
.
Isu SARA juga menjadi latar belakang aksi protes ribuan kaum Muslim terhadap dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, Jumat (4/11). Aksi yang awalnya berjalan damai ini sempat menjadi rusuh dengan aksi pembakaran truk milik POLRI yang digunakan untuk mengangkut satuan pengaman demo.
Survei Wahid Foundation, bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang dilakukan tahun ini di 34 provinsi mengungkap bahwa 59,9 persen orang mengaku membenci kelompok tertentu karena alasan agama, ras, golongan, dan sebagainya. Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tidak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjabat di pemerintahan negara.
Isu SARA sejak dulu menjadi sasaran paling empuk untuk memecah belah persatuan dan kedamaian hidup berdampingan dalam keberagaman di Indonesia. Demi mengantisipasi hal ini, Kepolisian Daerah Metro Jaya belum lama ini mengeluarkan Maklumat tentang Penyampaian Pendapat Di Muka Umum. Di beberapa tempat, seperti di kawasan Salemba, selebaran ini disebarkan dengan cara unik, yaitu dari atas helikopter.
Maklumat itu, antara lain mengatur bahwa penyampaian pendapat di muka umum dilarang mengganggu ketertiban umum, merusak faslitas umum, dan melakukan perubuatan yang mengakibatkan gangguan fungsi jalan raya/arus lalu lintas. Maklumat ini juga menegaskan sanksi hukuman mati, penjara seumur hidup, atau kurungan maksimal 20 tahun bagi yang terbukti melakukan tindakan makar.
"Elemen masyarakat yang hendak berunjuk rasa hendaknya tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum karena itu bagian hal-hal yang dilarang dalam undang-undang," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.
Di sisi lain, rakyat yang menolak gesekan isu SARA juga menggelar aksi damai. Parade Bhineka Tunggal Ika yang terdiri atas seribuan lebih orang ini berpawai, masing-masing dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, untuk bertemu di area patung Arjuna Wijaya, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Sabtu, (19/11/2016).
Nong Darol Mahmada, salah satu penggagas aksi damai ini mengatakan bahwa acara itu digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mempertahankan persatuan bangsa. "Negara kita terdiri dari beragam suku, kebudayaan, agama, ras, dan golongan. Selama ini kita damai karena telah diikat oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Semangat ini harus kita jaga,” katanya. “Kita tidak boleh diam bila ada gerakan-gerakan yang berupaya mengacaukan negara ini,” serunya.
Acara yang berlangsung sejak pukul 9:00 WIB – 12:00 WIB itu, diisi dengan doa bersama yang dibawakan oleh enam perwakilan dari masing-masing lintas agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Kong Hu Chu. Ada pula pelepasan burung merpati dan pembagian bunga mawar sebagai tanda perdamaian. Sehari setelahnya, Minggu (20/11/2016), berlangsung Karnaval Cinta NKRI yang digelar di sepanjang Jalan Thamrin, dan acara lari bersama Tolerun yang digelar di sepanjang Jalan Sudirman.
Baca juga:
- Menakar Tingkat Toleransi di Indonesia
- Pentingnya Toleransi
- 3 Inisiatif Menyebarkan Nilai Toleransi dalam Masyarakat
Topic
#Toleransi


