
Foto: Dok. Pribadi
Banyak cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Ternyata berdasarkan studi yang dilakukan oleh University of California, tingkat kebahagiaan orang meningkat pesat setelah mereka melakukan lima kebaikan tiap minggu. Dian Sasmita (35), seorang ibu rumah tangga asal Solo, sudah membuktikannya setelah berbagi kasih. Memiliki keberanian dalam menjawab panggilan hati untuk melayani sesama, ia pun menjadi saksi bahwa dengan berbagi, hidup kita tidak dikurangi, tapi justru makin ditambahkan. Simak penuturan lengkapnya kepada femina.
"Sejak kuliah saya tertarik berkecimpung dalam perjuangan keadilan kaum lemah, seperti wanita dan anak korban kekerasaan. Tiga tahun setelah lulus dari Fakultas Hukum UNS Surakarta, saya melanjutkan studi untuk profesi advokat. Saat itulah saya beberapa kali melakukan kunjungan ke lapas dan mengawali perkenalan dengan anak-anak di sana. Pada tahun 2009, saya berhenti kerja untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Tapi, hati kecil saya sering terusik oleh memori perjumpaan dengan anak-anak di Rutan Surakarta. Setelah diskusi dengan suami, saya memutuskan memakai waktu luang untuk mengunjungi anak-anak di lapas, minimal sepekan sekali.
"Saya masih ingat, ketika awal Juli 2009, saya dan teman seniman, Moyong Kasnuri, masuk Rutan Surakarta sambil membawa kertas, kuas, cat tembok, serta senyum. Saat itu, kami mendapat sambutan hangat dari anak-anak penghuni lapas. Kami mengajak mereka bermain warna dan kertas di sudut aula, yang kala itu difungsikan sebagai tempat untuk membesuk napi. Tak sekadar bermain, kami juga mendengarkan curhatan mereka, dari rindu keluarga, sedih karena dikeluarkan dari sekolah, hingga kejenuhan selama berada di dalam tahanan.
"Setelah kunjungan pertama itu, saya seperti tak bisa lepas dari anak-anak lapas. Karena, mereka membutuhkan dukungan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi. Tiap minggu saya meluangkan waktu beberapa jam untuk berinteraksi dengan mereka. Dengan bantuan teman-teman, saya kemudian membentuk Sahabat Kapas. Istilah kapas dipilih karena mewakili psikis anak yang seperti kapas, yang mudah menyerap dan terbawa pengaruh lingkungan. Kapas juga bisa dibentuk menjadi lebih bagus, tergantung pada orang dewasa yang mengasuh.
"Anak-anak lapas sesungguhnya korban dari pengasuhan yang kurang tepat. Anak yang mendapat bentakan serta kurang kasih sayang, rentan berperilaku nakal dan kriminal. Jadi, tak sepantasnya kita menimpakan kesalahan pada anak. Apalagi, diusia yang masih belia, mereka sudah berani bertanggung jawab atas kesalahan mereka di penjara. Rasanya, kita perlu membuka hati dan tangan untuk membantu mereka kembali menjadi anak-anak yang bahagia dan mampu berkarya.
"Di beberapa kesempatan, saya juga kerap melakukan kegiatan di lapas saat sedang menyambut bulan puasa. Menariknya, ketika saya amati dari interaksi anak-anak di lapas, toleransi mereka sangat baik. Di saat puasa, saya dan Komunitas Kapas membagikan sarung kepada tiap anak, termasuk yang non-muslim. Saya melihat, mereka meminjamkan sarung kepada teman muslim jika ada sarungnya yang kotor.
"Dari sini saya melihat, seharusnya pendampingan anak juga tidak semestinya tersekat oleh keyakinan. Pada tahun 2014, kami mendapat bantuan proyektor dan sound system dari jemaat gereja-gereja di Solo. Alhamdulillah, bantuan tersebut sangat berarti untuk kegiatan kami di lapas.
"Namun, lebih dari itu, saya pribadi merasa sangat beruntung bisa mengenal anak-anak di lapas, karena saya seperti menemukan guru kehidupan. Dari mereka, saya belajar untuk selalu mensyukuri hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian kita. Suatu kali misalnya, saya pernah ditegur karena mengeluh rasa makanan yang saya bawa tidak enak, padahal menurut mereka makanan tersebut enak.
"Tiap perjumpaan selalu membawa kesan istimewa. Meski mereka punya kisah hidup berbeda, satu hal yang nyata, mereka semua adalah anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Karena itu, sebisa mungkin saya dan teman-teman relawan menempatkan diri sebagai kakak bagi mereka.
"Menjalani aktivitas ini, saya membutuhkan pengertian banyak pihak, terutama keluarga. Karena itu, saya sering melibatkan suami dalam kegiatan-kegiatan saya. Syukurlah, dia tidak hanya senang menemani saya, tapi juga kerap membantu, seperti untuk dokumentasi. Bahkan, suami juga mengajari anak-anak tersebut fotografi dan pembuatan film. Satu harapan, saya ingin menyiapkan anak-anak tersebut agar setelah keluar dari penjara, mereka dapat menjadi wirausaha muda." (f)
Baca juga:
Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Memberikan Kebahagiaan Berlipat Ganda
Ernita Afryani Dapat Pelajaran Hidup dari Lansia di Panti Jompo
5 Langkah Cegah Anak Stres
Herdiana Hakim
Topic
#berbagi


