Trending Topic
Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan : “Perempuan Indonesia Jangan Pernah Lelah Belajar”

8 Oct 2021

Saat ini kita berada dalam era industri 4.0 yang menantang. Sektor ketenagakerjaan terus bergelut untuk menghadapi perubahan dan pergeseran yang utamanya lebih ke arah teknologi digital. Hal ini disampaikan Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, dalam pidato kuncinya, membuka acara Indonesian Women’s Forum (IWF) 2021, yang diprakarsai Femina dan diadakan secara virtual untuk pertama kalinya, Senin (27/9/2021).

Kondisi pandemi COVID-19 pun berkontribusi pada pergeseran-pergeseran itu, ketika ruang gerak kita secara fisik menjadi terbatas dan kesehatan menjadi prioritas, sementara roda kehidupan harus terus berputar. Perempuan Indonesia, tak terkecuali, menghadapi tantangan ini, dituntut untuk terus bergerak dan tidak pernah lelah belajar. 

Tantangan Makin Besar, di Mana Posisi Perempuan Indonesia? 

Pergeseran dan tantangan yang terjadi saat ini tentu harus dilihat secara positif sebagai peluang, baik di masa kini maupun masa depan. “Diprediksikan akan ada banyak pekerjaan baru yang tumbuh dan timbul. Dunia kerja akan lebih fleksibbesar, el akibat kemajuan teknologi. Pekerjaan akan lebih mudah dikerjakan dari semua tempat dan waktu,” kata Ida.

Semua perubahan diiringi timbulnya kompetensi baru yang harus dikuasai tenaga kerja kita agar tidak tertinggal dari persaingan global. Ida mengatakan bahwa ini merupakan tantangan berat, termasuk bagi perempuan Indonesia. Apalagi, jika dilihat dari profil angkatan kerja perempuan terbaru menurut data Sakernas, Februari 2021, terdapat 55 juta angkatan kerja perempuan, dengan 52 juta orang sudah bekerja dan sekitar 3 juta orang dengan status pengangguran. Sementara, dari sisi pendidikan, kelompok terbesar dari angkatan kerja perempuan Indonesia masih didominasi tamatan SD ke bawah (39%). Sektor yang paling banyak mempekerjakan perempuan adalah usaha jasa dan tenaga penjualan.

“Data juga menunjukkan bahwa jumlah pekerja perempuan yang bergerak di sektor informal dan UMKM masih sangat besar jumlahnya sampai saat ini. Melihat profil ini, maka adanya revolusi digital akan menjadi tantangan besar bagi pemberdayaan tenaga kerja perempuan di masa depan,” ungkap Ida.

Yang Adaptif dan Inovatif yang Bertahan

Dalam menyikapi perubahan yang terjadi di dunia kerja dan ketenagakerjaan yang semakin dinamis, Ida menyebutkan, kunci utamanya adalah sikap adaptif dan inovatif. Namun, untuk bisa adaptif dan inovatif diperlukan modal. “Miliki skill atau kompetensi yang baik dan sesuai kebutuhan. Dengan kompetensi yang tepat, kita akan bisa terus berkarya dan berdaya menghadapi segala bentuk perubahan. Kompetensi dan skill ini bisa diperoleh dengan mengikuti berbagai proses pendidikan maupun pelatihan yang semakin mudah diikuti melalui berbagai media,” kata Ida.

Tidak bisa dipungkiri, pendidikan sangat penting dan berpengaruh bagi pemberdayaan perempuan sehingga bisa meningkatkan skill dan karya. Ida kembali mengutip data berkaitan dengan peran pendidikan bagi perempuan, menyebutkan dari total 55 juta angkatan kerja perempuan, sekitar 16,34% memiliki pendidikan tinggi. Sementara, dari total 34,8 juta angkatan kerja laki-laki, hanya 10,81% yang berpendidikan tinggi. 

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa bekal pendidikan yang lebih tinggi mampu mendorong perempuan usia kerja lebih aktif dalam pasar kerja. Pendidikan menjadi pembuka pintu bagi perempuan untuk mampu berkontribusi lebih bagi perekonomian,” kata Ida.

Literasi Teknologi Digital

Teknologi digital membuat dunia tak terbatas, sehingga membuka peluang-peluang baru dan lebih luas. Lewat teknologi digital perempuan seharusnya bisa mengasah kompetensi dirinya, rescaling dan upscaling. Karena itu, memiliki literasi teknologi digital adalah keharusan. Ida mengatakan bahwa teknologi digital membuka kesempatan untuk kita berpartisipasi dalam kegiatan perekonomian, misalnya melalui marketplace yang tumbuh dengan pesat. Ke depannya akan makin terbuka lebar peluang bagi perempuan untuk bisa berkarya di pasar kerja. 

“Pesan saya untuk perempuan Indonesia, jangan pernah lelah belajar dan mengembangkan kualitas serta kompetensi diri, termasuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena modal inilah yang akan sangat berguna dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis,” kata Ida.

Walaupun pemerintah tengah berkonsentrasi pada penanganan pandemi, Ida meyakinkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, tetap menjadi prioritas, seperti yang diungkap Presiden Joko Widodo dalam pidato HUT Kemerdekaan RI ke 76, Agustus lalu. Bahkan Presiden memberikan arahan khusus bagi Kemenaker untuk terus meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender. Untuk itu, Kemenaker secara aktif terus-menerus menyelenggarakan pelatihan vokasi yang bisa diikuti oleh tenaga kerja perempuan, untuk meningkatkan berbagai keterampilannya. (f) 

Penulis: Gracia Danarti 


Baca Juga: 
Pesan Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati untuk Para Perempuan di Indonesian Women's Forum 2021
BUMN Butuh Lebih Banyak Pemimpin Perempuan
Adaptasi Dunia Kerja yang Tak Lagi Sama

 


Topic

#IWF2021, #konferensi, #karier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?