Kami baru saja memiliki anak kedua. Sayangnya, ternyata anak kami ini memiliki keterbatasan. Ia tidak bisa mendengar. Saya pasti sedih, tapi yang lebih terpukul adalah suami. Anak kedua kami adalah anak laki-laki yang dinanti-nanti suami untuk meneruskan nama keluarganya. Ia seperti menjaga jarak dengan anak kedua kami ini. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat suami mencintai anak kami? Saya khawatir ini akan mengganggu kebersamaan kami.
Maria – Lampung
Menurut psikolog Irma Makarim, Tiap orang tua berharap yang terbaik dengan kelahiran bayinya. Tetapi, kenyataannya terkadang tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal yang tidak diharapkan terjadi, rasa kecewa memang akan sulit dihindari. Tak ada orang tua yang dipersiapkan untuk menerima kondisi seperti ini. Mungkin suami Anda bukan tidak bisa mencintai anaknya, tetapi ia masih sulit untuk menerima dan berdamai dengan situasi ini. Kesedihan dan kekecewaannya bisa dipahami. Tetapi, membiarkan dirinya terus terperangkap dalam kekecewaan dan penyesalan tanpa berbuat apa-apa, tak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan mencederai hubungan dengan anak-anak dan Anda.
Suami perlu diingatkan bahwa tidak ada yang sempurna dengan diri dan kehidupan kita semua. Kita harus mensyukuri kelebihan yang kita dapatkan, tetapi juga harus bisa menerima keterbatasan atau kekurangan yang dimiliki. Anak kedua Anda lahir dengan keterbatasan fisik, tetapi tentu ia juga memiliki berbagai kelebihan. Anda berdua sebagai orang tua bisa membantu anak untuk menemukan potensi yang ia miliki dan mendukungnya untuk mengembangkannya.
Yang penting, Anda berdua harus merawatnya dengan penuh kasih sayang, tetapi tidak memanjakan atau menunjukkan rasa kasihan padanya. Fokuskan pada tujuan utama membesarkan anak menjadi pribadi dewasa yang baik, mandiri, penuh percaya diri, dan berbahagia. Ini berlaku bagi semua anak tanpa membedakan ada tidaknya keterbatasan yang dimiliki mereka. Ini dapat diwujudkan kalau orang tua dengan sepenuh hati melibatkan diri dalam perawatan dan pendidikan anak-anaknya.
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, tidak ada seorang pun ingin lahir dengan keterbatasan. Tugas dan tanggung jawab orang tua adalah menumbuhkembangkan anak, sekalipun ia memiliki keterbatasan. Karena, pada kenyataannya tiap orang memang memiliki keterbatasan, tapi mungkin tidak kentara. Ada yang memiliki keterbatasan fisik, ada yang memiliki keterbatasan mental. Justru jangan membuat keterbatasan anak menjadi lebih terbatas dengan merenggangkan hubungan kasih sayang dan perhatian atas dirinya.
Betapa banyak individu yang lahir dengan keterbatasan pada akhirnya mencapai sukses kehidupan di kemudian hari. Anda akan merasa jauh lebih bermakna jika mampu mengatasi keterbatasan anak dengan memberikan support yang bisa membantunya berkembang ke arah potensi optimalnya. Apalagi saat ini fasilitas sosial sudah demikian berkembang dan tersedianya berbagai alat bantu untuk mengatasi ragam keterbatasan individu.(f)




