Trending Topic
Indonesia Rendah Digital Fluency dalam Percakapan di Chat Messenger

2 Jun 2016

Belakangan, seiring dengan keberadaan group chat messenger yang kian mainstream, etika bercakap-cakap dalam grup dan chat messenger pun masih mengalami evolusi. Pernahkah Anda mengalami, pada pagi hari bangun tidur menemukan ribuan pesan unread, bunyi tang tung tang tung notifikasi yang tak henti selama 24 jam, kiriman emoji atau sticker yang membabi buta, membaca celotehan asal bunyi dan ngelantur, saling berbalas meme, foto ataupun video Youtube, dan banyak lagi jenis gangguan yang mungkin muncul dari grup. Giliran kita nanya serius, tidak ada yang respons. Percakapan grup sering sekali tidak terarah, namun kita tak tega untuk leave
 
Belum lagi, kebiasaan broadcast pesan yang dengan mudah terjadi di grup-grup chat. Internet, menurut Endah, membuat orang bisa broadcast apa pun, playing God dengan informasi. Termasuk menyebarkan fitnah, hoax, mengedit foto, demi untuk menyebarkan pengaruh, atau sekadar kepuasan  menjadi orang yang pertama kali tahu.
 
Mengenai hal ini, aktivis internet sehat Shita Laksmi berpendapat, masih rendahnya media literasi di kalangan kita, terbawa dalam percapakan chat messenger. Banyak bermunculannya website baru, tanpa diikuti pengetahuan tentang media yang baik dan bertanggung jawab, berakibat banyaknya hoax tersebar. “Bahkan, orang yang pintar pun tidak ada hubungannya dengan kemampuan memahami pemberitaan. Indonesia memang harus memperkuat media literasi,” tutur wanita yang menjabat sebagai Freedom of Expression Program Development Manager Hivos Indonesia ini.

Shita memandang, digital fluency tidak hanya diperlukan berkaitan dengan dunia profesional, tapi juga diperlukan dalam hubungan antarpribadi. Kita pasti pernah menghadapi situasi beda pendapat dengan teman. Itu adalah hal biasa. Namun, yang sering ditemui, beda pendapat lalu diikuti dengan gesekan antarindividu dalam grup, asal saling menyerang, dan diikuti menyebarkan kebencian. Menurut Shita, penyebabnya adalah karena kita tidak terbiasa berpikir kritis. “Di internet, orang punya kecenderungan untuk menghakimi dan cepat sekali mengambil kesimpulan. Internet, membuat orang cenderung berpikir simpel untuk masalah yang sesungguhnya kompleks,” kata Shita, menyayangkan. 

Faktor pendidikan, pemahaman, serta minimnya budaya membaca, membuat orang mudah sekali menyimpulkan apa yang sebetulnya kompleks. Pikirannya menjadi biner. “Ini ujung kiri, satunya lagi pasti ujung kanan. Jika tidak ‘lover’, pasti dia ‘hater’. Hoax pun mudah sekali ditiupkan dan dilebarkan,” jelas Shita, yang mengatakan hal yang sama juga terjadi di Filipina.  

Masyarakat dengan budaya membaca (buku) yang tinggi, akan lebih melihat segala sesuatu secara komprehensif. Internet, kata Shita, juga berperan dalam mengikis budaya membaca (panjang). Di internet segala informasi disajikan secara sepotong-sepotong.

Tak berbeda dengan Shita, Endah Triastuti, PhD,  Ketua Program Sarjana Komunikasi FISIP UI, menambahkan, kebiasaan broadcast pesan atau berita menunjukkan bahwa seseorang ingin dianggap sebagai The Knower, orang yang pertama kali tahu. Kita –kata Endah- ingin menunjukkan bahwa kita adalah pengguna media yang sangat aktif, tapi seringkali kita lupa bahwa orang lain pun sama aktifnya. Di internet, semua konten bisa dilacak sumbernya. Begitupula gosip dan hoax. “Ketika kita menyebarkan sebuah konten,

sesungguhnya orang lain juga bisa ‘membaca’ kita. Apa saja yang kita baca, grup mana yang kita ikuti, penyedia berita yang kita ikuti, dan sebagainya. The more you broadcast, the more you tell people about who you are,” jelas Endah, yang mengatakan, orang Indonesia masih dalam tahap euforia dengan internet. 
Seperti halnya kanal internet dan media sosial, kesadaran akan privasi juga perlu dibangun ketika bercakap-cakap dengan chat messenger. Ingat, internet adalah jalan raya, semua orang bisa masuk karena ini ruang publik. “Ketika kita sadar bahwa kita disadap dan diawasi, tentunya kita pasti akan menyensor gerak gerik kita,” ujar Shita.
 
Seringkali orang tidak menyadari bahwa chat messenger juga ruang publik, karena kita bercakap-cakap dengan orang yang kita kenal baik. Merujuk pada kasus Edward Snowden yang mengungkap penyadapan yang dilakukan institusi pemerintah terhadap seluruh warga negara Amerika, atas segala aktivitas di online, tidak ada yang aman dan privat di online. Padahal, privasi adalah hak dasar kita, itu yang harus ditekankan. Shita memberi gambaran, kalau dulu, surat pos saja tidak boleh sembarangan dibuka oleh orang lain. Seharusnya, surat dan percakapan di internet juga berlaku demikian. Itulah kenapa, kita tidak perlu terlalu banyak mengumbar privasi kita lewat chat messenger, dan cukup menggunakan seperlunya saja. 

Hal lain yang perlu diingat, percakapan kita yang terekam via chat messenger adalah termasuk informasi elektronik yang bisa dikenai Pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), ketika berkaitan dengan pelanggaran kesusilaan dan pencemaran nama baik. Teks kita bisa dengan mudah di-screen capture, untuk disebarkan ataupun menjadi alat bukti di persidangan.
               
Shita menambahkan, komunikasi teks dalam chat messenger sangat riskan dengan kesalahpahaman. Di dalam teks, semua gesture komunikasi hilang. Tidak ada intonasi, raut muka, kita tidak tahu apakah maksud penyampaiannya itu seperti orang bisik-bisik atau teriak, iseng atau beneran.

“Kita harus ingat bahwa teks itu tidak punya gesture komunikasi. Kalau kita menggunakan huruf besar, misalnya, itu bisa disalahpahami sebagai kemarahan. Orang lain yang membaca bisa menginterpretasikan banyak hal dengan teks kita,” jelas Shita, yang berpendapat sebaiknya dalam sebuah grup, anggotanya saling kenal satu sama lain.   Hal ini untuk menghindari jika suatu saat terjadi kesalahpahaman, bisa mudah diklarifikasi secara offline. (f)
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?