Trending Topic
Makna di Balik Perayaan Natal

25 Dec 2016


Foto: Fotosearch

Setiap orang memaknai sendiri saat merayakan Natal. Ada yang berbagi pada sesama, menghadiri misa Natal di Vatikan, atau sekadar berkumpul dengan keluarga. Menurut Pendeta Martin L. Sinaga, D.T., yang juga dosen di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus secara teologi menduduki peringkat kedua dalam perayaan iman Kristen. Pertama adalah Paskah, yaitu peringatan kebangkitan dari kematian. Dari sudut pandang iman Kristen, kebangkitan itu adalah simbol kekuatan jahat bisa diatasi.

“Sedangkan kelahiran Yesus dimaknai selalu akan lahir kehidupan yang baru, adanya tunas baru yang merupakan bentuk hadiah (gift) dari Tuhan,” jelasnya. Kehidupan sebagai hadiah dari Tuhan itu kemudian menjadi key word dalam memaknai Natal yang sesungguhnya. “Mudahnya, karena kita sudah diberi kehidupan oleh Tuhan, maka mari kita melanjutkan semangat pemberian itu, pemberian yang membuat kita merasakan kemurahan hidup,” tambah Pendeta Martin. Konsep ini tentu terdengar abstrak. Karena itu, secara sederhana penerjemahan semangat ‘memberi’ itu adalah saling berbagi kepada sesama.

Namun belakangan, banyak umat kristiani yang memaknai Natal sebagai momen untuk kembali ke keluarga.  Mengapa ada perpanjangan makna dari ‘memberi’ menjadi ‘keluarga’, hal ini menurut Pendeta Martin tak lepas karena ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, biasanya dimulai kepada orang-orang terdekat kita terlebih dahulu. “Siapakah mereka? Ya keluarga. Karena itulah, akhirnya Natal pun menjadi momen keluarga,” terangnya.
   
Pendeta Martin memiliki pandangan menarik dengan fenomena mudik Natal  ini. “Di Indonesia, mudik untuk merayakan Natal sebetulnya   tidak   dilakukan oleh semua orang,   hanya   sebagian orang saja. Mudik ini sebetulnya juga lebih karena timing yang pas dengan liburan akhir tahun. Karena libur, sekalian saya mudik, sambil membawa kado-kado untuk orang tua dan keluarga di rumah,” jelas Pendeta Martin.
   
Lalu, untuk di Indonesia, apakah ini karena pengaruh tradisi mudik Lebaran umat muslim? “Sebetulnya tradisi mudik Lebaran pun karena pengaruh budaya Jawa. Karena, bila ditanya lagi, mudik Lebaran kan bukan hanya untuk bermaaf-maafan dengan keluarga, tetapi juga nyekar ke makam leluhur yang merupakan tradisi Jawa,” jelas Pendeta Martin. Proses saling memengaruhi inilah yang kemudian memunculkan tradisi baru, salah satunya mudik ketika Natal.   
   
Pendeta Martin mengakui, secara teologis, tradisi Natal itu tradisi yang longgar. “Dia bukan seperangkat, katakanlah, hukum yang mengikat. Di sini yang lebih penting adalah pesannya,” imbuhnya. Karena itu, sepanjang bisa menangkap pesan Natal, maka tidak ada yang salah bila ada yang merayakan Natal dengan mudik ke rumah orang tua, jamuan makan dengan keluarga, sibuk mengikuti acara-acara di gereja, atau bergabung dalam koor yang bernyanyi dari gereja ke gereja atau melakukan konser Natal, hingga melakukan ziarah rohani, baik di situs-situs perziarahan dalam maupun luar negeri. “Dan ketika itu diterjemahkan ke berbagai cara yang penuh kreativitas dan personal maka makna Natal akan kian bernas,” tutur Pendeta Martin. (f)
 
Baca Juga: 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?