Sex & Relationship
Kisah Tiga Pria, Adil Berbagi Peran Domestik dengan Pasangan

14 Jul 2018



3/ Sentot Joko, Pengusaha/Komisaris 3 Perusahaan:  Jadi Saling Mengisi


Seorang istri perlu mandiri secara finansial, karena jika terjadi sesuatu terhadap suaminya, maka ia akan sanggup membesarkan anak-anaknya tanpa harus meminta belas kasihan dari orang lain. Prinsip inilah yang sejak awal saya terapkan saat menikah dengan Anne Sri Arti, dua puluh lima tahun lalu.

Ketika beberapa tahun lalu istri memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di perusahaan perbankan dan memilih untuk memulai usaha sendiri, saya mendukungnya. Apalagi saat itu, usahanya yang bergerak di bidang pengolahan susu murni tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga membantu para peternak sapi di lingkungan tempat tinggal kami di Sukabumi.

Selama kegiatan tersebut positif kenapa harus dihambat? Apalagi itu kegiatan yang memberikan dampak positif dan luas untuk masyarakat banyak.

Meski begitu, membangun bisnis bukan hal mudah. Saya melihat bagaimana istri saya jatuh bangun dalam bisnis ini. Walaupun awalnya saya tidak terlibat langsung, akhirnya saya juga turut ikut dalam bisnis yang berada di bawah PT Makmur Agro Satwa. Istri yang memegang kendali usaha terutama dalam hal pemasaran, sedangkan saya membantu dalam bidang produksi. Kolaborasi ini yang menurut saya pada akhirnya membawa perusahaan terus berkembang.

Ya, saya akui, selama menjalani relasi kami, ada yang pro tapi tak sedikit juga yang kontra. Mungkin karena melihat istri saya yang lebih aktif keluar untuk bertemu dengan klien dan melobi mereka. Apalagi kini bisnis kami tidak hanya di bidang peternakan, tapi juga ke dunia pertanian lewat PT Mas Raja Agro Nusantara. 

Tapi ini justru membuat kami lebih fokus pada mengembangkan usaha yang kami miliki. Intinya adalah ketika saya mendukung istri menjalankan bisnisnya, maka saat itu pula saya harus memberikan kepercayaan
sehingga istri bisa mengembangkan usahanya, berimprovisasi dalam menjalankan kegiatannya tanpa harus diganggu oleh rasa curiga saya.

Toh, selama ini saya melihat istri saya tetap amanah pada suami dan keluarganya. Ia tidak melenceng dari koridor agama dan tidak keluar dari norma-norma sosial, jadi kenapa saya harus tidak mendukungnya.





 
Foto: Dok. Pribadi
 

Pengalaman selama ini, ketika istri harus bertemu dengan banyak klien, yang umumnya pria, ada saja memang klien-klien yang terkadang iseng. Nah, dalam situasi seperti inilah, saya berusaha untuk menyikapinya dengan bijak. Jangan sampai juga mencederai hubungan bisnis. Karena bagaimanapun sebagai suami saya harus bisa melindungi istri kan.

Tak dipungkiri, kesibukan istri dalam membangun bisnis tentu saja membuat waktu untuk keluarga menjadi terbatas. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah masalah. Intinya, dalam menjalankan kehidupan keluarga, kami berusaha berperan sesuai fungsinya. Suami istri adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Sebagai individu, masing-masing dari kami pasti punya kekurangan dan kelebihan, di sinilah kami saling melengkapi.

Bagi saya, dengan memberikan kebebasan pada istri untuk berkarya dan mengejar keinginannya justru saat itulah rumah tangga akan semakin kuat. Karena kami jadi saling mendukung dan ada komunikasi. Ketika membesarkan anak dengan waktu kami yang sama-sama terbatas, kami jadi menghargai quality time yang hanya sedikit itu.

Kami jadi perlu saling mengisi dan saling mengingatkan agar tetap ada waktu dan tidak perhatian kepada anak-anak. Kami harus berbagi tanggung jawab, karena dengan kesibukan masing-masing, tidak mungkin urusan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.

Saya meyakini, lingkungan keluarga akan memberikan pelajaran lebih kepada anak-anak. Terutama saat mereka akan membangun kehidupannya kelak. Anak pertama kami, drh. Arighi Geraudi, saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia, tumbuh dengan melihat relasi saya dan istri. Melihat ibunya sukses dalam membangun bisnisnya, ia bisa melihat bahwa pria dan wanita dapat berbagi peran dan sama, sehingga kelak ketika membangun rumah tangganya sendiri, ia bisa menjadi suami yang bijak dan berwawasan luas.

Begitu pula dengan anak perempuan kami, Lasata Larasati yang kini masih duduk di kelas satu SMA, kami mendorongnya untuk terus maju. Dalam hal pendidikan kami tentunya menginginkan pendidikan yang terbaik untuk mereka berdua. Tidak dibedakan antara anak laki-laki dan perempuan. (f)


Faunda Liswijayanti dan Citra Narada Putri

Baca juga:
Hati Pria Pun Bisa Patah: Pengakuan Pria Saat Cintanya Dikhianati
Psikolog Tika Bisono: Jangan Merusak Anak dengan Gadget
Penting untuk Orang Tua Masa Kini, Ini 4 Soft Skill Utama yang Perlu Dimiliki Anak Agar Mampu Bersaing dengan Teknologi Robot Cerdas
Kata Sahabat Femina: Ini Kisah Kami Punya Anak Semata Wayang
Kata Sahabat Femina: Ini Suka Duka Kami Terlahir Sebagai Anak Tunggal


Topic

#pernikahan, #masalahpernikahan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?