Sering menangani pasien darurat namun dengan gaya berbeda 180 derajat: dr. Bang Kang-hyuk dalam The Trauma Code: Heroes on Call dan dr. Kim Sabu dalam Dr. Romantic. Foto: Netflix, SBS
Ramainya perbandingan komunikasi yang dilakukan dua dokter sekaligus influencer populer di media sosial, dr. Gia Pratama dan dr. Tirta Mandira Hudhi, sebenarnya adalah bukti bahwa gaya komunikasi dokter dan pasien terus berkembang.
Pendekatan lebih santai tapi tetap kredibel ala dr. Gia dan dr. Tirta (di luar urusan “tenteram” vs “tantrum”) membuktikan bahwa edukasi kesehatan nggak harus kaku atau penuh istilah rumit.
Kalau kamu sedang mempertimbangkan berkonsultasi ke dokter, mungkin gambaran komunikasi dokter-pasien berikut dari gaya komunikasi dr. Gia dan dr. Tirta bisa jadi panduan yang relevan, siapa pun nanti dokter di kota kamu.
Dua dokter dengan gaya komunikasi bertolak belakang, namun sama-sama kredibel. Foto: IG @giapratamamd @dr.tirta
1/ Santai, tapi tetap jelas
Alih-alih pakai bahasa medis yang ribet, dr. Gia dan dr. Tirta cenderung menyederhanakan istilah. Misalnya, daripada langsung menyebut diagnosis panjang, dokter akan menjelaskan dengan analogi yang relatable. Tujuannya agar pasien benar-benar paham, bukan sekadar mengangguk.
2/ Memberikan edukasi, bukan menggurui
Gaya komunikasi ini menghindari nada “paling benar.” Baik dr. Gia maupun dr. Tirta sering menjelaskan alasan di balik suatu kondisi atau pengobatan. Jadi, pasien merasa diajak mikir bareng, bukan disuruh-suruh.
3/ Blak-blakan tapi berempati
Kejujuran jadi kunci—kalau ada kebiasaan pasien yang kurang sehat, disampaikan secara langsung. Tapi penyampaian mereka tetap dibalut empati, bukan menghakimi. Ini penting supaya pasien nggak defensif, atau malah kabur.
4/ Memanfaatkan platform digital
Keduanya aktif di media sosial untuk edukasi kesehatan. Ini bikin komunikasi nggak terbatas di ruang praktik saja. Kamu yang terbiasa dengan konten cepat jadi lebih mudah terpapar informasi yang benar (dan bisa melawan hoaks kesehatan).
5/ Dua arah, bukan satu arah
Komunikasi bukan cuma dokter bicara-pasien mendengar. Gaya dialog ini mendorong pasien untuk bertanya, bahkan mengkritisi. Diskusi jadi lebih hidup dan keputusan medis terasa lebih “kolaboratif.”
6/ Relevan dengan gaya hidup kamu
Topik yang diangkat sering dekat dengan keseharian, seperti begadang, urusan pola makan, stres, sampai tren kesehatan yang lagi viral. Jadi bukan teori yang asing, tapi sesuatu yang langsung bisa diterapkan.
Pada akhirnya, komunikasi ala dr. Gia dan dr. Tirta menunjukkan bahwa dokter bukan hanya “penyembuh,” tapi juga komunikator. Ketika cara penyampaiannya tepat, pesan kesehatan jadi lebih mudah dipahami—dan lebih besar kemungkinan untuk benar-benar dijalankan. (f)
Baca juga:
Usia Produktif di Indonesia Baru 13% Lulusan Pendidikan Tinggi
UMKM Naik Level Seri 2 Surabaya: Brand Makin Kuat dengan Storytelling dan Tidak Gengsi Belajar
Lingkar Sejiwa: Seni Legowo, Kunci Menuju Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna
Brianna Relisha




