Lonjakan kasus campak di 46 wilayah Indonesia jadi alarm bahaya. Foto ilustrasi: CanvaKementerian Kesehatan RI telah menetapkan kasus penyebaran campak di Sumenep, Madura, Jawa Timur, sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan 2.035 kasus suspek yang tersebar di 26 kecamatan.
Hingga Agustus 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat adanya KLB campak di 46 wilayah di 13 provinsi di Indonesia. Beberapa daerah dengan kasus campak yang tinggi antara lain di Sumatra Utara, Jawa Timur (khususnya Sumenep dan Bangkalan), dan Banten.
Peningkatan kasus ini menjadi perhatian serius, terutama karena telah menyebabkan korban jiwa.
Menanggapi KLB campak yang terjadi di wilayah Jawa Timur baru-baru ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengadakan Seminar Media dengan topik KLB Campak pada Anak dan Update Rekomendasi Vaksinasi IDAI yang diadakan pada hari ini.
Yuk, pelajari fakta-fakta penyebaran virus campak dan dampaknya, karena campak tidak bisa dianggap sepele!
Bisa menulari 18 anak
Campak disebabkan oleh morbilli virus yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi melalui droplet di udara. Virus campak juga bisa bertahan di udara hingga dua jam, sehingga risiko penularan tetap ada meskipun penderita sudah tidak berada di tempat tersebut.“Kalau satu anak kena campak, maka ada risiko dia bisa menularkan ke 12-18 anak. Sedangkan Covid-19 tidak setinggi itu, sehingga memang RO (Reproduction Number) atau risiko penularan campak ini sangat tinggi,” jelasKetua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dokter Spesialis Anak Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, SpA, Subs IPT(K).
Virus campak bisa menempel pada permukaan benda-benda yang sering disentuh anak. Jika anak tidak rajin cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, anak akan lebih rentan terpapar virus.
Akibat rendahnya cakupan imunisasi
Ini adalah faktor paling krusial. Campak dapat dicegah secara efektif melalui vaksinasi. Namun, beberapa tahun terakhir, cakupan imunisasi campak di Indonesia mengalami penurunan. Akibatnya, kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak yang belum divaksinasi menjadi lebih mudah tertular.“Jadi, anak yang kena campak artinya dia kemungkinan tidak punya kekebalan di dalam tubuhnya. Kenapa bisa kena? Karena kekebalan tidak ada, sehingga mudah terinfeksi,” ujar Prof. Edi.
Selain vaksin, anak butuh gizi yang baik. Anak dengan gizi kurang lebih rentan terkena campak dan mengalami komplikasi.
“Jika dengan gizi buruk, status nutrisi tidak baik, kondisinya lemah, status imun-nya turun, risiko anak terhadap campak jadi berat,” lanjut Prof. Edi.
Rendahnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya imunisasi dan pencegahan penyakit dapat berkontribusi pada penularan campak. Ada sebagian masyarakat yang enggan membawa anaknya untuk diimunisasi karena berbagai alasan, salah satunya takut anak terkena autisme. Padahal ini tidak benar.
“Dulu ada yang berdebat bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme. Tapi itu adalah penelitian-penelitian hoax. Penelitiannya sudah ditarik dan dokter yang membuatnya tidak boleh praktik lagi,” jelas Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Dokter Spesialis Anak Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA, Subs TKPS(K).
Justru kini WHO telah melakukan imunisasi di seluruh negara, mulai dari Indonesia sampai negara maju seperti Eropa dan di Amerika. Walau memiliki beberapa efek samping, vaksin memiliki dampak baik dengan merangsang sistem imun dan kekebalan untuk melawan virus campak.
“Vaksin itu, kan, virus yang sudah dilemahkan. Jadi, vaksin tidak mempunyai kemampuan untuk menyebabkan infeksi yang berat,” ujar Prof. Edi.
Hati-hati, bisa berujung komplikasi
Jika tidak ditangani dengan baik dan anak tertular dalam kondisi imun lemah, anak bisa terkena komplikasi campak. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia, diare, radang telinga, bahkan radang otak. “Yang paling sering menyebabkan kematian adalah pneumonia dan diare yang tidak teratasi karena dehidrasi berat, kemudian radang otak,” kata Prof. Edi.
Pada radang paru-paru, campak bisa merusak lapisan saluran pernapasan dan paru-paru, sehingga bakteri dari lingkungan sekitar dengan mudah menginfeksi dan menyebabkan pneumonia parah.
Campak juga bisa menyebabkan Panensefalitis Sklerosis Subakut (SSPE), penyakit kronis langka yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini menyebabkan peradangan otak dan merusak lapisan pelindung sel-sel saraf. Penyebarannya yang berlangsung cepat, umumnya kurang dari 9 bulan.
Begini cara hindari campak
Cara paling efektif untuk menghindari campak adalah melalui vaksinasi. Vaksin bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu mencegah penyebaran virus ke orang lain, terutama mereka yang tidak bisa divaksinasi.Vaksin yang digunakan untuk mencegah campak adalah vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) atau vaksin MR. Vaksin ini merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus campak.
Jadwal pemberian vaksin MMR yang direkomendasikan adalah:
- Dosis pertama: Saat anak berusia 9 bulan.
- Dosis kedua: Saat anak berusia 18 bulan atau saat masuk sekolah dasar
“Vaksin MR ini, kalau diberikan satu dosis pada usia yang dianjurkan, akan melindungi anak dari penyakit campak sekitar 85%. Sedangkan kalau diberikan dua dosis, perlindungannya meningkat antara 95% sampai dengan 97%,” jelas Prof. Hartono.
Lindungi masa depan buah hati dengan imunisasi lengkap dan pengetahuan yang tepat. Jangan tunggu terlambat, cegah campak mulai sekarang!
Baca juga:
Oculoplast Kembalikan Fungsi dan Tingkatkan Kualitas Hidup
Vaksin BCG Kurang Efektif pada Orang Dewasa, Vaksin Lanjutan Akan Hadir Akhir 2028
Jangan Sampai Terlambat, Ternyata Begini Efek Jangka Panjang DBD
Ghina Athaya
Topic
#WaspadaCampak, #ImunisasiAnak, #SehatBersama, #CegahCampak



