
Foto: Freepik
Sejak pandemi berlangsung delapan bulan lalu, berbagai langkah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Di awal-awal penyebaran virus ini kita mendengar istilah social distancing - belakangan istilah ini lebih sering disebut sebagai jaga jarak - yaitu anjuran kepada masyarakat luas untuk mengurangi interaksi dengan orang banyak untuk menurunkan risiko penularan COVID-19.
Jaga jarak diimplementasikan dalam berbagai hal seperti melakukan kegiatan di rumah saja, kerja dari rumah, belajar dari rumah; tidak nongkrong atau makan di restoran atau cafe; tidak berkumpul untuk nonton konser, bioskop, pernikahan, demo, dan kegiatan lainnya yang mengumpulkan banyak orang; tidak menggunakan kendaraan umum yang tidak menerapkan protokol kesehatan; tidak bepergian dalam rangka liburan; dan menjaga jarak minimal 1,5 meter dari orang lain saat harus berada di tempat umum; termasuk tidak berjabat tangan yang sebelum COVID-19 umum kita lakukan.
Kenapa jaga jarak penting? Karena jaga jarak dianggap sebagai cara paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan. Bentuk kontribusi terkecil sebagai bagian dari masyarakat dan kelompok sosial. Namun, kenyataannya menerapkan kebiasaan jaga jarak tak semudah yang dipikirkan, terutama di Indonesia. Sebagai masyarakat sosial yang senang berkumpul, menjaga jarak sepertinya menjadi sulit dilakukan.
Kita lihat saja berbagai peristiwa pelanggaran jaga jarak dengan pengumpulan massa atau kerumuman, baik yang dilakukan individu mapun kelompok atau organisasi yang terjadi belakangan ini. Meski gerakan 3M sudah gencar digaungkan yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta menjaga jarak dan hindari kerumunan, masyarakat masih belum taat menerapkan poin terakhir tersebut.
Hal tersebut sejalan dengan survei yang dilakukan BPS tentang Perilaku Masyarakat Di Masa Pandemi COVID-19 yang berlangsung awal September lalu. Dibandingkan ketaatan penggunaan masker yang mencapai 91,98% dan mencuci tangan dengan hand sanitizer yang mencapai 77,71%, tingkat ketaatan masyarakat dalam menerapkan jaga jarak 1 m terbilang lebih rendah, hanya 73,54%. Meski begitu, 81,85% responden mengaku sudah menghindari jabat tangan saat bertemu dengan orang lain.
Menariknya, dalam survei yang sama juga terlihat bahwa mayoritas responden menyadari tentang efektivitas menjaga jarak dalam mencegah penyebaran virus COVID-19. Sekitar 88,6% responden percaya menjaga jarak 1 m efektif cegah terinfeksi virus COVID-19. Sedangkan 91,5% responden percaya menhindari kerumunan juga efektif mencegah penularan.
Survei juga menunjukkan semakin muda usia semakin rendah kepatuhan orang untuk menjaga jarak. Padahal orang muda memiliki peranan yang penting dalam membantu kelompok yang berisiko tinggi terpapar virus COVID-19 seperti orang tua, anak, dan komorbid.
Baca Selanjutnya: Ini Alasan Mengapa Jaga Jarak Itu Penting

Faunda Liswijayanti
Topic
#3m, #ingatpesanibu, #satgas, #corona, #covid-19



