True Story
Ankatama Ruyatna & Esha Mahendra : Mengatasi Perbedaan dengan Cara Jenaka

25 May 2020



Dok. Pribadi



Ankatama Ruyatna memang sebelumnya dikenal baik sebagai penyiar radio bersuara halus. Setidaknya sudah 12 tahun ia melanglang buana mengisi acara radio, bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMA. Selama perjalanan kariernya di stasiun radio swasta di bilangan Sarina, Jakarta Pusat, kehadiran sosok Esha Mahendra sebagai produser di stasiun radio yang sama ternyata istimewa di hati Anka.

Tak hanya Anka, Esha pun merasakan getaran yang sama. Berawal dari teman curhat soal pekerjaan, keduanya merasa nyaman satu
sama lain. Hingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendeklarasikan hubungan. 

Setelah empat tahun berpacaran, akhir tahun 2015, Anka dan Esha memantapkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Membawa keduanya memasuki babak baru dalam hidup yang penuh kejutan dan tantangan. 

Latar belakang budaya yang berbeda memberi warna tersendiri dalam kehidupan pernikahan Anka dan Esha. Anka kecil tumbuh besar di Swiss, yang terbiasa dengan sarapan roti. Berbeda dengan Esha si anak Betawi asli yang menjadikan menu nasi uduk sebagai comfort food-nya.

“Gue biasa sarapan harus kenyang, full carbo. Begitu ketemu Anka sukanya makan roti. Di Indonesia, kita makan roti pake mentega. Kalau di keluarga dia beda, pakai unsalted butter. Wah, masuk nggak tuh ke tenggorokan gue?,” ceritanya, tergelak.

Anka yang berasal dari keluarga SundaJawa memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan Esha yang berdarah Betawi-Palembang. Dalam hal cara bicara misalnya, Anka cenderung bicara dengan santai dan bernada halus, sedangkan Esha terbiasa berbicara dengan nada tinggi. 

“Di keluarga gue, kalau manggil tuh kenceng banget. Kebiasaan-kebiasaan itu yang membuat gue ngomong biasa aja kaya orang marahmarah. Padahal mah enggak,” tambahnya lagi

Selain itu, gaya asuh kedua orang tua mereka yang berbeda juga dirasakan Anka dan Esha Diakui Esha, gaya mendidik orang tuanya dulu terbilang keras. Berbeda dengan Anka yang cenderung modern dan senang mencurahkan kasih sayang dalam bentuk kata serta pelukan.

Memadukan dua budaya yang berbeda bukan perkara mudah. Namun dari dua perbedaan yang bertolak belakang itu pula Anka dan Esha menemukan ramuan pas dalam berkeluarga. Keduanya memilih mempersatukan perbedaan tersebut dengan berada di frekuensi tengah. 

“Yang di atas bisa turun, yang di bawah bisa naik. Jadi kita ketemu di tengah-tengah. Contohnya, aku bisa belajar jadi lebih tegas sementara Esha jadi jauh lebih lembut,” ujar Anka.

Anka dan Esha menyadari betul bahwa komunikasi yang terbuka adalah salah satu hal paling esensial dalam 5 tahun menjalani kehidupan rumah tangga. 

“Mungkin terdengar klise, tapi komunikasi harus dilakukan. Dan kita setiap hari harus menyempatkan waktu untuk ngobrol. Bisa tuh kita dari yang adem-adem sampai yang tiba-tiba debat, trus balik lagi ketawa. Tapi intinya, kita saling tahu maunya apa dan saling memahami,” jelas Esha. 

Hal tersebut diamini oleh Anka yang mengaku komunikasi terbuka dengan pasangan justru dapat meminimalisir pertengkaran. 

“Jadi apa yang kita rasakan akan kita bicarakan. Karena menurut kita conversation yang ngutang - udah dirasain tapi dipendam sampai akhirnya numpuk dan pecah - itu yang akhirnya akan jadi
masalah,” tambahnya. 

Menjalin komunikasi yang terbuka membuat hubungan mereka berjalan dengan sinergi. Keduanya percaya bahwa pernikahan yang tidak bersinergi tidak akan menjadi sebuah rumah tangga yang memiliki kekuatan. (f)



BACA JUGA :
Happy Salma & Tjok Gus : Bahagia dalam Perbedaan
Pasangan Influencer Pinot dan Ditut Siasati Keterbatasan Di Perantauan
Dibalik Cerita Cinta Chef Steby Rafael dan Maria Madeline


 


Topic

#Ankatama, #EshaMahendra

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?