Trending Topic
Cara Jaga Kesabaran Menghadapi Komentar

16 Jun 2016


Foto: Fotosearch
 
Bayangin, nih, mood lagi senang-senangnya karena presentasi pemasaran di hadapan klien berjalan lancar, tiba-tiba si A—yang jago mengungkapkan komentar dalam situasi apapun—bilang bahwa kita kaku kayak orang-orangan sawah pas presentasi tadi sehingga sebenarnya kurang meyakinkan. Komentar sederhana ini bisa membuat mood langsung berantakan hari itu juga.
 
Wajar, sih, kalau sesekali ada yang mengritik kita. Tapi kritik yang muncul tanpa lihat-lihat situasi, ya, tidak asyik juga. Sepertinya, yang bisa dilakukan “si komentator” ini hanya menyampaikan keberatan pada berbagai hal.
 
Budaya berubah
Ada saja ketidaksempurnaan orang yang dikomentari oleh orang yang sangat kritis ini. Menurut dra. Ratna Juwita, M. Psych, watak seperti ini terbentuk biasanya akibat berada dalam keluarga yang sangat terbuka mengungkapkan pemikiran mereka.
 
“Dia sering mengalami atau menyaksikan sesama anggota keluarganya blak-blakan saling mengritik. Kondisi yang berlangsung terus menerus ini akan tersimpan di alam bawah sadarnya dan menjadi kebiasaan bagi si individu sampai dia dewasa,” ungkap psikolog dari Universitas Indonesia ini.
 
Kebiasaan vokal menyampaikan kritik ini pada akhirnya, lanjut Ratna, didukung pula oleh perubahan budaya dalam masyarakat. Terutama budaya Timur dalam masyarakat Indonesia yang mengajarkan untuk menahan diri dalam bersikap supaya tidak menyinggung.
 
“Internet, saluran TV kabel, dan media lainnya menjadi salah satu faktor penyebab perubahan. Seringkali masyarakat tidak bisa membedakan cerita film—yang dibuat berlebihan--dengan kehidupan nyata. Orang pun meniru perilaku dalam media sehingga semakin lama seperti tidak ada rem untuk mengritik.”
 
Hubungan memburuk
Pengaruh keluarga, masyarakat, dan media ini sebenarnya merupakan pemicu munculnya kepribadian dasar si individu. Artinya, bila seseorang yang punya kecenderungan agresivitas tinggi melihat contoh-contoh dalam masyarakat, memudahkannya untuk merasa tidak masalah mengungkapkan pendapat, tanpa mempertimbangkan sebab-akibatnya lagi.
 
“Komentar seseorang merupakan cerminan dari keyakinan dan pandangannya tentang kehidupan. Dengan berkomentar, dia lebih mudah mengeluarkan emosi, tanpa perlu dipendam. Soalnya, jika terlalu dipendam malah menjadi masalah juga,” kata Ratna.
 
Tidak masalah bila ingin mengeluarkan unek-unek saat marah atau kesal. Namun, mesti dipikir lebih bijaksana dampak negatifnya.
 
Hubungan dengan orang lain bisa memburuk, terutama bila orang yang dikomentari itu menganggapnya personal—dimasukin ke hati, kemudian butuh waktu lama serta usaha lebih berat untuk memperbaiki hubungan yang sudah terganggu.
 
Asertif tanpa menyakiti
Selama tidak ada yang memberitahu langsung, seorang pengritik ‘akut’ tidak menyadari perilaku dan akibatnya yang menyinggung orang lain. Malah, bila dibiarkan, bakal menguatkan tingkah lakunya.
 
Bisa-bisa, makin banyak orang yang merasa tersinggung oleh perkataannya. Orang tersebut pun bakal dijauhi dan musuhnya bertambah. Jadi, sebagai teman, lebih baik kita ngomong langsung padanya.
 
“Kita harus asertif atau lebih vokal lagi dalam menyampaikan keberatan pada teman tersebut. Supaya tidak menyakitinya, penting belajar berkomunikasi tanpa menyakitinya. Paling tidak, teman kita mendapatkan informasi mengenai perilakunya tadi,” kata Ratna.
 
Kita bisa bilang kalau memahami bahwa dia tidak bermaksud menyinggung kita, tapi kalau setiap perkataan dan perbuatan sering dia permasalahkan, akan membuat kita tidak nyaman. Siap-siap kalau dia mungkin membela dengan berkata bahwa itu masalah kita, bukan dia. Maka, coba tunjukkan dampak perilakunya pada orang lain.
 
Jika dia tidak berubah juga, tidak perlu memaksakan diri untuk mengubahnya. Mengubah kebiasaan yang sudah menjadi sifatnya tidak mudah.

“Mengubah kebiasaan yang sudah menjadi sifat seseorang tidak mudah. Tapi tidak usah juga membalasnya dengan permusuhan. Kalau selanjutnya kita merasa perlu menjauh, itu manusiawi. Setidaknya, dengan mengenal orang tersebut, kita bisa mengenal beragamnya sifat manusia,” jelas Ratna.(f)


Topic

#puasadanlebaran

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?