Trending Topic
Ini Dia Rahasia Bisnis Kuliner Anti-Gagal, Dibahas Tuntas di Kelas Edukasi UMKM Naik Level Bareng Polytron

27 Feb 2026

UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 1: Jakarta diikuti pelaku UMKM sektor kuliner yang menjual beragam jenis makanan. Foto: Dok. Femina/Rashieka Dhafin


Sejak meluncurkan produk pertamanya, yaitu televisi, pada tahun 1975, Polytron telah berkembang menjadi perusahaan nasional yang melahirkan berbagai produk elektronik hingga EV, serta terus mendukung para pelaku UMKM, tulang punggung perekonomian nasional.

Tahun ini, Polytron meluncurkan program terbaru, UMKM Naik Level Bareng Polytron, inisiatif yang dirancang untuk mendampingi pelaku UMKM agar berkembang lebih kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan, serta memperkuat pasar bisnis Polytron di masa depan.

UMKM Naik Level Bareng Polytron bertujuan menciptakan Polypreneurs–para peserta programyang tangguh dan terus bertumbuh. Sebagai awal program, sektor kuliner jadi fokusnya, apalagi Polytron telah lama menghadirkan produk B2B untuk industri kuliner. Kini, lebih dari penyedia produk, Polytron juga ingin jadi mitra tumbuh UMKM.


Belajar langsung dari para praktisi

Salah satu bagian dari program UMKM Naik Level Bareng Polytron adalah kelas edukasi gratis yang dipandu para praktisi dan ahli UMKM. Materinya beragam dan bertahapdari cara pelaku usaha memperkuat fondasi bisnis sampai mempersiapkan diri bersaing di pasar lebih luas.

Kelas edukasi pertama bertema Fondasi Bisnis Kuliner Anti-Gagal, digelar pada 16 Februari 2026 di Tamu, Jakarta, yang juga bisa diikuti melalui live streaming oleh Polypreneurs dari seluruh Indonesia. Kelas ini menghadirkan Prabu Nusantara, Senior Research Manager Populix; Felix Oktarianto, Head of Cooperation & Management Development Podomoro University; dan Erna Sari, Founder Ayam Penyet Bandung.

Membuka acara, Diantika, General Manager Corporate Communications Polytron, mengatakan, “Program perdana Polytron untuk UMKM ini juga menegaskan komitmen Polytron sebagai brand asli Indonesia, yang berdiri di Kudus sejak 50 tahun lalu, dalam mendukung UMKM di Indonesia. Kami memberikan pelatihan langsung dari pakarnya, termasuk membahas tantangan-tantangan yang biasa dialami, dan pastinya juga dengan data terkini.”

Diantika menegaskan komitmen Polytron mendukung UMKM, dimulai dengan sektor kuliner. Foto: Dok. Femina/Rashieka Dhafin

Empat tantangan teratas yang dialami UMKM dibahas di kelas ini, yaitu SDM, permodalan, sistem dan SOP (Standard Operating Procedure), serta peralatan. Para praktisi membahasnya dari sisi data, teori, dan pengalaman, agar Polypreneurs bisa naik level.


SDM jadi tantangan utama

Menurut hasil riset Polytron dengan Populix, SDM menjadi tantangan teratas bagi UMKM. “Sebesar 35% mengaku SDM paling menantang, terutama bagaimana melatih karyawan untuk kecepatan layanan di jam-jam sibuk,” jelas Prabu Nusantara.

Mendidik karyawan agar bisa maju dan berkembang kariernya juga salah satu faktor untuk naik level. Bagaimana kalau setelah pintar karyawan tersebut malah keluar dari perusahaan? “Itu adalah risiko yang pasti harus dihadapi sebagai pengusaha,” kata Felix Oktarianto. 


Permodalan bikin galau

Permodalan jadi tantangan selanjutnya bagi UMKM, dan hasil riset menunjukkan kalau 80% pelaku UMKM adalah perintis dan 63% di antaranya menjadikan tabungan sebagai sumber modal awal. Mereka pun sulit mengajukan pinjaman karena belum mengerti tata caranya.

Faktor permodalan atau finansial sering melahirkan hal dilematis; misalnya, apakah buka dapur baru untuk menambah kapasitas produksi berjualan online, atau buka toko agar bisa langsung dikunjungi pembeli. 

Begitu pula ketika harus memilih membeli peralatan; contohnya, beli showcase (kulkas pintu kaca) untuk menampilkan produk, atau investasi di chestfreezer untuk penyimpanan.

“Hal ini sering bikin pengusaha jadi galau. Karena itu, pengusaha harus belajar bagaimana meyakinkan investor,” kata Felix.

Prabu Nusantara, Felix Oktarianto, dan Erna Sari berbagi ilmu dan wawasan baru di Seri 1: Jakarta. Foto: Dok. Femina/Rashieka Dhafin


Sistem dan SOP penting sejak awal

Faktor ketiga yang jadi tantangan UMKM adalah sistem dan SOP. Dari hasil riset, 25% pelaku UMK masih mencatat secara manual, karena asumsi bisnis masih kecil. “Padahal, selagi bisnis masih kecil, sistem (digital) justru dibutuhkan sejak awal,” kata Prabu.

Felix setuju dengan pendapat ini, karena tanpa sistem dan SOP yang jelas, Polypreneurs juga akan sulit mengelola SDM, mengatasi komplain pelanggan, hingga menangani keselamatan kerja.

“Di perusahaan kecil, biasanya semua bekerja ‘palugada’. Itu tidak apa-apa, asal ada SOP yang mendetail,” ujar Felix.


Peralatan = investasi jangka panjang

Tterakhir, hasil riset Polytron dengan Populix menyebutkan, 18% pelaku UMKM, belum memiliki produk elektronik yang memadai, karena urusan harga.

“Peralatan itu harus dihitung sebagai investasi jangka panjang,” ujar Felix. “Belilah barang yang memang berguna dan berkualitas, bukan semata harga murah.”

Polytron menyediakan beragam kebutuhan UMKM sektor kuliner, dari kulkas, showcase, hingga chestfreezer. Dari lini Kitchenmate juga tersedia peralatan memasak yang lebih praktis dan bisa dipakai untuk usaha, seperti oven dan air fryer.

Peserta antusias dan aktif mengikuti kelas hingga akhir, dan bisa melihat display produk Polytron seperti showcase dan chestfreezer. Foto: Dok. Femina/Rashieka Dhafin


Siap naik level

Selain mampu mengelola empat tantangan di atas, UMKM bisa naik level dengan beberapa cara.

“Definisi naik level untuk UMKM itu bermacam-macam; secara konsep, dari aset, dari sistem, atau dari ekspansi dan diversifikasi,” kata Felix. 

Hal ini juga dialami Erna Sari, saat memulai usahanya, Ayam Geprek Bandung, di tahun 2013. Ketika itu ia harus jadi ibu tunggal setelah meninggalnya sang suami, dan memulai usahanya di warung tenda.

Dari mencoba bisnis tanpa pengetahuan yang layak, ia terus belajar, mempertahankan konsistensi rasa makanannya, hingga akhirnya mampu mengembangkan usahanya menjadi tiga merek, dan membuka beberapa cabang di Jakarta dan Tangerang.

“Sampai sekarang saya juga masih belajar,” kata Erna Sari. “Dari pengalaman inilah saya sadar bahwa besar-kecil bisnis itu tergantung owner-nya, visi-misinya, dan tidak pernah puas adadi satu titik.”

Erna Sari berpendapat, “Naik level bukan soal cepat besar, tapi soal konsistensinya.”


Berbagai benefit untuk Polypreneurs

Polypreneurs sangat antusias mengikuti kelas edukasi perdana dari UMKM Naik Level Bareng Polytron ini. Begitu banyak pertanyaan dari peserta offline maupun online kepada para praktisi–mulai dari cara menghadapi kompetitor, mengatur masa simpan produk, hingga menjaga peralatan agar awet meski sering dibawa untuk bazar. 

Di akhir acara, Vina Julita Wijaya, Head of Public Communications Polytron, juga mengingatkan Polypreneurs akan berbagai benefit jika aktif berpartisipasi di komunitas, termasuk mendapatkan Special Tenant Package di event Polytron lainnya. 

Bahkan Polypreneurs bisa mendapatkan harga spesial dari produk terbaru Polytron yang berguna untuk bisnis mereka. Polypreneur Exclusive Deal ini meliputi paket bundling chest freezer dan oven listrik, produk satuan chest freezer, showcase berbagai ukuran, hingga dispenser galon bawah dengan UV-C lamp dan air purifier. Cek detail promonya di sini.

Vita Julita Wijaya menjelaskan berbagai benefit untuk Polypreneurs, karena aktif di komunitas bisa mendapatkan poin tersendiri. Foto: Dok. Femina/Rashieka Dhafin

Nantikan kelas berikutnya dari UMKM Naik Level Bareng Polytron, yang akan digelar di kota-kota besar lainnya (offline dan online); cek update-nya di akun Instagram @polytronindo. 

“Kami ingin belajar dan berjalan bersama, serta saling bersinergi,” kata Vina, menegaskan komitmen Polytron untuk terus bertumbuh bersama UMKM. (f)
 


Topic

#polypreneur

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?