Foto: shutterstockRuang perawatan yang terbatas membuat pasien COVID-19 terkadang diperbolehkan dirawat atau menjalani masa pemulihan di rumah, dengan isolasi mandiri. Sebagian pasien yang masih lemah, anak-anak, atau lansia biasanya masih memerlukan bantuan orang untuk membantu dan merawat mereka di rumah.
Idealnya, mereka yang merawat ini dilengkapi alat pelindung diri seperti yang dikenakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Tapi, kalau kebutuhan untuk tenaga kesehatan saja sulit, apalagi untuk orang awam. Sahabat Femina, Caecilia Kapojos membagikan pengalamannya saat merawat sang Ibu yang berusia 74 tahun, setelah sempat dirawat di rumah sakit selama satu minggu, 24/3/2020 hingga 30/3/2020.
Berawal dari keluhan maag dan tidak ada nafsu makan, sang Ibu kemudian mengalami batuk. Dari hasil pemeriksaan ditemukan pneumonia (paru-paru basah). Pada tanggal 26/3/2020, hasil pemeriksaan mengonfirmasi kalau Ibu terpapar COVID-19. Caecilia yang berada di lain kota pun memutuskan untuk pulang merawat Ibu. "Saya dan suami juga sebetulnya takut dan khawatir, tapi bagaimana lagi. Ini ibu sendiri."
Banyaknya tantangan yang dirasakannya selama merawat, membuatnya sulit membayangkan beratnya kerja para tenaga kesehatan yang harus merawat banyak pasien COVID-19. Ia mengaku sempat syok melihat Ibu yang biasanya aktif dan ceria, menjadi lemah tak berdaya. Karena itu ia perlu menguatkan diri dulu untuk merawat Ibu.
Memakai APD? "Boro-boro. Saya cuma sempat membeli masker kain dan hand sanitizer. Sarung tangan sekali pakai ada, tapi karena di rumah saya pikir lebih baik sering cuci tangan saja."
Anjuran untuk jaga jarak dengan pasien, physical distancing, juga tidak bisa dilakukan. Ibu yang masih lemah selama lima hari pertama sejak pulang dari rumah sakit, perlu dibantu untuk bangun, berjalan ke kamar mandi berkali-kali karena diare, serta ganti popok. "Saya bolak balik cuci tangan ganti masker. Sehari saya ganti masker 4 kali, serta sering ganti baju."
Jika idealnya dibatasi ruang gerak gerak antara kamar tidur dan kamar mandi, ini pun sulit dilakukan. Tapi setidaknya ia melarang Ibu untuk ke dapur, ruang makan, teras, dan kamar tidur - kamar mandi lain.
Ia berusaha mematuhi apa yang masih bisa dilakukan seperti memisahkan peralatan makan dan pakaian kotor Ibu. Ia cukup' menggunakan sabun dan air mengalir ukup untuk mencuci semua itu. Ia tidak menggunakan air panas, berpegang pada teori bahwa virus corona akan mati oleh sabun yang bersifat basa.
Sesuai anjuran dokter, menggerakkan badan dan berjemur./ Foto: dok. pribadiMerawat pasien COVID-19 memang tak mudah, apalagi ia juga masih harus memenuhi kewajiban sebagai karyawan yang bekerja dari rumah, sambil terus menjaga imunitas untuk melindungi diri dari virus corona. Yang tak kalah penting adalah melakukan koordinasi dan melapor pada dokter, dinas kesehatan, serta ketua rukun tetangga. "Misalnya, saat konsultasi ke dokter lewat ponsel saya harus melaporkan lewat video agar dokter bisa mengetahui kondisi napas Ibu. "
Karena tak bisa keluar rumah karena ia menjadi ODP, Caecilia hanya bisa mengandalkan layanan antar makanan atau belanja daring. Ia bersyukur tetangganya kerap mengiriminya bahan makanan juga.
"Yang tidak pernah saya baca dari berbagai sumber adalah betapa sulitnya menghadapi mental lansia, yang cenderung mudah baper karena tidak dijenguk teman dan anak. Tidak seperti orang muda yang mencari tahu lewat internet, mereka juga kurang mendapat informasi mengapa mereka harus menjaga jarak dan sebagainya. Beliau kemungkinan juga terpapar karena saat orang sudah mulai diam di rumah, beliau masih ke tempat ibadah."
Usaha dan doa Caecilia tak sia-sia. Setelah lima hari perawatan di rumah, sang Ibu sudah memiliki nafsu makan, tidak lagi diare, dan napasnya tak lagi tersengal-sengal. "Kini ibu sudah bisa berjemur di luar rumah. Rumah pun sudah disemprot disinfektan oleh dinas kesehatan. Saya dan asisten rumah tangga yang membantu sudah melakukan rapi test. Hasilnya negatif," ujarnya pernuh syukur.
Perjuangan melawan COVID-19 belum selesai. Meskti Ibu sudah melakukan Swab Test pertama dan hasilnya negatif, tapi masih harus melakukan SWAB Test lagi di rumah sakit. Jika dua hasil SWAB Test menunjukan negatif COVID-19, maka pihak rumah sakit akan mengeluarkan surat keterangan pasien sembuh COVID-19. Caecilia pun semestinya melakukan rapid test lagi, seperti yang disarankan dokter. (f)
Baca Juga:
Kisah Chika Mailoa, Alumni Wajah Femina, Sembuh Dari COVID19
Test COVID19 Makin Marak, Ini bedanya Rapid Test dengan Swab Test
Kisah Ika Dewi Maharani, Satu-Satunya Relawan Wanita Supir Ambulans COVID-19
Baca Juga:
Kisah Chika Mailoa, Alumni Wajah Femina, Sembuh Dari COVID19
Test COVID19 Makin Marak, Ini bedanya Rapid Test dengan Swab Test
Kisah Ika Dewi Maharani, Satu-Satunya Relawan Wanita Supir Ambulans COVID-19
Topic
#corona, #covid


