
Foto: Istimewa
Puncak pertemuan para Menteri bidang kebudayaan (Culture Ministers Meeting) negara anggota G20 akan digelar di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah pada 12-13 September 2022. Serangkaian kegiatan G20 yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia ini akan membawa semangat kebersamaan. Selaras dengan tema G20 Indonesia “Recover Together, Recover Stronger".
Salah satunya adalah dengan dibentuknya, dan dipagelarkannya untuk pertama kali G20 Orchestra, yang melibatkan musisi dari 20 Negara G20. Orkes ini adalah inisiatif dari Menteri Dikbudristek RI, Nadiem Makarim dan Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid. Ketika mereka menyampaikan ide ini pada saya di bulan Januari lalu, saya langsung berpikir bahwa orkes ini tidak boleh jadi "just another orchestra". Harus istimewa dan membawa pesan besar.
Kesetaraan Gender Pada Orkestra Klasik
Saya ingin perhelatan G20 Orchestra ini mengedepankan kesetaraan gender, yang tercermin pada komposisi musisi yang terlibat. Target kami adalah perbandingan 50:50 jumlah musisi laki-lak dan perempuan yang akan bermain dalam orkestra istimewa ini. Pada akhirnya, angka tersebut ternyata meleset. Hasil akhirnya adalah total 34 musisi laki -laki dan 28 musisi perempuan.
Apakah ini artinya tidak banyak musisi perempuan di tanah air? Persisnya saya tidak mau kompromi dengan kualitas teknik dan musikalitas hasil audisi dari musisi Indonesia dari berbagai kota yang kami lakukan. Saya harus mengakui bahwa musisi orkes di Indonesia masih didominasi oleh musisi laki-laki. Ini sebuah catatan penting.
Tradisi orkestra di Eropa pun sampai saat ini memang masih didominasi laki-laki, Walaupun hal tersebut bukan disebabkan oleh kekurangan musisi perempuan yang berkualitas . Di Wien Philharmoniker (Orkes Filharmonik Vienna) hingga tahun 1997 perempuan tidak diperkenankan menjadi anggota orkes Begitu juga di Berlin Philharmonic Orchestra yang sampai saat ini masih membatasi anggota musisi perempujan hanya 14% dari total anggota . Berlin baru membuka pintunya untuk perempuan di tahun 1982.
Tidak hanya di Vienna dan Berlin, banyak orkestra lainnya di dunia barat yang masih kental dengan nilai patriarkinya. Saat ini rata-rata orkes di Amerika Serikat terdiri dari 63% laki-laki dan 37% perempuan. Ketimpangan ini lebih besar di orkes-orkes terkemuka seperti New York Philharmonic dengan hanya 30% perempuan. Perempuan hanya mendominasi di instrumen viola, harpa dan flute. Dua instrumen terakhir ini 90% lebih didominasi oleh perempuan (situasi ini bukan hanya di Amerika tapi juga di Eropa). Di seluruh dunia, seksi perkusi dan brass (french horn, trompet, trombon dan tuba) didominasi oleh laki-laki lebih dari 90% (bahkan trompet 97%).
Dunia musik klasik memang bukan hanya tentang orkes. Saya belum bisa menemukan data akurat tentang berbagai profesi lain yang merupakan profesi satelit' dari panggung musik itu sendiri. Misalmya saja bidang rekaman (teknisi, ahli akustik dan lain-lain), administrasi (manajemen artis, produser, promotor, penanggung jawab konser, program dan lain-lain) dan tentu saja bidang edukasi.
Yang terakhir ini, hanya melalui pengamatan saja, saya berani mengatakan bahwa mayoritas guru musik klasik (terutama piano) di Indonesia adalah perempuan. Bahkan ada anggapan lama bahwa kalau anak kita les piano atau instrumen lainnya, yang laki -laki nantinya ditujukan untuk menjadi pemain, sedangkan yang perempuan bisa jadi guru.
Dari pengalaman mengadakan kompetisi di Indonesia Ananda Sukarlan Award (piano sejak 2008 dan vokal sejak 2011), baik peserta maupun pemenangnya masih mayoritas laki-laki. Belakangan ada kemajuan dengan jumlah yang semakin berimbang 50:50.
Foto: Istimewa
Mungkinkah Mendobrak Patriarki ?
Pada G20 Orchestra ini diharapkan isu mengenai kesetaraan gender diantara musisi musik klasik bisa menjadi pembuka mata serta menjadi trendsetter untuk banyak orkestra dunia lainnya. Karena syarat atau setidaknya target 50:50 ini belum pernah diterapkan hingga saat ini pada orkestra musik klasik lainnya.
Untuk pemimpin atau dirigen orkes, tentu banyak dirigen (laki-laki) yang merasa bahwa posisi mereka digoyahkan dengan semakin banyaknya dirigen perempuan. Secara langsung ataupun tidak, pemahaman ini bisa menghambat karier para dirigen perempuan. Itu juga menjadi salah satu penyebab masih sedikit sekali dirigen perempuan yang terkemuka.
Saya hanya bisa menyebut misalnya Anna Rakitina dari Rusia yang sekarang menjadi assistant conductor Boston Symphony Orchestra yang dirigen utamanya adalah Andris Nelsons dari Latvia. Yang sudah lebih mapan adalah Marin Alsop yang kini menjadi dirigen utama Vienna Radio Symphony Orchestra dan Ravinia Festival.
Tahun 2021 lalu Atlanta Symphony Orchestra mengumumkan Nathalie Stutzmann sebagai dirigen utama baru, dan menjadikannya perempuan pertama yang menjadi dirigen orkes terkenal tersebut. Beberapa nama yang kini dikenal memegang baton orkestra internasional selain nama-nama yang telah saya sebut di atas antara lain adalah Ariane Matiakh, Laurence Equilbey, Alice Farnham, Mirga Gražinytė-Tyla dan Alondra de la Parra. Mereka telah berjuang melawan rintangan, meruntuhkan penghalang yang dipatok oleh para penjaga tradisi', dan sekarang menjadi inspirasi bagi para musisi muda.
Mariss Jansons, dirigen emeritus dari Concertgebouw Orchestra membuat pernyataan di tahun 2017 melalui koran Inggris The Telegraph bahwa, "saya besar di lingkungan yang berbeda, dan melihat seorang dirigen perempuan di atas podium ... well let's say it's not my cup of tea" (dengan kata lain hal itu tidak cocok dengan tradisi/pemikirannya). Sedangkan komentar paling seksis menurut saya adalah oleh Vasily Petrenko, dirigen Royal Liverpool Philharmonic pada tahun 2013 yang telah memicu banyak kemarahan . Ia mengklaim antara lain bahwa, orkestra bereaksi lebih baik ketika mereka memiliki seorang pria di depan mereka dan bahwa gadis manis di podium pemimpin membuat musisi [orkes] memikirkan hal-hal lain. "Ketika (kepemimpinan orkes) dikerjakan oleh seorang laki-laki, musisi menemukan lebih sedikit gangguan erotis," kata Vasily. Ia juga mengatakan ketika wanita memiliki keluarga, menjadi sulit untuk berdedikasi seperti yang dituntut dalam profesi ini.
Soal ketimpangan gender ini juga terjadi pada posisi concertmasters, atau wakil atau "penyambung lidah" para pemain orkes. Para concertmasters bertanggungjawab atas hak dan kewajiban para musisi. Bahkan bisa disebut ia adalah pemimpin orkes dalam 'menghadapi' sang dirigen. Julukannya adalah "The second man after the Maestro". Perhatikan kata 'man' serta maestro", bukan 'maestra' (dalam bahasa Italia dan Spanyol, akhiran "o" adalah untuk maskulin, "a" untuk feminin) Jabatan ini secara sejarah masih sangat didominasi oleh laki-laki.
Orkes Filharmonik Oslo (Oslo Filharmonien) bagi saya adalah salah satu contoh terbaik dari orkestra bertaraf internasional di mana sebagian besar posisi terdepan, baik dalam administrasi maupun musikal dipegang oleh perempuan. Sebut saja dirigen utama Ingrid Røynesdal, concertmaster Elise Båtnes (yang kemampuan artistiknya begitu mengesankan. Silakan didengar dalam rekaman terbaru Oslo Philharmonic dengan karya Richard Strauss dan Rimsky-Korsakov. Ada juga pemimpin viola Catherine Bullock-Bukkøy, pemimpin french horn Inger Besserudhagen, dan pemimpin cello Louisa Tuck, yang bersinar di rekaman terbaru orkes itu dengan Don Quixote karya Richard Strauss.

Foto: Istimewa
Pesan Besar Dari G20 Orchestra
Melalui G20 Orchestra, Indonesia memiliki kesempatan untuk mendobrak banyak hambatan yang terlihat maupun tidak terlihat di dunia musik klasik. Kesetaraan gender di dalam orkes itu sendiri, kepemimpinan perempuan di depan orkes maupun kepemimpinan para pemain orkes. Pesan yang sangat besar dan penting. Dan sebagai seorang lelaki yang mengaku feminis dan progresif, saya tidak melewatkan kesempatan langka bersejarah ini
Itu sebabnya, setelah beberapa kali menonton Eunice Tong memimpin Jakarta Simfonia Orchestra yang didirikan oleh ayahnya, Stephen Tong, serta melihat juga pemain biola Korea Selatan Seulbi Lee sebagai concertmaster, saya berani mengambil keputusan bahwa baik Eunice maupun Seulbi akan bisa memimpin G20 Orchestra ini dengan sangat baik pada September nanti.
Selain itu kita meruntuhkan mitos bahwa beberapa instrumen hanya 'bisa' dipegang oleh laki-laki seperti instrumen perkusi ( akan ada dua pemain perkusi perempuan dari Brazil) dan French Horn ( akan hadir Emi Akiyama dari Jepang dan Eileen Coyne dari Amerika). Kita bangga bahwa satu-satunya pemain tuba di G20 Orchestra adalah perempuan Indonesia, Atika Septiana Laksmi, mahasiswi pascasarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Pencarian musikus Indonesia untuk G20 Orchestra dimulai dari titik nol, seakan-akan saya tidak mengerti peta musik klasik di Indonesia sama sekali. Setelah bertahun-tahun saya menjelajah gurun musik klasik Indonesia yang gersang, saya harus mengakui bahwa ternyata saya memang tidak mengenalnya.
Kita selalu melirik negara-negara tetangga dan mengeluh bahwa rumput tetangga lebih hijau, padahal kita memiliki akar rumput bibit unggul yang sayangnya selalu kita pangkas sebelum rumput itu sempat tumbuh dan berkembang. (f)
Penulis : Ananda Sukarlan (Pianis & komponis, pendiri & direktur artistik G20 Orchestra).
Baca Juga:
KTT W20 di Tepi Danau Toba Dorong Pemberdayaan Perempuan Wirausaha
W20 Summit Lahirkan Toba Track, Komitmen Aksi Nyata Pemberdayaan Perempuan
Chair W20, Handriyani Uli Silalahi : W20 Summit Harus Bawa Perubahan Pada Kondisi Perempuan
Topic
#genderequality, #ketimpangangender, #musik, #musikklasik, #g20


