga, kondisi Ferry bisa memburuk.
“Saya stres berat. Di satu sisi saya iba menyaksikan Ferry yang terus-menerus kesakitan karena limpanya membengkak. Di sisi lain, ada risiko yang lebih berat ketika operasi dilakukan,” cerita Ririn. Pada akhirnya dokter mengurungkan rencana operasi.
Dalam kondisi hamil besar, tempaan ujian berat membuat hatinya menjerit. Ririn kerap menangis seorang diri di pojok ruangan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, agar isaknya tak terdengar Ferry. Ia tak ingin suaminya khawatir dan memperburuk kondisinya.
Dalam tangisnya, Ririn kerap mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang harus ia lakukan menghadapi situasi seperti ini. Apakah ia harus menyerah, atau terus melanjutkan perjuangan hingga darah penghabisan? “Ini titik terendah saya. Rasanya sudah tidak kuat lagi,” kenang Ririn, yang didukung keluarganya membantu menguatkan dirinya untuk bertahan.
Kendati merasa hidupnya sangat berat, Ririn tetap berupaya tidak terlalu stres agar jabang bayi di rahimnya tidak terdampak oleh impitan beban hidup yang ia rasakan. Ia rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan, hingga pada 20 Desember 2016, Cattleya lahir, sebagai bayi sehat yang
cantik dan menggemaskan.
Ririn bersyukur, Jasmine putri pertamanya yang sedang memasuki usia remaja dan butuh banyak erhatian, sangat memahami posisinya. “Jasmine sangat mengerti dengan keadaan ini dan mengizinkan saya untuk sibuk bolak-balik rumah sakit demi mengurus Ferry. Ia justru jadi lebih terbuka dan menceritakan banyak hal kepada saya,” katanya, tersenyum.
Topic
#kisahsejati


