
Foto: NJL
Kemuliaan dan kehormatan orang tua adalah rambut putih di kepalanya. Hikmat yang lahir dari tempaan pengalaman hidup yang berjalan seiring usia menjadi keistimewaan mereka yang dianugerahi usia lanjut. Seperti yang juga baru saja dilalui oleh Pia Alisjahbana, yang pada 26 Juli lalu genap berusia 83 tahun.
“Setiap hari saya selalu bersyukur, saya masih diizinkan menghirup udara kehidupan. Saya telah mengalami segala zaman, dari masa Indonesia berada di bawah penjajahan hingga sekarang. Bahkan, kakak saya justru telah mendahului saya, gugur di medan revolusi,” ungkap istri Sofjan Alisjahbana ini, di sela-sela acara syukuran ulang tahun yang dirayakan bersama alumni Putri Remaja Indonesia, di kantor femina, Selasa (9/8) lalu.
Di usianya yang sudah kepala delapan, Pia masih produktif. Saat ditanya resep di balik kegesitan dan penampilannya yang selalu segar, ia tertawa. “Banyak bergaul dengan yang muda, seperti mereka ini,” jawab Ibu Pia, sambil menunjuk para alumni Putri Remaja Indonesia, dari seluruh angkatan, yaitu dari tahun 1975 hingga 1988.
Putri Remaja Indonesia adalah ajang tahunan yang digagas Pia Alisjahbana melalui majalah Gadis. Gara-gara ini, dirinya sempat dipanggil oleh Menteri Pendidikan kala itu, karena dianggap memanfaatkan para remaja putri ini untuk kepentingan publikasi majalah. Alhasil, beberapa tahun penyelenggaraannya sempat terhenti.
“Tujuan saya saat itu ingin memberikan apresiasi kepada remaja putri berprestasi dari seluruh Indonesia. Kami bahkan membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang bisa menambah rasa percaya diri untuk lebih berprestasi,” ujar ibu Pia, yang menuangkan kisah hidupnya dalam buku Menembus Batas. “Saya bangga sekarang mereka menjadi orang yang hebat-hebat!” tegasnya, dengan mata berbinar.
Di mata para alumni Putri Remaja Indonesia, sosok Pia Alisjahbana meninggalkan kesan cukup mendalam. “Beliau adalah teladan yang baik. Di usianya yang ke-83 masih terus berkarya. Bahkan, ikut menggagas yayasan yang menjaga dan melindungi pelestarian kekayaan heritage di Indonesia,” kagum alumni angkatan ’77, Andini Yuliani Paris, mantan anggota DPR (2004/2009) Komisi II yang kini menjadi anggota lembaga kajian konstitusi MPR RI.
Di kesempatan temu kangen ini, Ibu Pia mengundang para alumni Putri Remaja Indonesia untuk ambil bagian di Yayasan Pusaka Indonesia yang dibinanya. “Indonesia adalah negara yang kaya akan tangible dan intangible heritage. Saya mengajak, kalian yang masih muda-muda ini untuk ikut ambil bagian dalam usaha pelestarian,” ungkap Koordinator Pasca Sarjana Kajian Wilayah Amerika dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini.
Ajakan ini mendapat respons positif dari para alumni Putri Remaja. Mereka tidak hanya mengisi formulir pendaftaran, beberapa bahkan langsung memberikan komitmen nyata. Salah satunya, Tjandra Wibowo, alumni Putri Remaja angkatan ‘85, yang menyumbangkan 200 lebih film dokumenter buatannya tentang kehidupan suku-suku terasing dan kekayaan budaya Indonesia di berbagai provinsi.
“Komitmen beliau di beberapa isu, seperti pemberdayaan wanita dan pelestarian budaya dan kesenian, sangat besar dan teruji. Dulu, saat masih bekerja sebagai jurnalis di TV, saya sering berjumpa dengan beliau di berbagai acara nasional atau internasional yang mengambil isu wanita, sosial, budaya, dan kesenian,” ungkap Tjandra, kagum. Tetap sehat, bahagia, dan langgeng dalam karya Ibu Pia Alisjahbana! (f)



