Trending Topic
Merindukan Kebersamaan di Lebaran 2022

2 May 2022

Lebaran 2022
Foto: Shutterstock


Tiga tahun sudah berlalu sejak pandemi merebak pada Maret 2020. Bagi umat Islam artinya sudah 2 kali Ramadan dan Idulfitri dijalankan dalam suasana tidak ‘normal’ akibat pembatasan mobilitas dan jarak. Kita tidak lagi ke masjid untuk tarawih, salat Ied yang terbatas, keguyuban buka puasa bersama dan silaturahmi Lebaran berkurang sangat banyak. Banyak di antara kita tidak mudik Lebaran dalam 2 tahun terakhir. 
 

Ujian Tak Terduga 

“Terus terang, saat mendengar virus Corona masuk ke Indonesia, yang saya pikirkan pertama kali adalah bagaimana saya bisa survive menghadapinya. Ada rasa takut, apalagi saya merantau di Jakarta sendirian. Keluarga saya di Tarakan, Kalimantan Utara,” cerita Devina Gilar, 25. 

Saat itu Devina berharap pandemi hanya berlangsung maksimal tiga bulan, salah satunya karena ia sangat berharap bisa melepaskan kerinduan  mendalam dengan mudik ke Tarakan. 

Namun bukannya mereda, pandemi  justru semakin meningkat. Devina merasa sangat jenuh, dan ingin menangis terus. Khawatir pada pandemi dan keluarga di seberang pulau.

“Tidak pernah terbayangkan, di masa saya struggling mencari jati diri dan pekerjaan yang layak untuk saya pertaruhkan dengan merantau, saya dihadapkan pada ujian berat ini.” 

Devina masih ingat, momen paling mengharukan ketika hari kemenangan tiba. Suara takbir yang berkumandang dari segala penjuru, justru membuat hatinya bergetar dan amat  bersedih. Ia begitu merasa kecil dan sendirian. 

Hal yang sama dialami Rezka Zakiya, 42. Apalagi ia mengalami kedukaan yang luar biasa. Suami Rezka berpulang pada September 2020.  Rezka gamang. Apakah ia dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil bisa melewati pandemi tanpa suami tercinta di sisinya?

“Jujur saja, sulit sekali menjalaninya. Terkadang si bungsu suka tantrum saat rindu ayahnya,” cerita Rezka. Biasanya setiap tahun kami mudik ke Malang, namun pada 2020 karena pandemi, kami tidak mudik. Tapi siapa sangka Idul Fitri 2020 juga menjadi Lebaran terakhir kami bersama,” kenang Rezka sedih. 

“Berat sekali rasanya, apalagi berkumpul dengan keluarga besar pun tidak bisa dilakukan. Padahal paling tidak itu bisa membuat saya dan anak-anak terhibur,” kata Rezka. 

Argarini Devi, 49, punya pengalaman berbeda. Tinggal bersama  keluarga besar dalam satu rumah besar yang terbagi-bagi, ternyata membawa hikmah baginya. “Justru kami, kakak beradik dan orang tua jadi lebih sering bareng. Setiap pagi kami olahraga dan berjemur di halaman tengah. Ketika ada yang ulang tahun, kami jadi bisa merayakannya bersama.”  Hal yang tidak selalu mudah dilakukan sebelum pandemi karena kesibukan.

Kebersamaan Yang Mahal 

Pelajaran dari pandemi adalah mahalnya nilai kebersamaan yang sangat boleh jadi dianggap biasa saja sebelumnya. Seperti kata Devina yang merefleksikan kesendiriannya di rantau di saat Lebaran sebagai pelajaran hidup. “Saya jadi lebih bersyukur menjalani hidup, lebih menghargai setiap pertemuan, dan lebih menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Bisa sampai kembali ke Ramadan berikutnya adalah karunia yang amat besar,“ katanya. 

Arga menganggap pandemi menjadi blessing in disguise. Kegiatan yang jarang dilakukan saat bulan puasa karena kesibukan pekerjaan, jadi bisa dikerjakan bersama. Salat tarawih di rumah, sahur bersama, hingga salat Ied di halaman rumah yang jadi terasa intim. 

Meski terasa pahit, menjalani puasa dan Lebaran di masa pandemi tanpa suami, memberikan pelajaran berharga bagi keimanan Rezka. “Semua yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah SWT. Selalu manfaatkan waktu dan kegiatan sebaik-baiknya bersama orang-orang yang kita sayangi, “ katanya bijak.

Rezka berharap kenangan manis bersama almarhum suaminya, bisa menjadi penyemangat untuk melanjutkan hidup dengan ikhlas. 

Ramadan dan Lebaran di masa pandemi mungkin berkurang kegembiraan sosialnya, namun sebaliknya ada kehangatan yang membesar di rumah-rumah. Kombinasi WFH - WFO memungkinkan waktu yang lebih banyak untuk bersama seluruh anggota keluarga. 

Pada  saat bersilaturahmi terpisah layar gawai, sesungguhnya kita  mendapat hikmah besar, beradaptasi hidup berdampingan dengan teknologi yang kian tidak terbendung.

Kita boleh menyitir Prof Quraish Syihab yang mengatakan hal ini, “ Anda kirim hadiah atau kirim salam itupun sudah menyambung kasih atau bersilaturahmi. Jadi jangan anggap silaturahmi itu harus pertemuan fisik, apalagi kalau fisik bertemu tapi tak tersambung hati, akan percuma.” 

Mmm…(f) 


Baca Juga: 

Jelang Lebaran, Perjalanan Mudik Mulai Terlihat Padat
Sebelum Mengadakan Halal Bi Halal, Cek Dulu Aturannya…
Siap Mudik Lebaran, Cek Aturan Perjalanan Ini Terlebih Dulu
 


 


Topic

#lebaran, #idulfitri

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?