Trending Topic
Fakta: Literasi Sarjana di Jakarta Tidak lebih dari Lulusan SMA di Luar Negeri

25 Jul 2018


Dok: Pixabay

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp444,131 triliun untuk pendidikan. Dari tahun ke tahun, pendidikan selalu menjadi prioritas, namun harus diakui hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia belum menuai hasil seperti yang diinginkan.
 
Pendidikan di Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah yang mesti dibenahi. Mulai dari kompetensi guru, infrastruktur sekolah, kurangnya buku ajar, hingga standarisasi kurikulum. Dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI hingga berbagai pihak pun turut andil berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
 
Menurut pendiri Zenius Education, Sabda PS, masalah sistem pendidikan di Indonesia saat ini bukan hanya perihal akses, tetapi juga kualitas dari pendidikan itu sendiri.
 
Berdasarkan data Kemendikbud RI, tingkat aksesibilitas sekolah di Indonesia telah mencapai 80 persen. “Namun, yang menjadi masalah adalah kualitasnya, dan memberikan pendidikan yang berkualitas secara merata itu sangat sulit,” ujar Sabda.
 
Minimnya kualitas pendidikan Indonesia ini bisa dilihat dari capaian tingkat pendidikan formal di Indonesia yang mengacu pada tes tiga tahunan Programme for International Student Assessment (PISA), suatu sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD).
 
Sejak ikut pertama kali pada tahun 2010, Indonesia selalu berada di peringkat sepuluh terbawah dari 72 negara yang disurvei. Bahkan hasil Ujian Nasional 2018 menunjukkan bahwa 63-79% siswa memiliki rata-rata nilai di bawah angka 55.
 
Performa pelajar Indonesia pada tes PISA bukan satu-satunya yang mengkhawatirkan. OECD juga melakukan tes kepada populasi dewasa melalui tes PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies) dan hasilnya sungguh mencengangkan bahwa sarjana di Jakarta memiliki kemampuan literasi yang tidak lebih baik dari lulusan SMA seluruh negara partisipan.
 
Kondisi ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi semua stakeholder pendidikan Indonesia. Apalagi era industri 4.0 sudah di depan mata, mesin akan mengganti beberapa fungsi pekerjaan manusia. Menurut penelitian McKinsey tahun lalu, sekitar 400-800 juta individu akan tergantikan pekerjaannya oleh automatisasi pada tahun 2030.
 
Tantangan pendidikan Indonesia saat ini adalah bagaimana mencetak generasi muda yang memahami ilmu yang diajarkan, bukan sekadar pandai mengingat informasi.

"Selama ini pelajar Indonesia terbiasa dengan menghapal materi serta cenderung tidak didorong untuk bertanya. Sudah saatnya mengubah pola pikir pelajar Indonesia untuk mengerti suatu konsep ilmu ketimbang menghapal. Karena ini sesuai dengan jiwa ilmiah itu sendiri, yaitu membangun rasa keingintahuan,” jelas Sabda. (f)

Baca Juga: 
Apakah Generasi Z Lebih Toleran Terhadap Perbedaan?
Aktif Mendukung Dunia Pendidikan, Pia Alisjahbana Mendapat Penghargaan
5 Hal Penting Dalam Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Faunda Liswijayanti


Topic

#pendidikan, #literasi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?