
Foto: Pixabay
Saya (31) dan suami (39) merindukan anak sejak pernikahan kami 5 tahun lalu. Berbagai cara sudah kami coba, termasuk 3 kali inseminasi, tapi belum berhasil juga. Dua minggu lalu kami gagal program bayi tabung. Padahal, untuk usaha itu, pengorbanan kami tidak main-main. Saya cuti di luar tanggungan selama 2 bulan, agar benar-benar siap. Belum lagi biaya besar yang terbuang percuma.
Bagaimana melewati kekecewaan ini dengan lebih ringan? Meskipun suami tabah, dan menghibur untuk mencoba lagi jika memiliki uang lebih, rasanya semangat hidup saya jauh berkurang.
Vania - Surabaya
Memiliki anak memang menjadi dambaan setiap pasangan. Namun, kehadiran seorang anak tidak hanya tergantung pada sisi fisik Anda berdua. Ini juga ketentuan dari yang Mahakuasa. Cobalah untuk banyak bertanya kepada berbagai pihak mengenai kemungkinan cara lain untuk mendapatkan anak, dan jangan lupa untuk selalu berdoa agar Tuhan berkenan memberikan anak.
Kesiapan Anda secara psikologis bisa memberikan dampak positif bagi keberhasilan upaya yang dilakukan. Setiap malam sebelum tidur, cobalah membayangkan bahwa Anda memiliki bayi. Bersikaplah lebih santai dalam menghadapi keadaan ini. Makin Anda tertekan dalam memenuhi keinginan ini, maka efeknya menjadi kurang positif. Sikap santai akan memberikan pengaruh yang sangat baik bagi kondisi hormonal Anda.
Untuk saat ini nikmati kehidupan berdua dengan suami. Syukuri saja Anda masih diberi kesempatan bisa berduaan dengan suami, tanpa harus pusing memikirkan anak. Lakukan petualangan atau perjalanan Anda berdua untuk meningkatkan keeratan, sehingga lebih siap jika nantinya dikaruniai anak. (f)
Baca juga:
3 Alasan Pentingnya Cek Kesehatan Bersama Pasangan Sebelum Menikah
Tong Phuoc Phuc ‘Malaikat’ bagi Bayi yang Tak Diinginkan
Ingin Mencoba Program Bayi Tabung? Baca Ini
2 Risiko Kehamilan di Usia 40 Tahun
Topic
#MasalahKeluarga, #MasalahPernikahan, #Pernikahan


