Trending Topic
Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Memberikan Kebahagiaan Berlipat Ganda

23 Dec 2016


Foto: 123RF

Tidak sedikit penelitian mengungkap bahwa sejumlah manfaat akan dipetik saat seseorang melakukan kebaikan untuk sesama. Studi oleh University of California menemukan bahwa tingkat kebahagiaan orang meningkat pesat setelah mereka melakukan lima kebaikan tiap minggu. Sementara itu, Harvard Business School mengungkapkan bahwa membelanjakan uang untuk orang lain memberi kebahagiaan yang lebih besar ketimbang membelanjakan uang untuk diri sendiri. Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa berbagi kebaikan bagus untuk tubuh: kondisi kesehatan meningkat, risiko terhadap penyakit serius pun menurun. Simak cerita Anik Sulistiyani (34), ibu rumah tangga asal Yogyakarta sebagai salah seorang wanita yang memiliki keberanian dalam menjawab panggilan hati untuk melayani sesama. Ia menjadi saksi bahwa dengan berbagi, hidup kita tidak dikurangi, tapi justru makin ditambahkan.

 
"Saya memutuskan untuk menjadi pendamping pasien kanker karena saya  adalah seorang penyintas. Saya didiagnosis kanker tulang pada tahun 2007, dan 3 tahun kemudian memilih menjalani amputasi kaki agar sel kanker tidak menyebar. Beberapa minggu setelah amputasi, saya dihubungi pihak rumah sakit. Kata mereka, ada pasien kanker tulang yang takut diamputasi, bahkan sudah menandatangani surat penolakan amputasi.

"Saat itu, pihak rumah sakit meminta saya memberikan motivasi. Meski baru selesai operasi dan masih mengenakan kruk penyanggah   kaki, hati saya tergerak untuk menemui pasien tersebut. Saya pun  mendatangi pasien itu dan mulai bercerita. Saya katakan, “Cepat atau lambat, kanker akan menyebar. Kalau dokter sudah bilang amputasi, saran saya ikuti saja, meski berat. Lebih baik kita sayang nyawa daripada sayang kaki.” Rupanya, pertemuan kami itu mengubah keputusannya, ia pun bersedia diamputasi.

"Sejak itu, saya makin tergerak untuk terus mendampingi pasien-pasien kanker. Saya sempatkan untuk berkunjung ke rumah sakit, menyemangati mereka bahwa banyak penderita kanker yang bisa sembuh. Kini, saya melakukan pendampingan sejak seorang pasien kanker didiagnosis hingga ketika ia menjalani rangkaian pemeriksaan untuk operasi. Selain menguatkan hati mereka, saya juga mendengarkan keluh-kesah pasien dan keluarganya. Saya beruntung, semangat saya untuk membantu pasien kanker ini mendapat sambutan istimewa dari RS  Sardjito. Sekarang, saya memiliki ruangan sendiri di RS Sardjito untuk menerima pasien dan keluarganya yang ingin curhat dan berbagi informasi tentang kanker.

"Tiap kali menjenguk pasien, entah mengapa, saya terdorong untuk membawakan mereka bingkisan. Karena dana yang terbatas, biasanya saya buatkan bingkisan sederhana, seperti balon atau buku mewarnai untuk pasien anak. Dananya pun saya ambil dari kantong sendiri. Karena saya merasakan sendiri, kebutuhan pasien kanker sangat beragam. Saya bersyukur, seiring berjalannya waktu,  makin banyak donatur yang ikut menyumbang. Alhasil, kini saya bisa membawa beragam bingkisan, dari peralatan mandi, masker, popok, susu, hingga biskuit.

"Soal bingkisan ini, banyak cerita yang lucu dan cukup membuat terharu. Pernah ada orang tua pasien kanker anak yang sudah tahap paliatif meminta dicarikan guling motif bola untuk anaknya. Ada juga pasien yang curhat ingin makan kue nastar. Saya pun berusaha sebisa mungkin memenuhi keinginan mereka itu.
Saat Lebaran, saya berusaha membuat pasien senang dengan menyiapkan bingkisan khusus. Untuk pasien anak, saya membagikan 70 amplop yang dihias lucu untuk angpau Lebaran. Amplop ini tidak hanya diberikan kepada mereka yang muslim, tapi juga kepada semua anak.  Bersyukur, tidak ada yang menolak.

"Saya juga membagikan sejadah batik untuk para perawat, cleaning service, dan satpam yang beragama Islam. Untuk yang Nasrani, saya berikan taplak batik. Tahun lalu, ada satu pasien kanker anak yang merayakan Natal, dan saya tanya dia ingin hadiah apa. Ternyata, dia hanya ingin punya kaus baru. Eh, belum sempat saya berikan, pasien tersebut sudah dipanggil Tuhan.

"Saya bersyukur, di sepanjang jalan ini  Tuhan telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik dan memiliki hati yang luas untuk berbagi. Bersama Yayasan Satu Hati Berbagi yang saya dirikan pada April 2015, kami memilih untuk fokus pada pasien anak. Meski begitu, siapa pun yang butuh pendampingan pasti akan saya bantu, termasuk pasien dewasa.

"Tak dipungkiri, terkadang rasa sedih dan haru datang mendengar kisah para pasien. Tapi, di balik itu justru kebahagiaan besar yang saya rasakan. Apalagi ketika pasien dan keluarganya menganggap saya sebagai keluarga mereka sendiri. Hal inilah yang membuat hubungan saya dan pasien begitu dekat. Saking dekatnya, keluarga pasien yang saya dampingi 6 tahun lalu hingga kini masih menjalin komunikasi dengan baik.

"Banyak hal yang saya rasakan dari kegiatan sosial ini. Selain meluaskan jejaring pertemanan, saya belajar bahwa dengan berbagi, kita tidak dikurangi, justru ditambah. Yang kerap membuat saya terharu adalah saat teman-teman difabel dan anak-anak kecil pun mau berbagi. Pernah, teman-teman dari Tuli Deaf Art Community menyumbangkan seluruh hasil penjualan pin Diffabelfor Cancer karya mereka. Ada juga anak TK yang langsung menyumbangkan mainannya yang masih baru, ketika mendengar cerita dari orang tuanya bahwa saya sering membawa mainan untuk anak penderita kanker. 

"Saat ini saya memakai kaki palsu, tapi saya sangat bersyukur masih bisa beraktivitas. Saya juga bersyukur dipertemukan dengan pria yang pengertian. Kami telah menikah dan dikaruniai seorang putra. Ternyata, kanker bukan akhir dari segalanya. Ketika kita ikhlas menjalani, insya Allah semua akan dimudahkan." (f)

Baca juga:
Kisah Inspiratif Penyintas Kanker Payudara: Natarini Setianingsih, Berbagi Kebahagiaan di Bangsal Anak
Menghadapi Anak yang Tak Mau Berbagi
Natal, Jadi Lebih Boros?

Herdiana Hakim


Topic

#berbagi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?