
Dok. Pexels
Mantan jurnalis asal Colorado, Amerika Serikat, Susan Skog, menunjukkan kesimpulan yang tidak menyenangkan dari hasil penelitiannya terhadap 35 wanita lintas profesi yang telah ia wawancarai selama kariernya.
“Penindasan, saling menghalangi dan diskriminasi antar wanita telah membuat banyak wanita justru menjauh dari kesuksesan. Bayangkan, jika kita saling mendukung, pasti lebih banyak lagi wanita yang sukses saat ini,” tuturnya yang juga menulis hasil penelitiannya tersebut dalam buku Mending the Sisterhood & Ending Women’s Bullying (2015).
Ironis memang. Di satu sisi kita mengapresiasi ketika ada seorang wanita yang sukses dan menembus langit-langit kaca. Namun sayangnya, di dalam proses mencapai kesuksesan tersebut, para wanita merasa harus terlibat dalam perang yang sengit.
Jeleknya, menurut Vina G. Pendit, principal consultant dari Daya Dimensi Indonesia, sebuah perusahaan konsultan karier, kadang para wanita supaya bisa mendapatkan kebahagiaan atau kesuksesan merasa harus merendahkan orang lain terlebih dahulu.
“Tanpa kita sadari, ketika kita melakukan hal itu, kita mengumpulkan energi negatif. Beda perasaan ketika kita membantu sesama wanita lainnya, pasti kita merasa bahagia dan bangga karena kita telah melakukan hal yang baik, sehingga energi positifnya juga kita rasakan. Sementara ketika kita melakukan hal yang buruk, energi negatifnya juga kena ke kita,” tuturnya.
Untuk menghilangkan energi negatif tersebut, kita perlu jeli dalam melihat lingkungan di sekitar kita. Siapa saja orang-orang yang melemahkan (disempowering) dan siapa teman-teman yang justru memberdayakan (empowering) kita.
“Orang-orang disempowering biasanya tidak pernah komentar positif, melihat yang kita lakukan hanya dari sisi yang jeleknya saja, selalu mengkritik, menusuk dari belakang dan tidak pernah mendukung apa yang kita lakukan,” papar Vina menyarankan.
Menurut Vina, penting bagi para wanita untuk mendesain kesuksesannya sendiri, bukan karena orang lain.
“Karena biasanya, definisi sukses kita karena orang lain, bukan diri sendiri. Misal, kita merasa akan sukses atau bahagia jika suami begini, atau jika anak begitu atau jika sudah mengalahkan si A dan lain sebagainya. Pernahkah kita merancang kesuksesan atau kebahagiaan karena diri kita sendiri?” ujar Vina.
Definisi sukses yang kerap dikaitkan dengan orang lain, membuat kita mudah iri, tersaingi atau suka membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang lain.
“Ukuran kesuksesan atau kebahagiaannya mengikuti standar orang lain, sehingga ketika kita merasa tersaingi,” pungkasnya mengingatkan untuk tidak mendefinisikan sukses tergantung pada orang lain dan menerima dirinya sendiri dengan bahagia
“Ketika wanita merasa bahagia dengan dirinya sendiri, tidak akan ada keinginan untuk menjatuhkan orang lain, apalagi sesama teman wanitanya. Mereka justru akan sangat mendukung,” tutur Vina.
Tapi ingat, kita jangan sampai terkunci dengan pemikiran bahwa sukses hanya jika wanita itu berkarier dan bisa mencapai puncak. “Berkarier atau tidak, atau hanya menjadi ibu rumah tangga saja pun kita tetap bisa mencapai kesuksesan. Tinggal, bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan tersebut,” ujar Vina lagi.
Fakta tentang masih banyaknya wanita yang menganggap bahwa budaya saling bersaing, menindas, dan mendiskriminasi sesamanya, menampar kita bahwa hal ini justru akan menghambat kesuksesan para wanita itu sendiri. Seperti yang disampaikan Susan, tak pernah ada kata terlambat untuk menyatukan kekuatan dan saling mendukung demi kemajuan bersama. (f)
BACA JUGA :
Mengapa Sesama Wanita Merasa Saling Terancam?
Ini Bukti Feminisme Bukanlah Produk Barat
Kekuatan Wanita Wirausaha : Memiliki Ambisi dan Tahu Kapan Menjadi Feminin dan Maskulin
Topic
#kesetaraangender


