Dok. Rawpixel
Laporan terbaru per hari ini (18/5) dari Worldometer menunjukkan bahwa ada 4.8 juta warga dunia yang telah terinfeksi virus corona. Dari total tersebut, setidaknya ada 316.507 kematian dan 1.855.076 pasien dinyatakan sembuh. Di Indonesia sendiri, angkanya sudah mulai menembus 17.514 kasus positif COVID-19 (per 17/5), dengan 4.129 pasien sembuh dan 1.148 meninggal dunia.
Pandemi ini telah berdampak sangat besar bagi dunia. Tak hanya berdampak bagi kesehatan masyarakatnya, dampaknya juga terasa dengan perekonomian yang melemah, banyak perusahaan harus memutus hubungan kerja dengan karyawannya hingga bisnis yang harus gulung tikar.
Lantas, kapan sebenarnya virus corona ini akan hilang?
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) justru memperingatkan masyarakat dunia bahwa COVID-19 tak bisa dianggap remeh. Pasalnya, seperti yang disampaikan oleh Dr. Mike Ryan, WHO Emergencies Director, bahwa kalaupun vaksin corona sudah ditemukan, akan dibutuhkan usaha yang sangat masif untuk mengontrol virus tersebut.
"Virus ini dapat menjadi virus endemik lain dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang," papar Dr, Ryan pada konferensi pers virtual di Jenewa beberapa waktu lalu. Menurutnya, seperti halnya HIV yang hingga saat ini belum bisa hilang, COVID-19 bisa jadi seperti itu.
Seperti laporan WHO, setidaknya kini ada lebih dari 100 vaksin potensial yang masih dalam tahap pengembangan. Namun, seperti yang diingatkan oleh Dr. Ryan, bahwa masih ada penyakit lain, misalnya seperti campak, yang masih belum hilang walaupun ada vaksinnya.
Namun, Direktur Jenderal WHO, Tendros Adhanom Ghebreyesus tetap optimis bahwa masih mungkin untuk bisa mengendalikan virus, tapi tetap dengan upaya yang besar.
"Keputusan itu ada di tangan kita dan ini urusan semua orang. Kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini," ujarnya.
Sementara itu, menurut ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove, mengingatkan bahwa mengubah keadaan tak akan semudah membalikkan telapak tangan.
"Kita perlu ingat bahwa perlu waktu untuk bisa keluar dari pandemi ini," jelasnya lagi.
Pernyataan WHO ini bertujuan menyinggung keputusan beberapa negara yang secara bertahap meringankan kebijakan lockdown. Namun Dr. Tedros mengingatkan bahwa tak ada cara yang pasti yang dapat mengurangi lockdown tanpa memicu gelombang infeksi kedua.
"Banyak negara ingin keluar dari masalah ini. Namun rekomendasi bahwa negara manapun perlu menerapkan kewaspadaan tingkat tinggi," jelas Dr. Tedros. (f)
BACA JUGA :
Keluar Masuk Jakarta Tak Bisa Sembarangan, Ini Surat Izin yang Harus Dimiliki
Sejumlah Negara Longgarkan Aturan Lockdown
Temuan Baru : Virus Corona Ditemukan di Sperma, Apakah Berhubungan Seks di Tengah Pandemi COVID-19 Tak Lagi Aman?
Topic
#corona, #covid, #vaksin


