Trending Topic
Menjawab Tantangan dan Peluang Bisnis Bareng Orang Terdekat

7 Sep 2024

Kiri ke kanan: Atya Sardadi Chief Marketing Officer ARTKEA Sally Giovany Founder Batik Trusmi, Ana Sofa Yuking, SH.,MH Managing Partner Yuking & Co Attorneys at Law, dan Partogi Tobing SME Loan Product Head OCBC. Foto: Dok. IWC 2024

​Memulai bisnis kecil-kecilan bersama keluarga, teman atau pasangan adalah usaha yang mengasyikkan. Kita merasa bisa bekerja dengan orang yang dapat dipercaya, berpikiran sama, dan memiliki semangat yang sama untuk sukses. Tapi, apakah berbisnis dengan orang terdekat adalah pilihan yang tepat? 

Kepercayaan dan kedekatan yang sudah terjalin bisa menjadi modal kuat. Namun, di balik kemudahan komunikasi, ada tantangan tersendiri yang perlu dihadapi.

Bagaimana jika perbedaan pendapat muncul? Atau, jika bisnis tidak berjalan sesuai harapan? Apakah ikatan keluarga atau persahabatan cukup kuat untuk menopang sebuah bisnis? Bagaimana cara menjaga hubungan personal tetap harmonis di tengah dinamika bisnis? Belum lagi pertanyaan yang menyangkut permasalahan keuangan, permodalan, juga hukum dalam membangun bisnis bersama. 

Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi ganjalan berbisnis bersama orang terdekat inilah yang dibahas dalam acara pembuka atau Panel 1 Indonesia Womenpreneur Conference (IWC) 2024 dengan judul Tantangan dan Peluang Bisnis Bisnis Bareng Orang Terdekat.

Acara yang berlangsung pada 24 Agustus 2024  di Gedung Perum Bulog, Jakarta, ini dihadiri lebih dari 300 wanita wirausaha dengan berbagai latar belakang. Menariknya, tak sedikit dari mereka yang mengacungkan tangan ketika Petty S. Fatimah, Chief Brand Officer Akademi Femina, memulai sesi panel dengan pertanyaan, "Siapa yang berbisnis dengan orang terdekat?".

Faktanya, membangun bisnis bersama orang terdekat (keluarga, pasangan, teman) banyak dilakukan oleh pelaku usaha di Indonesia. Berdasarkan survei Daya Qarsa 2022, 95% bisnis yang ada di Indonesia merupakan bisnis keluarga. Bisnis keluarga ini juga memberikan kontribusi yang besar pada PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia, mencapai 82%. Lalu sekitar 40% bisnis yang berkontribusi terhadap kapitalisasi pasar di Indonesia juga berasal dari bisnis keluarga.

Kesimpulannya, bisnis keluarga di Indonesia menjadi hal yang menarik dan perlu diperhatikan, mengingat kontribusinya terhadap perekonomian nasional. 

Sayangnya penelitian yang sama juga menyebutkan hanya 30% perusahaan keluarga yang mampu bertahan ketika berada di tangan generasi kedua. Mayoritas atau sekitar 70% bisnis keluarga di Indonesia tidak mampu bertahan sehingga generasi kedua. Dan hanya sekitar 13% bisnis keluarga yang mampu bertahan hingga generasi ketiga. 

Beban generasi kedua

Ketika harus mengambil tongkat estafet bisnis dari sang ibu, Atya SardadiChief Marketing Officer Artkea, tak ingin terjebak dalam mitos 'generasi kedua sebagai penikmat bisnis keluarga'. Tekadnya, ingin membuat Artkea sebagai jenama fashion lokal tersebut menjadi lebih baik. 

"Aku memiliki privilege, tapi tidak selamanya privilege itu hal yang mudah. Terkadang privilege itu justru menjadi beban. Tapi, aku memilih untuk menggunakan privilege itu untuk melakukan hal yang lebih baik," kata Atya, saat hadir sebagai pembicara dalam sesi ini.

Sebagai generasi kedua, ia merasa memiliki ilmu yang lebih baru, yang lebih sesuai dengan zaman. Ia lalu memaksimalkan penggunaan teknologi untuk melihat peluang dan membaca pasar dengan jangkauan yang lebih luas. Ia juga menyadari bahwa bisnis tidak akan berkembang jika semua hanya diurus dengan satu tangan, hingga memutuskan mengajak keluarga dan kerabat terdekat untuk ikut mengembangkan Artkea bersamanya.

Kini, Artkea telah melahirkan lini usaha baru seperti Lace by Artkea, Artkea Stripes, Artkea Colours, dan Artkea Bloom. 

Mengelola ego pasangan

Pembicara lainnya, Sally Giovany, Founder Batik Trusmi, punya kisah  tak kalah menarik. Ia membangun bisnis bersama orang terdekat, yaitu suami, Ibnu Riyanto, dengan berbekal angpao pernikahan mereka. Di usia sangat muda, Sally dan suami memulai bisnis dari berjualan kain kafan door-to-door. Tapi bisnisnya jalan di tempat, hingga kemudian ia melihat peluang mengolah kain tersebut menjadi batik. Ide bisnis inilah yang menjadi awal mula berdirinya Batik Trusmi pada tahun 2007.

Sampai saat ini Sally mengaku masih selalu berproses menghadapi satu per satu tantangan menjalankan bisnis dengan orang terdekat. "Berbisnis bareng pasangan, itu dua kepala jadi satu, dan ada ego di situ. Ada ego suami sebagai kepala rumah tangga, dengan kapasitasnya yang lebih besar, dan saya sebagai istri yang menggebu-gebu ingin berbisnis juga ingin men-support dan ikut campur di situ," ujar Sally.

Setidaknya butuh waktu 3 tahun bagi Sally dan suami untuk membuat situasi bisnis mereka aman dari masalah ego tersebut. Keduanya belajar memahami kapasitas diri masing-masing, sehingga mereka bisa bersinergi, dengan pembagian tugas dan kerja sesuai potensi masing-masing. 

"Menikah dan menjalankan usaha bukanlah hal yang mudah. Saya sadar sebagai istri dan ibu harus pintar memanajemen waktu dan perlu memiliki komitmen untuk memisahkan masalah rumah dan usaha. Kami memiliki perjanjian bahwa masalah kantor cukup sampai di kantor dan begitu pun sebaliknya," kata Sally. 

Dasar hukum hindari potensi konflik

Ana Sofa Yuking, SH.,MHManaging Partner Yuking & Co Attorneys at Law, mengakui bahwa berbisnis dengan orang terdekat memiliki potensi konflik yang besar. Karena itu, sangat penting memiliki fondasi hukum yang jelas dalam berbisnis dengan siapa pun, dan dalam skala bisnis apa pun.

Walaupun hanya usaha kecil bersama keluarga, tetap saja bisnis itu harus memiliki perjanjian awal sebagai fondasi hukum yang jelas dan sah dengan kesepakatan kedua belah pihak. Hal ini penting dilakukan karena, menurut pengalamannya selama menjadi konsultan hukum, banyak bisnis keluarga di Indonesia gagal akibat rasa sungkan sehingga melalaikan aspek hukum dan menjadi konflik di kemudian hari. 

"Dengan memiliki dokumen legal yang jelas dan juga pembagian profit yang jelas dan tentunya disetujui oleh semua pihak, bisnis bisa berjalan dengan arah dan batasan yang jelas. Tentunya hal ini bisa meminimalisasi terjadinya konflik dalam berbisnis bersama orang terdekat," jelasnya. 

Masalah yang kerap terjadi sebagai akibat dari mengabaikan aspek hukum antara lain ketidakpuasan pembagian profit, konflik akibat batasan hak dan kewajiban yang tidak jelas, hingga pelanggaran HAKI dalam industri kreatif. Kasus-kasus tersebut sering berakhir di meja pengadilan dan tak jarang membuat usaha pun ambruk. Karena itu Ana menegaskan pentingnya para pengusaha memperhatikan aspek hukum dalam menjalankan bisnis, salah satunya dengan memiliki landasan hukum yang jelas sejak awal usaha. 

Pisahkan usaha dan pribadi

Tentunya selain fondasi yang kuat, untuk menjalankan bisnis yang sehat bersama orang terdekat, masalah keuangan bisnis juga penting. "Yang perlu diperhatikan dalam arus kas bisnis yang sehat yaitu jangan mencampur penghasilan usaha dan pribadi. Sisa dana operasional digunakan untuk hal-hal yang produktif, dan memiliki sumber dana untuk pengembangan seperti pinjaman bank," ujar Partogi TobingSME Loan Product Head OCBC.

Terkait permodalan ke perbankan, Partogi mengungkapkan 6 hal yang perlu diperhatikan pebisnis, yaitu karakter dan riwayat kredit, kapasitas kemampuan, pencatatan arus kas, memiliki modal awal, jaminan, dan kondisi ekonomi. Melalui program Nyala Bisnis by OCBC, pelaku usaha bisa belajar lebih banyak tentang keuangan bisnis, termasuk menganalisis laporan keuangan dan bagaimana cara membangun PT. 

Sejak 5 tahun lalu, OCBC berfokus untuk membantu memajukan bisnis yang dijalani wanita melalui program Women Warriors. Karena faktanya, secara kualitas, portofolio kredit perempuan lebih baik daripada laki-laki. Perempuan dinilai lebih mahir dalam melakukan tugas atau pekerjaan yang multitasking

Menarik, ya, pelajaran dan pengalaman berbisnis dari para panelis IWC 2024. Bagaimana dengan Sahabat Femina; sudah punya rencana menjalankan bisnis bersama orang terdekat? (f) 

Baca juga:
Indonesia Womenpreneur Conference 2024 Dorong Pengusaha Perempuan Naik Kelas
OCBC Kenalkan Program Untuk Bisnis Berkelanjutan dalam Indonesian Women's Forum 2023
Perempuan Pebisnis, Siap-siap Naik Level di IWC 2024

Sally Rachmy Azizah
 


Topic

#IndonesiaWomenpreneurConference2024, #IWC2024, #wanwir, #wanitawirausaha, #bisnis, #wanwirfemina, #akademifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?