
Foto: Cerli Febri, Ketua Sentra Kreatif Lestari Siak (SKELAS), tokoh muda yang memberdayakan ibu-ibu di Kabupaten Siak
usai lulus dari menimba ilmu di Magister Hukum Universitas Indonesia.
Berkunjung ke bangunan cagar budaya, Tangsi Belanda, yang terletak di jalan Benteng Hulu, kecamatan Mempura, kabupaten Siak, Anda akan menemukan sebuah bangunan modern beratap dan berlantaikan kayu, di bagian belakang kompleks bangunan kuno Tangsi Belanda. Pada bagian dinding depan bangunan ini terpampang tulisan "Skelas" yang merupakan singkatan dari Sentra Kreatif Lestari Siak.
SKELAS adalah wadah kolaborasi dan gotong royong antar komunitas dan pemerintah yang bersama berupaya menyelesaikan permasalahan di kabupaten Siak. Memanfaatkan potensi sumber daya manusia, pariwisata, dan ekonomi kreatif, SKELAS mengupayakan ruang berkreasi demi membantu masyarakat melalui aksi kolaborasi, termasuk di dalamnya menjadi inkubator dan akselerator bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) sehingga lebih mengembangkan produknya.
Dalam komunitas SKELAS, anak-anak muda Siak bergotong royong dengan pemerintah daerah hingga menjadikan SKELAS sebagai ruang anak muda dan UMKM siak berkembang bersama.
Sebagai sentra kreatif, SKELAS juga memiliki beberapa kegiatan usaha, seperti, ekowisata, event organizer termasuk wisata kreatif, inkubator usaha lestari, juga membuka gerai untuk etalase UMKM di markas mereka. Anda bisa melihat produk-produk UMKM, membeli oleh-oleh khas kabupaten Siak juga memesan makan atau minuman yang merupakan produk UMKM kuliner Siak di markas sentra kreatif ini.
Sedikitnya 140 UMKM terlibat dalam program inkubasi, 3 desa terlibat dalam proyek ekowisata, 17 subsektor terlibat ekraf dan 10 komunitas terlibat mengelola ekowisata yang menjadi dasar kegiatan sentra kreatif ini.
Adalah Cerli Febri Ramadani (27) yang kini giat menjalankan berbagai produk pengembangan ekonomi kreatif di kabupaten Siak. "Awalnya, lepas kuliah saya pulang kampung ke Siak dan bekerja di Lingkar Temu Kab Lestari (LTKL) dan bertemu dengan teman komunitas pemerhati UMKM. Kami mengadakan festival kabupaten lestari dan berinisiatif membuat komunitas yang juga berisi banyak komunitas-komunitas lain dari Siak yang kami namakan SKELAS," ungkap Cerli yang senang bisa bekerja sama dengan 9 anak muda lain di SKELAS yang rata-rata berusia 23 hingga 30 tahun.

Foto: Sentra UMKM kabupaten Siak ini menempati lahan cagar budaya Tangsi Belanda yang juga menjadi showroom puluhan produk UMKM
serta menjual makanan dan minuman produk UMKM Siak sebagai hidangan yang bisa dinikmati sambil duduk bersantai di tempat yang bersejarah.
Memanfaatkan markas SKELAS sebagai ruang kreatif, kelompok ini memfasilitasi UMKM untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang bermanfaat untuk peningkatan penjualan produk. Sejak tahun 2021, SKELAS melakukan berbagai workshop untuk pelaku UMKM Siak, di antaranya pelatihan "Redesain Kemasan Produk UMKM", di tahun 2022 dengan pelatihan "Solek Produk UMKM dengan Kemasan Ramah Lingkungan" , juga memberikan workshop digital marketing. Sedikitnya 30-an UMKM telah dibina oleh SKELAS dalam workshop tersebut.
"Untuk workshop marketing kami bisa melakukan hingga 3 kali setahun," ungkap Cerli yang juga founder dari SUWAI, komunitas pembuat kerajinan berbahan pandan di Siak yang berdiri sejak tahun 2021 dan melestarikan warisan tradisi Siak yakni keterampilan anyaman pandan.
Jika Anda ingin berwisata kreatif, SKELAS dapat membantu mengatur acara wisata Anda dan komunitas pada lokasi-lokasi cantik di Siak. Anak-anak muda ini juga berpengalaman mengatur wisata kreatif "Makan Malam di Halaman Istana Siak", ekowisata menyusuri sungai Siak, wisata belajar menanam pohon untuk anak-anak sekolah, wisata bersepeda dan sebagainya. (f)
Baca Juga:
Batik Seruni Batik Asli Siak
Manisnya Nanas Ratu Desa Penyengat
Ekonomi Kreatif dan Ekowisata di Siak, Dorong Restorasi Alam Demi Perubahan Iklim
Laili Damayanti
Topic
#wirausaha, #siak, #umkmsiak, #siakhijau, #ekonomikreatif, #wisatakreatif


