
Foto: Fotosearch
Berteman memang penuh dinamika, ada sukanya, nggak jarang ketemu duka. Femina bersama Ami Puspasari, M. Psi, psikolog lulusan Universitas Indonesia, mencoba membantu memecahkan beberapa masalah pertemanan yang membuat kepala pusing, seperti berikut.
Pacarnya menyebalkan
T: Beberapa bulan lalu, sahabat saya selama tiga tahun ini, B, jadian dengan J. Meski baik, lama-kelamaan pacar sahabat saya itu bikin saya kesal. J suka mengejek atau mengacak-acak rambut. J nggak pernah minta maaf, malah ketawa-ketawa, bahkan D ikut tertawa juga. Karena kesal, kalau B mengajak jalan bersama J, saya selalu menolak. Tapi penolakan ini berakibat renggangnya persahabatan saya dengan D. Duh, apa yang harus saya lakukan? (Annisa – Bandung)
J: Perlu agar kamu mengingat kembali bentuk hubungan yang terjalin di awal. Mungkin, mulanya, hubungan kalian cenderung langsung akrab, tanpa batasan yang jelas sehingga ekspresi becanda kalian pun bebas—melibatkan kontak fisik dan kata-kata menyebalkan. Coba, deh, bicarakan bahwa Anda merasa terganggu dengan sikap mereka secara terbuka pada sahabat Anda. Beritahu batas-batas Anda ingin diperlakukan mereka. Sampaikan baik-baik, gunakan bahasa tubuh yang mudah dimengerti, dan tidak memancing emosi. Jika B memang sahabat Anda, seharusnya dia terbuka menerima dan menyikapi keberatan Anda dengan baik. Terus terang juga kenapa Anda suka menolak jalan bareng. Jadi, B dan J belajar juga menghargai sahabat.
Gosip masa lalu
T: Waktu SMU saya dijauhi teman-teman karena dikenal sombong. Sekarang, setelah kuliah, saya sadar sombong merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, beberapa waktu lalu, teman-teman kuliah mendengar secara nggak langsung bahwa waktu SMU saya sombong. Akhirnya, ada yang jaga jarak padahal saya nggak ”ngapa-ngapain” dia. Saya harus bagaimana, dong? (Febri via email)
J: Memang menyedihkan kalau ada orang mengungkit masa lalu ketika kita berusaha jadi lebih baik. Tapi, untuk mengembalikan kepercayaan orang memang butuh waktu. Tidak perlu berkecil hati, yang penting Anda tetap menunjukkan sikap rendah hati dan jadi diri sendiri apa adanya. Jika hal ini Anda lakukan secara konsisten, lambat laun orang lain akan melihat diri Anda sebenarnya, kok. Introspeksi tetap perlu dilakukan agar pribadi Anda lebih matang. Anda bisa mengungkapkan kekhawatiran dijauhi teman karena gosip pada teman baru Anda. Memang tidak mudah merangkul semua orang untuk jadi teman. Coba maafkan orang yang menyakiti Anda. Buktikan bahwa yang mereka pikirkan keliru.
Terlalu pendiam
T: Saya sering menangis sendiri di kamar karena sifat super pendiam saya. Saya suka minder ngobrol sama teman. Malah sahabat saya perlahan jarang bicara dan bermain lagi dengan saya. Tolong bantu saya meninggalkan sifat aneh ini. Teman-teman sering mengejek saya sebagai cewek paling pendiam yang mereka temui. (Amelia – Malang)
J: Tidak perlu memaksakan diri banyak berbicara supaya jadi orang yang menyenangkan atau menarik. Ada orang yang terlalu banyak bicara namun obrolannya tidak berisi, malah bualan belaka. Coba evaluasi alasan Anda menjadi pendiam. Seseorang yang minder nggak berani cerita pada orang lain biasanya karena takut salah. Selain lebih membuka diri, perkaya wawasan, misal dengan banyak baca suat kabar atau majalah. Maka pede Anda bertambah karena punya ’amunisi’ mengobrol atau memulai percakapan. Orang-orang di sekitar Anda juga akan merasa nyaman mengobrol karena Anda berwawasan luas. Oh iya, menjalin komunikasi nggak cuma lisan, bisa lewat tulisan. Coba tuliskan curhat Anda di buku harian. Siapa tahu, tulisan ini bisa jadi sebuah karya yang dinikmati semua orang.
Sahabat matre
T: Saya sudah bersahabat dengan C selama tiga tahun. Masalahnya, tiap saya bersama C, saya yang selalu keluar uang. Baik itu untuk ongkos transportasi atau jajan. Buat urusan keluar uang, dia memang pasif. Saya pernah bilang ketinggalan dompet pas mau bayar, eh, ternyata makanannya dibalikin lagi ke penjualnya dan dia nggak jadi beli. Bagaimana cara membicarakan masalah ini supaya sikapnya berubah tanpa menyinggung perasaan dia? (Dewi – Surabaya)
J: Apakah kamu juga mengenal keluarga dan latar belakang C? Apakah dia anak kos dengan biaya hidup pas-pasan atau seorang dari keluarga berada namun orangtuanya minta dia hidup secukupnya? Dengan mengetahui latar belakangnya, mungkin Anda lebih memahami dan memaklumi perilaku yang ia tampilkan saat ini. Terlepas dari itu, Anda perlu berikap asertif, bilang padanya keberatanmu atas sikap dia tersebut. Terus terang padanya bila ada saatnya Anda tidak bisa atau berkenan membantu sebab ada kebutuhan yang mesti Anda penuhi. Sampaikan dengan cara halus, bisa sambil bercanda. Misal, sambil tertawa, ”Wah, awal buka, nih, baru gajian. Biasanya saya terus yang traktir, kali ini gantian kamu, dong!” (f)
Baca juga: Memecahkan Masalah dengan Sahabat yang Terlalu Lama Menggantung
Pacarnya menyebalkan
T: Beberapa bulan lalu, sahabat saya selama tiga tahun ini, B, jadian dengan J. Meski baik, lama-kelamaan pacar sahabat saya itu bikin saya kesal. J suka mengejek atau mengacak-acak rambut. J nggak pernah minta maaf, malah ketawa-ketawa, bahkan D ikut tertawa juga. Karena kesal, kalau B mengajak jalan bersama J, saya selalu menolak. Tapi penolakan ini berakibat renggangnya persahabatan saya dengan D. Duh, apa yang harus saya lakukan? (Annisa – Bandung)
J: Perlu agar kamu mengingat kembali bentuk hubungan yang terjalin di awal. Mungkin, mulanya, hubungan kalian cenderung langsung akrab, tanpa batasan yang jelas sehingga ekspresi becanda kalian pun bebas—melibatkan kontak fisik dan kata-kata menyebalkan. Coba, deh, bicarakan bahwa Anda merasa terganggu dengan sikap mereka secara terbuka pada sahabat Anda. Beritahu batas-batas Anda ingin diperlakukan mereka. Sampaikan baik-baik, gunakan bahasa tubuh yang mudah dimengerti, dan tidak memancing emosi. Jika B memang sahabat Anda, seharusnya dia terbuka menerima dan menyikapi keberatan Anda dengan baik. Terus terang juga kenapa Anda suka menolak jalan bareng. Jadi, B dan J belajar juga menghargai sahabat.
Gosip masa lalu
T: Waktu SMU saya dijauhi teman-teman karena dikenal sombong. Sekarang, setelah kuliah, saya sadar sombong merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, beberapa waktu lalu, teman-teman kuliah mendengar secara nggak langsung bahwa waktu SMU saya sombong. Akhirnya, ada yang jaga jarak padahal saya nggak ”ngapa-ngapain” dia. Saya harus bagaimana, dong? (Febri via email)
J: Memang menyedihkan kalau ada orang mengungkit masa lalu ketika kita berusaha jadi lebih baik. Tapi, untuk mengembalikan kepercayaan orang memang butuh waktu. Tidak perlu berkecil hati, yang penting Anda tetap menunjukkan sikap rendah hati dan jadi diri sendiri apa adanya. Jika hal ini Anda lakukan secara konsisten, lambat laun orang lain akan melihat diri Anda sebenarnya, kok. Introspeksi tetap perlu dilakukan agar pribadi Anda lebih matang. Anda bisa mengungkapkan kekhawatiran dijauhi teman karena gosip pada teman baru Anda. Memang tidak mudah merangkul semua orang untuk jadi teman. Coba maafkan orang yang menyakiti Anda. Buktikan bahwa yang mereka pikirkan keliru.
Terlalu pendiam
T: Saya sering menangis sendiri di kamar karena sifat super pendiam saya. Saya suka minder ngobrol sama teman. Malah sahabat saya perlahan jarang bicara dan bermain lagi dengan saya. Tolong bantu saya meninggalkan sifat aneh ini. Teman-teman sering mengejek saya sebagai cewek paling pendiam yang mereka temui. (Amelia – Malang)
J: Tidak perlu memaksakan diri banyak berbicara supaya jadi orang yang menyenangkan atau menarik. Ada orang yang terlalu banyak bicara namun obrolannya tidak berisi, malah bualan belaka. Coba evaluasi alasan Anda menjadi pendiam. Seseorang yang minder nggak berani cerita pada orang lain biasanya karena takut salah. Selain lebih membuka diri, perkaya wawasan, misal dengan banyak baca suat kabar atau majalah. Maka pede Anda bertambah karena punya ’amunisi’ mengobrol atau memulai percakapan. Orang-orang di sekitar Anda juga akan merasa nyaman mengobrol karena Anda berwawasan luas. Oh iya, menjalin komunikasi nggak cuma lisan, bisa lewat tulisan. Coba tuliskan curhat Anda di buku harian. Siapa tahu, tulisan ini bisa jadi sebuah karya yang dinikmati semua orang.
Sahabat matre
T: Saya sudah bersahabat dengan C selama tiga tahun. Masalahnya, tiap saya bersama C, saya yang selalu keluar uang. Baik itu untuk ongkos transportasi atau jajan. Buat urusan keluar uang, dia memang pasif. Saya pernah bilang ketinggalan dompet pas mau bayar, eh, ternyata makanannya dibalikin lagi ke penjualnya dan dia nggak jadi beli. Bagaimana cara membicarakan masalah ini supaya sikapnya berubah tanpa menyinggung perasaan dia? (Dewi – Surabaya)
J: Apakah kamu juga mengenal keluarga dan latar belakang C? Apakah dia anak kos dengan biaya hidup pas-pasan atau seorang dari keluarga berada namun orangtuanya minta dia hidup secukupnya? Dengan mengetahui latar belakangnya, mungkin Anda lebih memahami dan memaklumi perilaku yang ia tampilkan saat ini. Terlepas dari itu, Anda perlu berikap asertif, bilang padanya keberatanmu atas sikap dia tersebut. Terus terang padanya bila ada saatnya Anda tidak bisa atau berkenan membantu sebab ada kebutuhan yang mesti Anda penuhi. Sampaikan dengan cara halus, bisa sambil bercanda. Misal, sambil tertawa, ”Wah, awal buka, nih, baru gajian. Biasanya saya terus yang traktir, kali ini gantian kamu, dong!” (f)
Baca juga: Memecahkan Masalah dengan Sahabat yang Terlalu Lama Menggantung
Topic
#masalahberteman




