
Foto: Pixabay
Kapasitas Testing COVID-19 Capai Target WHO
Awal pekan ini kita mendapatkan kabar yang cukup mengejutkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinyatakan positif COVID-19. Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Riza Patria sudah terlebih dahulu menjalani karantina mandiri karena hasil testnya postif COVID-19.
Peningkatan angka positif COVID-19 di Indonesia dalam satu minggu terakhir ini memang cukup mengkhawatirkan. Usaha keras yang dijalani sepuluh bulan ini terasa tidak memberikan hasil maksimal, karena penurunan disiplin protokol kesehatan di masyarakat.
Data Satgas Penanganan COVID-19 pada Kamis, 3 Desember 2020 menunjukkan penambahan kasus yang sangat signifikan, yaitu sebanyak 8.369 kasus. Hal ini, merupakan yang tertinggi sejak Maret 2020.
Selain itu, data perubahan perilaku juga menunjukkan menurunya tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Saat ini, tingkat kepatuhan di Indonesia hanya mencapai 59,20%.
Padahal, ketika pandemi belum berakhir, protokol kesehatan adalah cara terbaik untuk mencegah dari penularan COVID-19. “Tugas bersama untuk memberikan literasi mengenai COVID-19 agar masyarakat lebih terarah dalam keterlibatannya menangani pemutusan rantai penularan COVID-19,” ujar dr. Irhamsyah.
Selain protokol kesehatan, salah satu upaya melandaikan kurva jumlah kasus positif adalah dengan melakukan testing. Karena memaksimalkan testing, menjadi peluang mendeteksi dan menangani COVID-19 secara lebih cepat. Sehingga, dapat dilakukan perawatan lebih dini terhadap mereka yang dinyatakan positif COVID-19.
Jumlah testing (pemeriksaan) COVID-19 secara nasional hingga akhir November 2020 sudah mendekati target yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Kapasitas testing Indonesia per akhir November sudah mencapai 90,64%. Jika disesuaikan populasi Indonesia 267 juta jiwa, maka diperlukan pemeriksaan PCR Covid-19 kepada 267 ribu orang per minggu.
"Capaian ini tidak lepas dari peran provinsi-provinsi yang terus menggiatkan testing-nya," jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, Kamis (3/12/2020) dalam keterangan pers di Graha BNPB yang juga disiarkan langsung Kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Dari data dalam satu bulan terakhir, terdapat 16 provinsi yang pernah mencapai target WHO. Bahkan dari 16 provinsi tersebut, ada 3 provinsi yang konsisten mencapai standar WHO dalam 5 minggu terakhir yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Papua. Untuk provinsi lainnya adalah Riau, Papua Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Barat. Capaian 16 provinsi tersebut diharapkan dapat diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tracing (pelacakan). Jika salah satu kasus positif telah dideteksi, maka segeralah mendata kontak erat kasus tersebut dan lakukan testing lanjutan. Karena tracing yang berjalan dengan baik juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan jumlah testing.
Prof. Wiku lantas merujuk pada penelitian dari Abbot et Al (2020), bahwa testing dan tracing yang efektif mampu mengendalikan situasi pandemi COVID-19 dalam kurun waktu 3 bulan. Hal ini juga sesuai temuan Kretzscamer et Al (2020) bahwa mengoptimalkan cakupan testing dan tracing serta meminimalkan penundaan tracing dapat mencegah hampir 80% transmisi (penularan).
Pada prinsipnya testing dan tracing adalah dua upaya yang tidak dapat dipisahkan, harus dilakukan secara linear dengan treatment (perawatan) lanjutan jika diperlukan. "Oleh karena itu masifkan 3T (testing, tracing, dan treatment ) untuk dapat menekan angka kasus dan kematian serta meningkatkan kesembuhan nasional," pesan Prof. Wiku. (f)

Baca Juga:
Update Covid-19: Persiapan Program Vaksinasi Covid-19 di Indonesia
Angka Kepatuhah 3M Menurun, Waspada Lonjakan Kasus Positif Covid-19
Kasus Positif Harian Masih Tinggi, Pentingnya 3M & 3T untuk Putus Penularan COVID-19
Faunda Liswijayanti
Topic
#ingatpesanibu, #3m, #covid19, #corona




