Trending Topic
Film Pendek Nyaris Tak Terdengar

1 Aug 2011

Film pendek kerap menjadi batu loncatan bagi para sineas, ketika ingin mengawali debutnya di dunia layar lebar. Euforia film pendek di negeri ini sebenarnya sudah bermula sejak satu dekade lalu. Tetapi, sampai sekarang, akses menonton film pendek masih terbatas. Tidak sedikit juga judul film pendek yang baru terdengar, saat media ramai memberitakan kemenangan mereka di ajang festival film internasional. Benarkah film pendek lebih mendapat tempat di luar negeri?

Belum ada kesepakatan pasti tentang definisi film pendek. Namun, Academy of Motion Picture Arts and Sciences menerjemahkan film pendek sebagai film yang berdurasi sekitar 40 menit atau kurang. Film ini menjadi benih atau bentuk paling tua dari film panjang (feature). Sebelum kemudian berkembang menjadi produk hiburan komersial seperti sekarang.

Di Indonesia, film pendek umumnya hanya bisa ditonton di festival-festival film. Format film pendek yang tidak baku membuat film jenis ini tidak punya tempat yang jelas. “Film pendek masih dianggap belum punya nilai jual. Lagi pula, belum ada pendataan film pendek apa saja yang sudah diproduksi di Indonesia selama ini,” papar Lulu Ratna, penggagas festival film independen dari komunitas Boemboe (komunitas yang menyimpan arsip film pendek dan menyelenggarakan festival film pendek). Boemboe sendiri mendefinisikan film pendek sebagai karya film selain film panjang (berdurasi lebih dari 60 menit).

Hal unik lain dari film pendek, menurut Lulu, adalah semangat independennya. Karena dari awal tidak dibuat untuk produk komersial, film pendek biasanya lebih bebas dan liar imajinasinya. “Kalau kita melihat buku pedoman penjurian festival film Indonesia, film pendek adalah film yang tidak perlu disensor. Film pendek punya kebebasan mutlak, tapi di sisi lain, tidak ada pengakuan. Padahal, film pendek itu sama pentingnya dengan film panjang,” ungkapnya lagi.

Semangat nonkomersial inilah yang membuat film pendek hanya beredar dan dipertontonkan di kalangan komunitas tertentu, atau di festival. Kineforum adalah salah satu komunitas yang rajin menggelar tontonan film pendek. Setiap periode tertentu, komunitas yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki ini memutar film-film pendek, yang merupakan karya anak bangsa, atau film impor dari negeri seberang. Sementara itu, di Yogyakarta Anda bisa menikmati sajian yang sama di bioskop alternatif Kinioki.

Sutradara film pendek Kara, Anak Sebatang Pohon, Edwin, sependapat dengan Lulu. Pria yang filmnya diputar di Festival Film Cannes 2005 ini mengatakan, film pendek selalu dirayakan sebagai kemurnian dari bentuk sinema. Sebab, karya film ini lahir dari anak-anak muda atau orang yang belum pernah membuat film. Penuh dengan kejujuran dan semangat meledak-ledak.

“Film pendek adalah nyawa dan bahan bakar yang memutar mesin industri perfilman. Sejak awal film diciptakan sekitar 100 tahun yang lalu, hingga detik ini, film pendek belum kehilangan apinya,” ungkap Edwin, sutradara film pendek yang banyak menuai penghargaan di ajang festival internasional.

Nyatanya, belum ada festival film pendek di Indonesia yang bertahan hingga sekarang. Festival Film-Video Independen Indonesia hanya mampu bertahan selama tiga tahun (1999–2002). Generasi barunya, Festival Film Konfiden, memiliki umur hidup tidak berbeda (2006–2009). Padahal, festival semacam ini telah melahirkan banyak sineas baru.

Karena tidak ada regenerasi, festival film itu ikut mandek. Akibatnya, film pendek yang ada biasanya hanya ‘ditempelkan’ pada festival film lain. Misalnya, V Film Festival, Q Festival, Festival Film Dokumenter, atau Jiffest. Masalahnya, di Indonesia sendiri industri film panjangnya masih sulit, apalagi film pendek. “Kalau festival sebesar Jiffest saja masih susah untuk bertahan, apalagi festival lain yang skalanya kecil,” terang Lulu.

Geliat festival film independen justru lebih hidup di luar Jakarta. Ada Festival Film Dokumenter di Yogya, ada Purbalingga Film Festival, dan ada Festival Film Solo. Bagi Lulu, kenyataan ini menjadi fakta menggembirakan, sekaligus memberi harapan terhadap kelanjutan perkembangan film pendek di tanah air.

Masalahnya, antusiasme orang untuk menonton film pendek juga belum tinggi. Film pendek umumnya dibuat oleh sineas baru, menggunakan artis yang tidak terkenal, dan tidak memiliki format atau durasi yang baku. Padahal, penonton film di tanah air sudah telanjur terbiasa dengan konsep film feature (panjang) yang memajang wajah-wajah ternama. Sementara itu, dari dulu, penggerak film pendek umumnya adalah para pelajar dan mahasiswa.

Di luar negeri, film pendek ditempatkan seperti halnya film art. Hampir setiap festival film memberi tempat bagi film pendek. Bahkan, festival sekelas Academy Awards atau Oscar pun punya kategori penghargaan untuk film pendek. “Tidak perlu menunggu menang. Bisa lolos seleksi screening, dipresentasikan secara layak, dan ditulis di katalog sebuah festival saja sudah sebuah penghargaan. Sebab, dari sinilah pintu gerbang untuk berjejaring dengan insan perfilman dunia terbuka,” tegas Lulu.

Sutradara muda yang ‘lahir’ dari Festival Film Pendek Konfiden, Chairun Nissa, menyatakan, di luar negeri industri film pendek lebih berkembang dan bisa dikomersialkan. Ada distributor yang mau membeli film pendek, ada TV lokal yang memutar film pendek, ada laman khusus yang mau memunggah film pendek. Karenanya, tak heran jika ada sineas yang seumur hidupnya hanya membuat film pendek saja. Sementara itu, ia mengamati bahwa di Indonesia, membuat film pendek biasanya hanya menjadi batu loncatan dan untuk kepentingan portofolio.

“Film pendek itu ibarat kartu nama, yang menunjukkan bahwa seseorang bisa membuat film,” jelas wanita yang pernah menjadi asisten sutradara di film Jamila dan Sang Presiden, ini. (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?