
Dok. Pexels
Jika dirunut ke akarnya, menurut Verauli, perceraian terjadi karena individu-individu tersebut punya masalah komunikasi dengan pasangan. Bukan karena mereka tidak handal dalam berkomunikasi, tapi tidak adanya waktu yang memadai sebagai pasangan untuk berkumpul.
Verauli melihat bahwa hal ini erat kaitannya dengan semakin panjangnya waktu yang dihabiskan masyarakat era kini untuk mengembangkan karier, membuat tak ada lagi waktu untuk cinta (no time for love).
“Tidak ada lagi waktu intimate, mendampingi pasangan, apalagi untuk komunikasi. Bahkan untuk beberapa kasus yang saya temui, mereka justru menghindari komunikasi yang mendalam dengan pasangan,” jelasnya lagi.
Hal ini sejalan dengan temuan Femina yang mengatakan bahwa 91 persen milenial dan 87 persen gen x menilai kunci pernikahan yang harmonis adalah komunikasi yang terbuka dan jujur. Namun di satu sisi juga, berkomunikasi dengan pasangan jadi tantangan bagi 54 persen gen x dan 44 persen milenial.
Menurut Verauli banyak pasangan yang sukar menyampaikan keluhan, kritik, masukan atau kebutuhannya. “Karena cara yang cenderung dipakai adalah pola agresif (menyerang) atau justru tidak dibahas sama sekali dan diam saja,” paparnya.
Ketika keluhan tidak terungkapkan, masing-masing pasangan jadi menyimpan kemarahan dan bisa jadi api dalam sekam di pernikahan. Selain itu juga banyak pasangan yang gagal untuk ekspresif menyatakan cinta.
“Cinta tidak harus selalu mengatakan aku sayang kamu, namun tindakan-tindakan mencintai itu harus ada. Sayangnya seringkali kita justru menunjukkan aksi-aksi yang tidak mencintai, yaitu abai,” jelasnya.
Verauli mencontohkan bahwa salah satu tindakan abai adalah ketika pasangan berada di sisinya, ia malah lebih memilih untuk fokus pada gawainya.
Komunikasi menjadi sesuatu yang sangat esensial dalam sebuah pernikahan. Karena itu, menurut Verauli pasangan perlu memiliki komunikasi yang mendalam. Sehingga ketika terjadi konflik dalam pernikahan, bisa terselesaikan karena adanya komunikasi yang baik antar pasangan.
Verauli menekankan bahwa konflik dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan itu sehat.
“Namun pastikan konflik tersebut terselesaikan. Karena pernikahan yang tidak bahagia terjadi akibat konflik yang tidak selesai ditangani atau bahkan justru dihindari. Yang perlu dilakukan adalah belajar berkomunikasi dan mengelola konflik. Dua kemampuan basic ini jadi penting,” ujarnya. (f)
BACA JUGA :
RUU Ketahanan Keluarga Menuai Kontroversi
Ini Dampak Buruk Memberikan Citra Negatif tentang Mantan Pasangan Kepada Anak
Bangkit Setelah Perceraian Menyakitkan
Topic
#SurveiFemina, #Perceraian, #Perselingkuhan, #KDRT


