
Foto: Studio Batu, DES
Lahir di Jakarta, tumbuh besar di Yogyakarta. Wregas Bhanuteja (23) merasa beruntung dan bahagia mendapatkan kesempatan hidup seperti itu. Di kota metropolitan seperti Jakarta, sutradara Indonesia pertama dan termuda yang meraih penghargaan Leica Cine Discovery Prize for Short Film di 55th Semaine de la Critique itu bisa merasakan perjuangan sang ibu, Ika Rahutami, dosen ekonomi dan bisnis, saat mengandung dirinya.
"Gue ngebayangin Ibu dalam kondisi hamil besar, membawa gue dalam perutnya dan harus naik turun angkot dari Bekasi untuk mengajar di kampus di Grogol," ungkap pria penggemar kain Nusantara itu. Ia mengaku, perjuangan sang ibu saat mengandungnya telah membentuk cara pandangngya terhadap wanita hingga saat ini.
Kota Yogyakarta membuat Wregas lebih dekat dengan seni dan akar para leluhur. Sang ayah, Ratrianto Saptowibowo, yang ia gambarkan sebagai pekerja di sebuah perusahaan otomotif, berjasa mengenalkan karya sastra, seperti puisi-puisi Chairil Anwar, kepada Wregas. Begitu pula dengan sang kakek, R.J.B. Soehendradjati, yang berprofesi ganda sebagai insinyur sekaligus dalang, dan nenek Wregas, Maria Santirini, yang pernah menjadi penari Jawa.
Dari mereka, Wregas --yang bersama teman-teman sekolahnya dulu gemar menghadiri pameran lukisan Eko Nugroho dan pementasan puisi Joko Pinurbo-- belajar berjuang menjalani hidup yang modern, tapi tetap menjaga akar budaya sebagai identitasnya. Wregas tidak akan melupakan nasihat dari sang kakek yang mengatakan hidup prasojo (sederhana) dan jangan kegedhen ndas (kebesaran kepala). "Satu-satunya kegagalan kamu adalah ketika kamu merasa besar kepala atau sudah sukses," ujar sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta ini, menirukan nasihat sang kakek.
Maka, seperti janji yang ia ucapkan dalam pidato kemenangannya di Cannes, Wregas akan kembali ke Indonesia dan terus membuat film. Ia tidak ingin terlalu lama terpaku dalam euforia kemenangan Prenjak. "Gue ini tukang bikin film. Kalau gue terlalu lama pada kegembiraan saat ini dan tidak membuat film lagi, apakah gue masih layak disebut tukang bikin film?" ujarnya, seraya meneguk habis double espresso di hadapannya. (f)
Topic
#Prenjak


